Semester awal perkuliahan, suamiku selalu pulang menjelang tengah malam untuk beberapa hari setiap minggunya. Kadang-kadang ia harus pulang semalam itu karena membantu penyutingan kajian islam ilmiah di masjid ma’had setiap ba’da maghrib, dan kadang-kadang hanya untuk belajar bersama teman-temannya di sakan (asrama). Padahal waktu itu kami baru saja hidup berumah tangga, belajar mandiri, jauh dari orangtua. Otomatis setiap dia nggak ada, aku jadi sendirian di rumah..
Dulu, waktu masih tinggal di rumah orangtuaku, suamiku juga suka pulang malam. Apalagi waktu itu kami baru saja menikah! Iya, suamiku itu memang yang paling setia sama teman-temannya. Setiap kali teman-temannya itu ngajak pergi ke suatu tempat untuk suatu urusan, suamiku nggak pernah menolak walaupun harus berhadapan dengan wajah cemberutku ketika pulang. Aku sering kesal dibuatnya! Tapi lama kelamaan aku capek sendiri, dan membiarkan ia melakukan apa saja yang ia mau dengan teman-temannya. Toh aku istrinya, pasti pulangnya ke aku juga. Toh dia salafiy [1], teman-temannya itu juga salafiy, paling ngapain sih?!
Dan alhamdulillah… berbekal pemikiran seperti itu, sekarang walaupun ditinggal suamiku sampai larut malam untuk urusan apapun, aku jadi nggak terlalu pusing memikirkannya, padahal sekarang aku sendirian, kalau dulu kan aku masih tinggal bersama keluargaku, apalagi karena aku ingat pesan ibuku…
***
Waktu itu dunia selebritis lagi heboh. Banyak terjadi perceraian padahal usia pernikahan mereka baru seumur jagung bahkan ada yang sudah cukup lama usia pernikahannya. Padahal kan yang sudah lama menikah seharusnya lebih bijaksana. Herannya, rata-rata yang menuntut cerai itu para istri, dengan alasan (atau tuduhan) sang suami punya wanita idaman lain! Wallahua’lam.
Kata ibuku, biasanya kalau rumah tangga nggak langgeng itu pasti karena istrinya. Kalau istrinya nggak pinter-pinter merawat suami ya kayak selebritis-selebritis itu jadinya, menuntut cerai untuk menutupi kesalahan yang sebenarnya ada sama dia. Coba kalau istrinya dandan yang rapi, rumah juga rapi, masak yang enak, suami pasti betah di rumah, nggak keluyuran cari kesenangan di tempat lain.
Serius amat deh ibuku waktu itu ngomongnya!
“Iya…” lanjut ibuku,”… kalaupun suami itu ada perlunya ke luar, ke mana, mau satu hari kek, dua hari, biarkan aja dia pergi! Kayak main layangan, biarkan aja dia terbang tinggi, terserah mau ke mana, tapi benangnya tetap kita pegang…” kata ibuku sambil memeragakan menarik benang layang-layang yang terbang tinggi.
***
Benang yang dimaksud ibuku adalah cara kita melayani suami. Dandan yang rapi supaya nggak melirik ke yang dandan rapi juga lainnya. Masak yang enak supaya nggak makan di yang masak enak juga lainnya. Rumah diatur yang rapi supaya nggak betah di tempat yang rapi juga lainnya. Dengan begitu, insya Allah, suami akan selalu kangen untuk pulang. Setidaknya ia akan merasa malu karena istrinya sudah susah payah melakukan semuanya untuk dia, tapi apa yang dia lakukan untuk istrinya?!
Jadi kupeganglah benang itu. Karena layang-layang nggak akan terbang selamanya, kecuali kalau dilepas benangnya atau ada “benang” lain yang lebih kuat memutuskannya…
-Mutiara-
*Footnote
1. Salafiy: penisbatan kepada as-salafush-shalih (orang-orang terdahulu yang shalih), atau orang yang bermanhaj salaf yaitu orang yang berusaha menjalankan agama dengan metode atau cara berislamnya as-salafush-shalih, yang terdiri dari para sahabat –radhiyallahu’anhum-, dan generasi setelahnya, dan generasi setelahnya yang dipuji Rasulullah –shallallahu’alayhi wa sallam- sebagai generasi terbaik Islam.
benar-benar resep yang patut ditiru.moga mblayangnya suami dijalan allah