Shofiyyah adalah tetanggaku yang tinggal persis di sebelah rumahku. Suaminya dulu sama-sama pernah di Jepang dengan suamiku, tetapi mereka tidak pernah bertemu di sana, karena ketika suaminya sampai di Jepang, suamiku sudah kembali ke Indonesia. Dulu mereka sama-sama belum menikah. Dan ketika mengetahui bahwa suamiku belajar Bahasa Arab di Surabaya dan sudah menikah, suami Shofiyyah pun tertarik untuk mengikuti jejaknya. Oleh karena itu suamiku mencarikan rumah kontrakan untuknya, yaitu tepat di sebelah rumah kami yang memang masih kosong untuk ditempati. Sebenarnya banyak juga peminat rumah itu, tetapi karena telah ada perjanjian antara suamiku dan pemilik kontrakan itu sejak awal dan suamiku pun bersikukuh agar Al Janary, yaitu suami Shofiyyah, yang mengisinya, maka pemilik kontrakan itu pun menolak setiap orang yang ingin mengontrak rumah itu.
Dan aku bersyukur, Alhamdulillah, aku senang mendapatkan tetangga yang baik dan lucu seperti isteri Al Janary, Shofiyyah.
***
Suatu malam, ketika suamiku telah agak lama berangkat shalat Isya ke masjid, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu belakang rumahku. Aku tahu kalau dia Shofiyyah dari suaranya, dan sepertinya dia sedang tergesa-gesa. Aku pun mempersilakannya masuk dan kami langsung duduk di dapur. Waktu itu suaminya juga sedang shalat Isya di masjid.
Dia berkata padaku, “Ukh, ana minta resep bikin rendang dong… Tapi jangan bilang-bilang suami ana ya kalau ana minta resep!”
Aku bingung, kok malam-malam begini minta resep bikin rendang?! Apa mau langsung bikin malam-malam?! Suamiku pun sebentar lagi mau pulang, yang berarti suaminya juga sebentar lagi pulang, padahal dia bilang jangan bilang-bilang sama suaminya, nanti ketahuan dong, kupikir.
Lalu karena dia sedikit mendesakku, aku pun memberitahunya resep rendang itu seadanya. Dan tak berapa lama suaminya pun benar pulang. Kami mendengar jelas ucapan salamnya karena dia masuk dari pintu belakang rumahnya yang persis berdampingan dengan pintu belakang rumahku.
Aku katakan pada Shofiyyah, “Tuh, suami anti udah dateng.” Tapi dia tetap masih ingin tahu resep rendang itu dengan lengkap. Dia pun berkata, “Biarin aja ah.” Aku pun berkata lagi, “Iya, tapi sebentar lagi, suami ana yang dateng.” Sambil nyengir dia pun berkata polos, “O iya ya!” Dia pun langsung mengenakan cadarnya dan segera pulang tanpa sempat menulis resep rendang di kertas yang telah dia siapkan.
Aku pun berniat memberikan resep rendang yang dia inginkan itu keesokan harinya. Tetapi Allah berkehendak lain, sehingga aku baru bisa menemuinya beberapa hari kemudian.
***
Suatu hari, ketika aku berkunjung ke rumah Shofiyyah, seperti biasa kami berbincang-bincang tentang urusan dapur dan kutanyakan padanya apakah ia sudah masak untuk suaminya makan siang hari itu. Tapi tiba-tiba dia berkata, “Eh Ukh, ana kan kemarin masak nasi kayak anti, sekali lima cangkir untuk dua hari. Tapi kok lama-lama jadi keras ya?”
Aku pun menjawab bahwa mungkin dia memasaknya kurang air dan kemudian dia berkata lagi, ”Iya mungkin ya… tapi waktu pingin ana tambahin air, nggak boleh sama suami…” katanya sambil cemberut manja.
Waktu itu, kata Shofiyyah, suaminya bilang bahwa rasa nasi itu akan jadi tidak enak kalau ditambah air (baca: anyep) karena nasinya sudah matang, bahkan sebagian sudah dimakan. Suaminya pun mencoba untuk menenangkan Shofiyyah dengan mengatakan bahwa nggak masalah kalau nasinya keras, yang penting bisa dimakan. Tapi Shofiyyah merasa tidak puas, karena dia ingin menyenangkan suaminya.
