Waktu itu sudah dua bulan aku positif hamil. Tapi tiba-tiba saja mengalir darah yang membuatku berfikir bahwa aku tidak mungkin haid sementara aku sedang hamil. Aku pun teringat ketika aku keguguran dulu. Tetapi bidan yang menanganiku mengatakan bahwa kehamilanku masih positif sehingga dia memberiku obat penguat agar kehamilanku bisa bertahan.
Namun dalam tiga hari tidak ada tanda-tanda darah itu akan berhenti, bahkan semakin deras. Dan aku tidak bisa membohongi diriku sendiri memikirkan bagaimana ini akan berakhir. Subhanallah. Suamiku pun berkata, “Muti, sabar itu adalah pada hentakan pertama.” [1] Maka tidaklah ada yang aku harapkan pada hari-hari itu selain keputusan dari Allah.
Dan qadarallahu wa masya-a fa’al. Aku harus keguguran lagi. Tapi kali ini semua berjalan dengan lancar. Abortus komplit istilahnya, sehingga aku tidak perlu dikuret lagi seperti dulu. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.
***
Ketika aku sudah merasakan pegal-pegal dan mulas-mulas yang merupakan tanda-tanda keguguran akan segera menjelang, suamiku ikut berbaring di sampingku. Pagi itu dia agak mengantuk tapi aku membangunkannya karena airmataku sudah tak terbendung lagi. Dan tiba-tiba suamiku berkata, “Muti, inget nggak sebab turunnya surat Al Kautsar…”
Aku berhenti menangis dan mencoba mengingat bagaimana bunyi surat itu dulu sebelum mengingat sebab surat itu turun ketika suamiku langsung menyebutkannya dan mengartikannya,
“Inna a’thoynak al kautsar,” kata suamiku, “sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu al kautsar. Al kautsar itu nama sungai di Surga, Ti, nikmat yang sangat banyak (dalam terjemahan-pen).”
Dalam hati, aku ingat hadits tentang Al Kautsar ini. Alhamdulillah, beberapa minggu yang lalu ada kajian Ushulus Sunnah karya Imam Ahmad bin Hambal –rahimahullah- yang membahas hal ini di ma’had. Dan disebutkan bahwa setiap muslim wajib beriman kepada telaga Nabi -shalallahu ‘alayhi wasallam- yang setiap umat akan mendatanginya pada hari kiamat. Al Kautsar itu adalah sungai yang mengairi telaga Nabi -shalallahu ‘alayhi wasallam- yang barangsiapa meminum airnya maka ia tidak akan haus selamanya. Lebarnya seperti panjangnya yaitu seperti perjalanan satu bulan. Bejananya sebanyak bintang di langit. Airnya lebih putih dari susu, lebih wangi dari misk, dan rasanya lebih manis dari madu. Subhanallah…
“Fasholli li Rabbbika wanhar,” suamiku melanjutkan,”maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Inna syaani-aka huw al abtar, sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.”
Aku terdiam beberapa saat, mencoba mencari jawaban dari pertanyaan suamiku tentang sebab turunnya surat itu dan apa hubungannya dengan apa yang sedang aku alami ini ketika suamiku langsung berkata, “Waktu itu, Ibrahim anaknya Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wasallam- meninggal dunia. Waktu itu dia masih kecil…”
Aku pun teringat kisahnya.
***
Dari Anas –radhiyallahu’anhu-, sesungguhnya Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wasallam- masuk kepada anaknya Ibrahim -radhiyallahu’anhu- yang dalam keadaan menghembuskan nafasnya, maka kedua mata Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wasallam- meneteskan air mata. Lalu Abdurrahman bin Auf bertanya: “Dan anda wahai Rasulullah (menangis)?!” Maka beliau bersabda: “Wahai bin Auf, sesungguhnya (air mata) ini adalah (tanda) kasih sayang.” Beliau mengulanginya sekali lagi dan bersabda: “Sesungguhnya mata akan menangis, hati akan sedih, akan tetapi kita tidak mengatakan melainkan apa yang menjadikan Rabb kita ridho, dan sesungguhnya kami dengan perpisahanmu wahai Ibrahim, merasa sedih. [Hadits Riwayat Bukhari, Muslim]
***
Suamiku berkata, “Kebayang kan, Ti, sedihnya Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wasallam-?! Udah lahir gitu lho… Jadi apa yang kita alami ini belum seberapa.”
