Waktu itu aku diberitahu bahwa aku punya tetangga baru, sepasang suami istri juga. Dan seperti waktu aku baru datang ke gedung itu, ibu-ibu tetangga di lantai bawah mampir berkenalan ke rumahku, jadi aku pikir mungkin aku pun harus mampir berkenalan ke rumahnya berhubung dia lah tetangga terdekatku satu-satunya di lantai itu karena ruangan lain masih belum ada yang mengisi bahkan masih dibangun.
Tetangga baruku itu tidak menyewa ruangan seperti yang aku sewa. Tempat tinggalku, alhamdulillah, walaupun hanya sebesar kamarku di rumah orangtuaku dulu tetapi terdiri dari ruang tamu, kamar tidur, dapur dan kamar mandi. Sementara tetanggaku itu memilih tempat tinggal yang lebih kecil yang kalau boleh kusebut hanyalah sebuah kamar, bukan rumah. Kamar mandinya pun terpisah di luar. Dan di dekat kamar mandi itu ada sepetak tempat yang di situ lah ia bisa memasak.
Jadi… waktu suaminya nggak ada di rumah, kuketuklah pintunya sambil membayangkan betapa asyiknya aku akan bersahabat dengan tetangga baruku itu. Aku akan sering ngerumpi dengannya di sela-sela waktu kami di rumahnya atau di rumahku sambil menunggu suami kami pulang dari beraktivitas, pikirku. Wah bakalan seru deh kayaknya! Tetapi ketika dia membuka pintu itu, aku merasa dia berat hati sekali mengajakku masuk ke rumahnya. Sesekali dia melihat ke dalam dan sesekali dia melihatku.
“Lagi ngapain, ukhtiy [1]? Ganggu nggak nih?!” kataku membuka pembicaran di depan pintunya sambil sedikit celingak-celinguk. Siapa tahu saja dia sedang melakukan sesuatu yang kedatanganku membuatnya terganggu. Dan kalau memang begitu aku nggak masalah kok kalau harus pulang lagi, wong cuma sepuluh langkah.
“Ah, ndak apa-apa… Tapi afwan [2], lagi berantakan…” katanya sambil memiringkan badannya mempersilahkan aku untuk masuk.
Dan ketika aku masuk… Subhanallah, aku baru menyadari betapa konyolnya aku ini.
Ruangan itu hanya 4 x 4 dan aku berkunjung ke sana?! Di mana kau harapkan dia akan menyambutmu, tanyaku pada diri sendiri. Di ruang tamu dengan sofa dan meja bervas bunga?! Di ruang makan dengan kitchen set dan bar kecil menghadap ruang tamunya?! Di taman belakang rumah dengan pemandangan koleksi anggrek ungu di atas kolam ikan hiasnya?!
Subhanallah… kamar itu hanyalah kamar, yang berusaha dia dan suaminya jadikan sebuah ruang tidur dan sebuah lagi untuk ruangan lain, entah ruang apa yang cocok untuk namanya. Pembatasnya pun hanyalah sebuah kain batik yang tergantung dari ujung ke ujung yang walaupun cukup panjang dan lebar untuk menutupi kasur mereka tetapi sesekali kain itu tersibak angin dan nampaklah kasur kapuk tak bersprei itu. Sementara ruangan yang entah ruang apa namanya ini -tempat dia menerimaku sebagai tamu- penuh dengan alat-alat dapur dan barang-barang lainnya yang entah mau diletakkan di mana lagi. Bisa dibayangkan, kamar itu hanya 4 x 4 meter saja. Itu terlalu kecil untuk sebuah rumah tangga, apalagi sebuah keluarga karena sebulan lagi buah hati mereka akan lahir. Subhanallah…
Percakapan pun akhirnya aku persingkat karena khawatir dia merasa tidak nyaman dengan kehadiranku, dan kebetulan juga suaminya sudah pulang.
Dalam hati… subhanallah, betapa hidup ini adalah perjuangan. Semoga Allah memudahkan segala urusanku dan urusan mereka… Aamiin.
***
Siangnya suamiku pulang. Dan sambil menikmati makan siang aku menceritakan betapa salutnya aku terhadap tetangga baru kami itu kepada suamiku. Betapa sang istri adalah seorang yang qana’ah dalam menjalani hidup seperti yang kulihat di rumahnya dan betapa sang suami berbekal niat suci menikahinya karena Allah itu (insya Allah) sampai harus cuti dari kuliahnya dan berusaha kecil-kecilan untuk menghidupi keluarganya. Aku sungguh tidak menyangka ternyata ada juga orang yang hidup seperti itu (ini pujian, insya Allah).
Suamiku pun berdecak kagum dan sesekali menggeleng-geleng kepala membayangkan keadaan mereka.
Aku pun mengatakan kepada suamiku bahwa aku telah mengajak sang isteri untuk main ke rumah kami kalau saja dia merasa suntuk atau bosan sendirian, mungkin untuk memasak sama-sama di dapurku yang walaupun sederhana tetapi bertempat di dalam ruangan tertutup, aman dari laki-laki yang bukan mahromnya. Atau mungkin dia mau main ke rumah kami ini hanya sekedar untuk cari udara segar saja karena dia tidak memiliki kipas angin, sementara iki Suroboyo, rek! Dan ketika aku harus pulang karena suaminya datang, kukatakan pada suaminya itu untuk mengizinkan istrinya datang kerumah kami kapan saja bila dia membutuhkan sesuatu.