Maka ketika suaminya tidur siang diam-diam dia menambahkan air pada nasi itu dan berharap nasinya bisa jadi enak dimakan, nggak keras. Tetapi ternyata yang terjadi justru sebaliknya, rasanya menjadi seperti yang diperkirakan suaminya. Shofiyyah pun menyesal karena sudah tidak patuh kepada suaminya dan nasinya jadi anyep pula. Maka malam harinya dia jadi nggak selera makan sementara suaminya tetap makan seperti biasa tanpa tahu apa yang telah dilakukan isterinya itu.
Shofiyyah bercerita padaku, “Iya, ana bilang aja lagi capek, pingin cepet tidur.” Lalu Shofiyyah pun berniat untuk belanja lebih pagi esok harinya. “Pokoknya ana mau bikin yang enak-enak seharian biar nasinya cepat habis.” ceritanya padaku.
Dan waktu makan, kata Shofiyyah, suaminya tampak lahap sekali. Shofiyyah pun merasa senang. “Jelas aja lahap makannya, lauknya enak-enak…” katanya kepadaku dengan rasa puas tanpa menyebutkan lauk apa saja yang ia masak hari itu.
Tapi sore harinya suami Shofiyyah tiba-tiba bilang, “Kemaren nasinya ditambah air ya?” Shofiyyah kaget, “Tapi ana sih senyum aja.” ceritanya padaku.
Lalu suaminya bilang, “Tapi enak kok, dek, bener deh!” Dalam hati Shofiyyah, “Ya jelas aja enak, wong lauknya enak!” katanya padaku sekali lagi dengan bangga.
Aku tertawa mendengar ceritanya yang dia ceritakan dengan lugu itu. Dan aku jadi teringat, “Ooo, yang waktu malam-malam itu anti minta resep rendang ya?!” Dia pun mengiyakan sambil nyengir. Aku pun semakin tertawa.
Tapi aku tetap tidak tahu apakah yang dia masak itu rendang atau yang lain, yang jelas enak-enak dan suaminya makan dengan lahap. He he he… Alhamdulillah.
Yah, begitulah isteri, kupikir, selalu saja yang dilakukan itu untuk mendapatkan ridha suami.
-Mutiara-
hiks..lucu juga kalian ini! jadi mulai paham tentang mereka para wanita yang menjelma menjadi perhiasan yang paling berharga
Yaa Allah, Maha Suci Engkau,Tangisku sell dlm hati tertutupi oleh senyuman. Akankah kutemukan sebaik-baik perhiasan dunia. InsyaAllah
afwan, kalo boleh tau, ini ukhti Muti yang sepupunya Annisa Fadhluna Ristha itu ya…???
salam kenal dari saya, yola (teman satu kontrakannya Nisa waktu di jogja dulu). waktu Muti ke Jogja dulu, kita pernah ketemu lho…
Subhanallah, tulisannya bagus bgt.
Afwan, Kalau anti tdk keberatan, saya pengen tau alamat emailnya. Kalau boleh, nanti kasih ke nisa aja. Biar yola nanti yg menghubungi Nisa.
Jazakillah khair
Subhanallah..jadi mrinding nih ndengernya. Jadi kangen sama Umi dan Abi yang lagi dikampung. Karena Umi orang Padang, klo anak2 pas kumpul liburan semester, suka bikin rendang. Rasanya dijamin deh..satu Padang nggak bakal ada yang sanggup ngalahin…!!!. Oia, klo boleh, tolong ana minta emailnya Kang Alvi. Berhubung sekarang ana lagi di Jepang..mungkin ada nasehat2 yang bisa ana dapatkan dari beliau sebagai seorang sempai. Alvi San ni yoroushiku onegashimasu..syukron
@abdillah akbar
apa tuh sempai? ana mah awam ma bahasa jepang. alamat email abinya sumayyah alfi.khair et gmail dot com. jangan lupa kasih tau antum tahu emailnya dari “mutiarasuamiku”, ntar dia bingung lagi…
afwan.