Dalam hati, iya ya, tentu Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wasallam- sedih sekali melihat anaknya yang masih kecil itu dalam keadan sekarat, sampai-sampai para sahabat bingung melihat beliau menangis. Yah, namanya juga anak, meninggalnya di depan mata pula. Apalagi beliau kan nggak punya anak laki-laki yang sempat dewasa. Semuanya meninggal dunia di waktu kecil.
“Bagi orang Arab…,” sambung suamiku. ”punya anak laki-laki itu penting untuk melanjutkan nasab atau keturunan. Dan waktu Ibrahim meninggal, orang-orang yang membenci Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wasallam- merasa senang, mereka pun meneriakkan `Muhammad terputus, Muhammad terputus!’ Maksudnya nasab Muhammad telah terputus. Trus Allah Tahu betapa sedihnya RasulNya -shalallahu ‘alayhi wasallam- itu, baik karena kehilangan Ibrahim maupun perkataan mereka yang menyakitkan itu, maka turunlah surat Al Kautsar ini, bahwa orang-orang yang membenci beliaulah yang terputus, maksudnya dari rahmat Allah. Dan atas kepergian Ibrahim, Allah telah menggantikannya dengan Al Kautsar, yaitu nikmat yang sangat banyak…”
Subhanallah. Walaupun aku pernah mendengar kisah itu sebelumnya, tapi aku sungguh terharu waktu mendengarnya sekali lagi. Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wasallam- mungkin terharu juga kali ya?! Karena telah digantikan kehilangan yang besar itu dengan suatu kenikamatan yang besar juga oleh Allah.
“Jadi…” sambung suamiku, “nggak apa-apa kalau kita belum dikasih anak sekarang. Semoga Allah menggantikannya dengan yang lebih baik. Mungkin keguguran justru yang terbaik buat kita. Seperti mungkin meninggalnya Ibrahim juga yang terbaik buat Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wasallam- dan umat ini.”
Dalam hati, iya ya… pasti ada hikmah yang besar di balik keguguranku ini. Dan salah satunya adalah bahwa suamiku hebat, pinter bikin aku semangat. Alhamdulillah. Jazakallahu khayr ya zawjiy.
Semoga Allah menggantikan kehilangan ini dengan yang lebih baik…
-Mutiara-
Footnote:
1. Hadits Riwayat Muslim
assalamu’alaikum
ukhti, blognya bagus ana mengambil faidah drnya. barokallahu fik.
zadaakillah ilman, taqwan wa waro…
salam kenal.
Ummu Aisyah
assalamu’alaykum
arrrrgh,mo nangis hicks hicks eh jadi nagis deh…beneran nih terharu,,,moga ajah kalo saya nikah dapet istri yang bisa ngingetin sayah yang lagi salah,doakan yah mba
-ndi-
Subhannallah…indah sekali tulisan mbak Mutiara…sampai air mata ana gak bisa terbendung lagi…ana pernah bermimpi ada seseorang menawarkan air minum dr sebuah bejana di sisi danau yang sangat indah, lalu ana bertanya air apa ini? Dan dia menjawab ini adalah air dari sebuah danau di surga, lalu ana meminumnya..ana bisa merasakan airnya yang segar, lembut di lidah dan rasa manis dan aroma yang harum…seperti madu tapi bukan madu…suatu kenikmatan yang besar walaupun hanya dalam mimpi.. Memang mimpi tdk bisa dijadikan hujjah, namun memberi semangat bagi ana untuk menjadi insan kamil..untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dengan ibadah dan taqwa.
Mbak Mutiara yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala..semoga tulisan2 mbak dapat menjadi ibrah bagi kami semua..Jazzakillah khayr katsir yaa ukhti..
@ ummu haura
wa iyyaki…
ana jadi baca lagi tulisan ana ini… jadi ikutan berlinang airmata lagi… bukan karena sedih, tapi terharu dengan doa ana sendiri…
mudah2an sumayyah jadi anak shalihah… aamiin…