Waktu pertama kali aku pulang ke Jakarta, setelah dua bulan lebih di Surabaya, tidak banyak yang bisa kuceritakan kepada keluarga dan teman-temanku tentang makanan apa saja yang telah aku cicipi di sana. Daerah mana yang telah kukunjungi saja aku tidak bisa menjawabnya. Karena tempat-tempat yang pernah aku datangi di Surabaya hanyalah Bandara Juanda ketika pertama kali aku sampai dari Jakarta, Pasar Turi ketika aku membeli peralatan rumah tangga yang belum ada keesokan harinya, Masjid Baiturrahman di Jalan Juwingan ketika ada pengajian di sana, dan Indomaret ketika aku ingin sekali-sekali belanja di tempat yang ada AC-nya. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.
Sebenarnya sih untuk jalan-jalan dan mencicipi makanan Surabaya bisa kapan saja. Karena suamiku libur tiap hari Sabtu dan Minggu. Dan sehari-hari pun suamiku pulang cepat, jam setengah dua siang. Tapi yang jadi masalah sebenarnya itu kendarannya. Waktu naik angkot ke Pasar Turi saja perasaan kok yo mewuter-mewuter angkote, ngono lho?! Waktu ke Jalan Juwingan juga agak-agak nyasar sampai-sampai kami meneruskan perjalanan naik becak, jadi serasa turis gitu di tengah kota naik becak! Waktu ke Indomaret juga kami harus naik sepeda, soalnya kalau naik angkot harus mewuter-mewuter lagi, padahal nggak terlalu jauh Indomaret-nya. Kalau naik becak, jalurnya juga sama kayak naik angkot, wah, entah berapa itu ongkosnya! Kalau naik sepeda kan lebih romantis… Walaupun pulangnya ada yang minta dipijetin!
Intinya… aku nggak punya banyak cerita tentang Surabaya, apalagi tentang makanannya. Kalaupun ada warung-warung makanan dekat rumah kontrakan kami, di Jakarta juga banyak yang jual makanan itu, nggak ada yang spesial. Soto ayam, sate ayam, mie goreng, nasi goreng… aku juga bisa bikin sendiri! Lagian aku juga nggak begitu penasaran kok untuk mencicipi makanan khas Surabaya, sampai suatu hari temanku mengirim email.
Waktu itu aku membacanya ketika aku di Jakarta. Dia kaget mengetahui aku tinggal di Surabaya sekarang dan bertanya, “Udah nyobain lontong balap belum?!”
Mungkin dia sedikit basa-basi ketika menanyakan hal itu, tapi dalam hatiku… Lontong balap? Kayaknya aku pernah denger deh “lontong balap” tapi aku nggak tau kalo itu makanan khas Surabaya. Pasti terkenal sekali makanan itu sampe aku ditanyain udah nyobain atau belum! Dan gengsi juga nih kalo bilang belum pernah makan, udah dua bulan gitu lho di Surabaya!
Akhirnya email itu nggak aku balas. Tapi sejak itu aku mulai membayangkan seperti apa rupa lontong balap itu. Aku pun berkata pada suamiku, “Abang, nanti kalau kita udah di Surabaya lagi, cobain lontong balap yuk!” Suamiku pun setuju dan ikut antusias.
Sekembalinya aku ke Surabaya, semuanya kembali seperti semula. Aku sibuk di rumah dan suamiku sibuk dengan kuliahnya. Tanpa aku sadari aku telah lupa pada keinginanku untuk mencicipi lontong balap. Satu bulan sampai dua bulan berlalu, aku sama sekali tidak mengingatnya, suamiku pun mungkin sudah lupa juga sampai kami tidak saling mengingatkan. Dan warung-warung pinggir jalan yang aku lalui pun kayaknya nggak pernah ada tulisan “lontong balap” deh! Kalau ada kan pasti aku langsung ingat. Mungkin dia tidak setenar itu kali ya?! Bahkan sampai aku pulang ke Jakarta lagi lebaran kemarin, aku benar-benar telah lupa padanya. Padahal waktu itu aku sampai tiga bulan di Surabaya. Lontong balap pun mungkin sudah putus harapan sama aku…
***
Pagi itu Surabaya mendung. Sebulan sejak kedatangan kami lagi ke kota ini memang sudah terasa musim hujan akan segera tiba.
Waktu itu aku ingin membeli sesuatu di warung. Setelah aku mendapatkannya, aku melihat tetanggaku sedang menyapu dan anaknya sedang bermain-main. Aku pun menghampiri mereka karena memang sudah cukup lama dia tidak main ke rumahku.
Namanya Ummu Unaisah. Setelah menjawab salamku dia langsung berkata dengan logat Surabaya-nya, “Laghi bhersih-bhersih, Ukh, udhah lama dhitingghal.” Aku pun bertanya, “Emang anti kemana aja?” Dia pun menjawab bahwa dia menginap di rumah kakaknya selama beberapa hari.