Alhamdulillah, suamiku ridha. Tapi di akhir ceritaku tentang tetangga baru kami itu, tiba-tiba suamiku berkata, “Kalau kita hidup kayak gitu, muti sanggup nggak ya?!”. Matanya menerawang jauh walaupun tertuju padaku.
Aku terdiam beberapa saat. Tak terlintas sedikit pun di pikiranku akan ada pertanyaan seperti itu. Aku pun berusaha membayangkannya, tapi tidak bisa. Lalu kukatakan pada suamiku, “Yah… mungkin memang seseorang itu dibebankan dengan sesuatu yang sesuai dengan kemampuannya. Mungkin segitu yang dikasih Allah buat dia ya karena Allah Tahu dia mampu. Dan segini yang dikasih Allah buat Muti ya karena mungkin seginilah mampunya Muti. Kalau Abang tanya ‘sanggup nggak Muti hidup kayak gitu?’ Ya kalau memang Muti dikasih Allah-nya kayak gitu ya berarti Muti sanggup, tapi kalau enggak ya mungkin enggak atau belum aja. Wallahua’lam.”
Suamiku pun mengangguk-ngangguk…
“Allah kan emang udah yang Maha Adil… Alhamdulillah ‘ala kulli hal.” sambungku.
“Alhamdulillah…” sahut suamiku sambil melanjutkan makan siangnya.
Aku pun melanjutkan makanku juga, dan berkata lagi, “Iya, alhamdulillah… gitu-gitu tidurnya di kasur lho dia!”
Suamiku melirikku. “Maksudnya?!” tanyanya sambil nyengir. Rupanya suamiku kesindir, soalnya tempat tidur kami yang dibelinya di Pasar Turi itu (hanya) kasur tipis yang brunjul-brunjul itu lho, entah apa istilahnya.
Sambil nyengir aku pun menjawab, “He he… maksud muti, belum tentu dia sanggup kalo nggak punya kasur. Tapi kalau muti sih Alhamdulillah.”
“Ooo….” Kata suamiku menahan senyum sambil mengangguk-ngangguk.
***
Laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa… Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya [Al Qur’an, Surat Al Baqarah ayat 286]
-Mutiara-
*Footnote
1. Ukhtiy: saudariku (bahasa Arab)
2. Afwan: maafkanlah saya (bahasa Arab)
muti thx ya utk ceritanya
gmn kabar km? suami km baik hati kan? :) km bahagia kan dgnya? jgn marah
rgrds
me
salam kenal mbak Muti. Subhanallah..smoga istiqomah. Amin
Assalamu’alaykum
Salam kenal ukh Mutiara
Artikelnya bermanfaat dan indah ;)
assalamu’alaikum
masya Allah tulisan isteri Antum bagus benar, menceritakan kisah nyata yang mungkin bisa di angkat lewat layar sinetron…he..he… BaarakaLlahu fii kuma …semoga kalian tetap istiqamah di dalam dakwah dan manhaj yang shahih. Salam dari kami sekeluarga…terlebih dari zawjatii(Ummu Nabiilah) to ..Ukhti “MUTI” (duh kasihan nama yang bagus koq di panggil MUTI???) tolong mas Alfi namanya dipanggil yang indah misalnya dinda…yayang…or…or..
Wassalamu;alaikum WRWB
Assalamu’alaikum, ana punya zaujah orang awam, dia dulu bekerja di luar rumah terus ana larang, sekarang dia suruh ana yg bayarin hutang2nya karena dia gak bekerja lagi. Ana bingung, tolong ukhti kasih masukannya buat masalah ana ini. Jazakillah Khoir wa Barokallahu fiiki
Wassalamu’alaikum.
@ibn cipto
wa’alaykumussalaam wa rahmatullah… ya akhi, ana yakin antum punya alasan tertentu kenapa meminta zaujah antum untuk berhenti kerja, dan tentu telah memikirkan manfaat dan mudharat yang ada setelah itu. karenanya, bertakwalah antum kepada ALlah dan bersabarlah, serta bersyukurlah antum karena istri antum nurut sama antum untuk melakukan yang antum minta. wallahua’lam bis showab.
ceritanya menyentuh sekali ukhty…. memana kita harus sering melihat kebawah, agar lebih pintar bersyukur… aplgi wanita sudah dijelasin di hadits lebih susah bersyukurnya.. jika ada sedikit keburukan pada zauj maka dia akan berkata “tidak ada kebaikan padamu sedikitpun” inilah sebabnya knapa panghuni neraka plg banyak adl wanita. smoga Allh mudahkan kita tuk slalu perbaiki diri mrnjadi mutiara bagi suami kita ^_^
http://www.roihan.wordpress.com
assalaamu’alayki…
salam kenal ukh… Subhanalloh cerita2 ukhti menyentuh qolbu.. mudah2an kita bisa senantiasa qona’ah..
Alhamdulillah ‘ala kulli hal