Waktu aku harus operasi kuretase setelah keguguran, aku menginap di rumah sakit karena operasi akan dilangsungkan pagi hari. Kamar kelas tiga tempat aku menginap yang terdiri dari tiga tempat tidur itu masing-masingnya tertutup kordin di sekelilingnya dan semuanya telah terisi. Butuh waktu lama bagiku yang ditempatkan di tempat tidur yang tengah itu untuk menyadari bahwa ternyata kamar kelas tiga itu adalah kamar bersalin yang berarti kedua wanita di sebelahku akan segera melahirkan!
Iya, malam itu sangat mencekam karena teriakan-teriakan yang aku tahu pasti sumbernya dari mana itu terdengar tepat di telinga kanan dan kiriku. Sementara aku baru saja keguguran, aku nyengir sendiri dan berusaha meyakinkan hatiku, iyaaa aku pingin tetap punya anak! Kabulkanlah ya Allah… Aamiin.
***
Walaupun sang suami menemani dan juga para suster berada di dekatnya, ibu di tempat tidur sebelah kiriku itu tidak juga bisa tenang. Sesekali dia bilang, “Aduuuuh… Aduuuh”. Sesekali agak berteriak, “Aaaagh…. Aaaagh”. Suster sering sekali melarang dia agar tidak mengeluarkan suara keras karena akan menguras tenaganya untuk melahirkan nanti. Tapi dia tidak bisa diam juga. Suster yang lain pun menganjurkannya untuk berjalan-jalan supaya tidak terlalu terasa sakitnya. Tapi dia bilang malah tambah sakit. Sang suami pun sering mengajaknya bicara supaya sakitnya bisa teralihkan.
Malam pun sudah makin larut ketika aku hanya bisa mendengar semua kejadian itu dari balik korden saja. Yaitu ketika sakit yang dirasakan ibu itu hampir tidak tertahankan lagi, akhirnya dia menyerah, “Dokter, udah deh… operasi aja!” katanya sambil terengah-engah. Dokter pun menginstruksikan para suster untuk menyiapkan ruang operasi dan suster-suster itu pun segera mengambil tindakan.
Ketika dokter dan para suster meninggalkan sang ibu dan suaminya itu untuk menuju kamar operasi lebih dulu, aku sungguh tak percaya apa yang kudengar ketika sang suami berkata kepada istrinya yang sedang hamil anak ketiganya itu, “Yaaah… cemen!”
Subhanallah. Tak ada yang bisa kukatakan dalam hati selain… YaNg bENeR AJe?! Istrinya udah susah payah nahan sakit sampe nggak tahan gitu malah dia bilang “cemen”! Apa dia nggak tau sakitnya kayak gimana?! Emang nggak tau sih, dia kan laki-laki, nggak akan pernah mungkin melahirkan. Tapi kan istrinya hamil gara-gara dia!
Emang sih aku akui waktu aku mendengarnya aku juga sempat ketawa, abisnya aku takjub gitu lho sama ucapan suaminya itu! Lagian lumayan buat refreshing, kan malam itu aku tegang mau dioperasi dan juga tegang mendengar teriakan-teriakan ibu-ibu yang akan melahirkan itu. Tapi aku mengecam keras ucapannya itu! Suamiku aja kaget mendengar ceritaku walau ikut ketawa juga. “Awas ya kalau Muti harus ceasar nanti ngomong gitu!” ancamku. Diapun menyahut sambil nyengir, “Ya enggak lah. Tapi nanti Abang tunggu di luar aja ya?!” He he he…
***
Lain di kiri, lain di kanan. Ibu yang di sebelah kananku itu lebih tenang dan lebih patuh sama suster. Ketika dia mengerang kesakitan, “Aduuuh… susteeer… sakiiit.”, susternya berkata, “Ibu jangan teriak-teriak, nanti tenaganya habis.” Maka diamlah ibu itu. Beberapa lama kemudian sang ibu teriak lagi, “Aduuuh… susteeer… sakiiit.” dan susternya berkata lagi, “Ibu jangan teriak-teriak, nanti tenaganya habis.” Maka diamlah ibu itu lagi. Tapi sekali lagi “Aduuuh… susteeer… sakiiit.” dan susternya berkata sekali lagi , “Ibu jangan teriak-teriak, nanti tenaganya habis.” Maka diamlah ibu itu sekali lagi. Dan itu terus berlangsung sampai akhirnya dia melahirkan dengan normal di pagi hari. Alhamdulillah.