Sambil menyapu, Ummu Unaisah sesekali mendatangi kompornya. Kompor itu berada di teras depan rumahnya, di dalam lemari yang terbuat dari triplek dan pintunya menghadap ke atas agar ia dapat langsung memasak tanpa harus mengeluarkan kompor itu. Dia menjadikannya seperti itu agar tidak berbahaya kalau anaknya bermain-main dekat kompor dan juga agar tidak dicuri orang. Dia memang memasak di teras karena tidak ada ruang untuk dapur di dalam rumah kontrakannya itu…
Rupanya Ummu Unaisah lagi menumis bumbu dan aku tahu yang dia tumis itu bawang merah dan bawang putih dari wanginya. Aku pun mendekat memperhatikan kompor minyak yang saling berdampingan itu dan berkata, “Ooo, anti punya dua kompor ya…” Dan aku melihat pada kompor yang satu lagi ada tauge yang sedang direbus. Sedikit basa-basi aku bertanya, “Masak apa, Ukh?” Dia pun menjawab, “Lontong bhalap.”
Jeng jeng! Tiba-tiba saja aku merasakan kerinduan menyeruak di hati dan pikiranku… Lontong balap?! Apakah benar yang aku dengar ini?! Oh lontong balap, kaukah itu? Yang tanpa kusadari telah kulupakan namun sesungguhnya aku selalu menginginkanmu selama ini, wahai lontong balap…
Aku mencoba menenangkan diri walaupun dengan begitu menggebu-gebu aku berkata, “Gimana bikinnya, Ukh?” Dia pun menjawab, “Ghampang…”
***
Bahan:
1> lontong, beli jadi, potong-potong
(beli 1000 dapat dua bungkus untuk berdua sekali makan)
2>tahu, potong dadu 2 x 2 cm, goreng
(beli 500 dapat 2 potong masing-masing bagi 12)
3> bawang merah 5, bawang putih 5, cabe rawit 1, garam 1 sdt, haluskan
4> bawang prei 1 batang, seledri 1 batang, potong kasar
5> air 750 ml
6> tauge, siangi
(beli 200 juga udah banyak, kalau kebanyakan capek nyianginnya!)
7> kecap manis 5 sdm
Cara membuat:
1> tumis bumbu halus dan potongan bawang prei-seledri sampai wangi, sisihkan.
2> rebus air sampai mendidih, masukkan tauge dan tumisan bumbu, aduk rata.
3> tambahkan kecap manis, aduk rata.
4> cicipi rasanya, tambahkan rasa yang perlu ditambahkan sampai enak.
5> sediakan lontong dan tahu goreng di dalam piring,
6> siramkan kuah bersama taugenya, dan siap disajikan bersama saus sambal dan kecap.
Tips Ummu Unaisah: Kalau ditambah mie namanya lontong mie.
Kata Ummu Faruq: Tambahkan petis untuk lontong balap yang lebih enak.
***
Hari Ahad siang, suamiku yang kelaparan aku larang untuk mengintip apa yang sedang kumasak waktu itu karena sejak kemarin aku sudah bilang padanya bahwa aku mau membuat makanan yang istimewa untuknya hari itu. Dan ketika aku menyajikannya, seperti biasa dia memuji masakanku dan langsung memakannya dengan lahap tanpa bertanya masakan apa yang kubikin kali itu.
Aku pun langsung protes, “Kok nggak nanya sih ini apaan?” Mungkin saking laparnya sampai dia nggak peduli makanan apa yang dia makan waktu itu.
Dia pun nyengir dan berkata, “Oh iya ya… ini apa ya, Ti? Kok enak.” sambil terus memakannya tanpa aku tahu sebenarnya… dia niat nggak sih nanya?! Tapi nggak apa-apa deh yang penting udah dibilang enak.
Aku pun nyengir dan berkata dengan bangga, “Lontong balap!”
Suamiku kaget dan tersenyum lebar. “Ooo, ini tho lontong balap…” katanya, “Zeeeiiin…” [1]
Kami pun memakannya sampai habis.
-Mutiara-
Footnote:
1. Zeeeiiin dari kata “zayn”: bagus, baik, oke, pokoknya sip deh! (bahasa Arab)
gimana sich rasanya lontong balap????? 2 taon disurabaya padahal saya.
rasanya ladzidzun jiddan, tapi tergantung siapa yang bikin…
mending 2 taun, saya yang 4 taun di surabaya saja nggak tau makanan apa lontong balap itu…
mba mutiara dah nuha coba,hmmmmm yummy,nuha cp ya resepnya di dapur nuha -^-^-
Assalamu’alaykum,,, Bc tulisan ini jd rindu Lontong Balap + smbal petis yg pedes bgt bikinan Mbah putri. Pokoké uuenak tenan dech,,,! Bwt mba’ Muti slm ta’aruf ya. Tulisannya bagus dan lucu2. “JENG-JENG”nya itu loh yg bikin kangen, hehehe,,,