Dari balik korden itulah pertama kali aku mendengar suara bayi yang baru lahir. Ternyata suaranya “Oek… oek…” kayak di film-film, tapi ini asli kudengar dengan telingaku sendiri. Subhanallah. Yah, Insya Allah nanti aku juga punya sendiri yang suaranya kayak gitu. Aamiin.
Dan pertanyaan pun bergulir… Yakin nih pingin lahir normal?! He he he…
Yah, emang sih sakitnya melahirkan itu kayaknya teramat sangat luar biasa sekali, tapi kalau bayinya udah lahir jadi kebayar kali ya?! Asal jangan dibilang “Cemen!” aja! Sakit yang itu sih kayaknya nggak akan hilang deh.
***
… Hamalathu ummuhu wahnan ‘ala wahnin… ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). [Al Ahqaaf: 15]
- Mutiara-
Bagus banget tulisannya….
hehe.ehee. jadi senyum sendiri pas baca di bagian “cemen”
he.e.e.e
moga bisa aku jadiin ibroh ya…
yadhie
masyaAllah,,,,
memang benar2 luar biasa perjuangan nya….
masya Allah… dua peristiwa yang berbeda…
Tapi beneran jadi pelajaran nih…
:)
sekali2..laki2 juga harus merasakan sakitnya melahirkan…
biar ga mudah bilang cemen…:P
Masya Allah ga nyangka banyak kesamaan pd kisah hidup kita ukh…walopun baru td kenalan lwt chating, serasa punya temen senasib nih..
sama2 jualan di blog, sama2 pilih theme mistylook, sama2 pernah keguguran trus sama apalagi ya :D
Cerita ttg keguguran n riwayat kehamilan blm sempet sy posting, cmn ada di memori…tapi kur-leb sama.
Saya juga sering ngalamin kisah di balik korden gini…
Pantas lah bila “syurga di bawah telapak kaki ibu”
Saya ketawa di bagian “cemen” itu, terutama yang ini :
“Emang nggak tau sih, dia kan laki-laki, nggak akan pernah mungkin melahirkan. Tapi kan istrinya hamil gara-gara dia!”
Tidak ada yg tidak tahu hal ini, tapi ketika diungkapkan menjadi sebuah kata-kata, dahsyat sekaligus menggelikan. Menyentuh hati (saya).
Terima kasih postingannya, jazakumullahu khoirol jaza…
Postingan ini berkata kepada saya,”Kamu harus lebih sayang dengan ibumu..”
Juga ibroh untuk nanti ketika berumah tangga…
Sal
@ sal
masya Allah dek sal, komentarnya bikin saya membaca lagi tulisan saya ini. dan komentar saya: “dahsyat sekaligus menggelikan. menyentuh hati saya”.
Allah yubarik fik!
Assalamualaikum..
Allah memberi hadiah pahala mati syahid kepada wanita yang meninggal ketika melahirkan..
Baca postingan ini ane jadi kpikiran bagaimana ibu ketika melahirkan ane dulu y..
Subhanallah!
Kalo boleh tanya cemen itu artinya apa sh?
Baru pertama baca :)
wa’alaykumussalaam wa rahmatullah…
cemen itu artinya payah.
Oo..payah ya
Syukron
Assalamu’alaikum ……
Waduuu…h disangkain cerita horor. ngeliat penampakan di
balik korden ruang bersalin. hehe…. gak taunya cerita lucu.
Iya emang sakiit banget, udah antara hidup dan mati masih
dibilang “cemen”.
Wassalam.
@vita
hehehe… ahlan ummu afifah… akhirnya komen juga… ditunggu blognya bu!