“Jangankan nanya, ngebayangainnya aja nggak sanggup!” Kata seseorang waktu kuminta dia bertanya kepada suaminya bahwa bila suaminya meninggal duluan, boleh nggak dia nikah lagi sama laki2 lain.
He he, iseng banget ya permintaanku?!
Trus aku bilang aja, “Ya nggak usah dibayangin lah, iseng aja tanya. Atau nanyanya gini… “kalo aku yang mati duluan, kamu bakalan nikah lagi nggak?”…gitu…”
Hi hi hi, penasaran aku, apa jawaban para suami. Kalau jawaban suamiku sih aku tahu.
***
Waktu itu aku baru saja mengetahui bahwa tetanggaku yang telah menjanda lebih dari dua tahun itu udah nikah lagi. Kabar itu pun aku sampaikan kepada suamiku. Kukatakan padanya, “Bang, ternyata ibu itu dah nikah lagi.”
Nggak penting banget ya ngasih tahu suamiku?! Tapi berhubung tetangga dekat, kayaknya suamiku perlu tahu juga deh, supaya nggak kaget gitu lho, soalnya kan pas dia nikah kita nggak tahu. Ntar kalo ada orang yang ngomong macam2, suamiku jadi bisa ngebelain.
Trus suamiku tiba2 bilang, “Wah, kasian dong suaminya yang pertama.”
“Kok kasian?” tanyaku tiba2 juga.
“Iya…” jawab suamiku singkat.
Aku pun teringat hadits tentang shahabiyah yang tidak menikah lagi setelah suaminya meninggal dunia.
***
Dari Maimun bin Mihran, ia mengatakan: “Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘anhu meminang Ummud Darda’, tetapi ia menolak menikah dengannya seraya mengatakan, ‘Aku mendengar Abud Darda’ mengatakan: ‘Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, artinya : “Wanita itu bersama suaminya yang terakhir,’ atau beliau mengatakan, ‘untuk suaminya yang terakhir”[1]
Dari ‘Ikrimah bahwa Asma’ binti Abi Bakar menjadi isteri az-Zubair bin al-‘Awwam, dan dia keras terhadapnya. Lalu Asma’ datang kepada ayahnya untuk mengadukan hal itu kepadanya, maka dia mengatakan, “Wahai puteriku, bersabarlah! Sebab, jika wanita memiliki suami yang shalih, kemudian dia mati meninggalkannya, lalu ia tidak menikah sepeninggalnya, maka keduanya dikumpulkan di dalam Surga” [2]
***
Trus iseng2 aku tanya sama suamiku, “Emangnya kalo abang mati duluan, muti nggak boleh nikah lagi?”
Kata suamiku, “Ya enggak dooong…”
Ha ha ha… aku jadi ketawa. Walaupun sebenarnya kata2 itu kedengaran indah banget bagiku.
“Tapi kalo muti yang mati duluan, abang bakalan nikah lagi nggak?” tanyaku lagi, penasaran.
Dengan cepat suamiku menjawab, “Plis deh, Ti… ntar siapa yang ngurusin abang?”
Ha ha ha… aku jadi tambah ketawa. Maksudnya “ntar siapa yang ngurusin abang, jadi mudah2an aku jangan mati duluan.”? Atau “Ntar siapa yang ngurusin abang, jadi abang bakalan nikah lagi.”? He he he… Wallahua’lam.
“Tapi bang,” lanjutku, “kalo abang mo nikah lagi, toh muti juga udah mati, jadi kan nggak akan cemburu lagi ya?!”
“Iya, jadi nggak apa2 khaaan?!” goda suamiku.
“Huuu, dasar!” Kataku sedikit sewot, bercanda. “Tapi nggak apa2 deh, bang. Daripada ntar abang kesepian di surga.” kataku, “Kayak bidadarinya pada mau aja sama abang.” [3]
Ha ha ha… ! Aku dan suamiku tertawa lepas.
“Pede banget ya kita, kayak bakalan masuk surga aja…” kataku tersadar… (Aamiin…)
“Tapi di surga mah nggak ada cemburu2an ya bang, sama bidadari?” kataku.
“Ya enggak lah, makanya jadi istri sholehah. Ntar suaminya diambil bidadari duluan lho [4].” Kata suamiku.
“Ya udah, bang, kalo gitu bilang aja sama bidadarinya kalo abang udah punya istri.” [5]
Ha ha ha ha ha!
Aku dan suamiku pun tertawa lagi… He he he!
***
Subhanallah, percakapan yang tak terlupakan… mencerahkan hari, membuat berfikir.
-mutiara-
[1]. As-Silsilah ash-Shahiihah, Syaikh al-Albani (no. 1281), shahih.
[2]. As-Silsilah ash-Shahiihah, Syaikh al-Albani (III/276), shahih.
[3] (a) Ad Dukhan: 51-54, artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman (yaitu) di dalam taman-taman dan mata-air-mata-air; mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari.” (b) At Thuur: 17- 20, artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka. (Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan”, mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.”
[4]. HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, artinya: “Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia melainkan istrinya dari kalangan bidadari (di surga) akan mengatakan: ‘Jangan kamu sakiti dia, semoga Allah melaknatmu. Sesungguhnya dia di sisimu hanyalah sebagai tamu dan dalam waktu yang dekat dia akan berpisah denganmu untuk bergabung bersama kami.’”
[5]. Mengutip kata2 kakak ipar.
Catatan: Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi wanita manapun yang menikah lagi setelah ditinggal oleh suaminya. Karena sesungguhnya di antara shahabiyah –radhiyallahu ‘anhunna- ada pula yang menikah lagi sepeninggal suaminya. Dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin –rahimahullah- pernah ditanya: “Apabila seorang wanita memiliki dua suami di dunia (setelah pisah dengan suami pertama, menikah lagi dengan suami kedua), lalu siapa di antara keduanya yang akan menjadi suaminya di surga kelak?” Beliau menjawab: “Apabila seorang wanita ketika di dunia memiliki dua suami maka kelak di surga ia dipersilakan untuk memilih siapa di antara dua suaminya yang ia inginkan untuk menjadi pendampingnya di surga. Bila seorang wanita tidak sempat menikah ketika di dunia maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menikahkannya dengan lelaki yang menyenangkan hatinya di surga. Karena memang kenikmatan di surga tidak hanya diberikan kepada para lelaki namun juga untuk para wanita, sementara termasuk kenikmatan surga adalah memiliki pasangan hidup.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 2/53, sebagaimana dalam Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah, 1/88)
Wallahua’lam bis showab.
Ummu Salamah, isteri Nabi Sallallahu `alaihi wassalam bertanya, “Ya Rasulullah, seorang wanita dari kami ada yang menikah dua, tiga dan empat kali ,lalu dia wafat dan masuk surga bersama suami-suaminya juga. Siapakah kelak yang akan menjadi suaminya di surga?” Nabi menjawab, “Dia disuruh memilih dan yang dia pilih adalah yang paling baik akhlaknya dengan berkata, “Ya Robbku, orang ini ketika dalam negeri dunia paling baik akhlaknya terhadapku. Kawinkanlah aku dengan dia. Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik membawa kebaikan untuk kehidupan dunia dan akhirat.” (HR. Ath-Thabrani)
mbak ,tau kah mengenai hadits ini?
bagaimana yah kedudukannya?
kalau melihat hadits ini berarti jika seorang istri memiliki beberapa suami.dia bisa memilih?
:) gak bisa komentar….masih berfikir utk menikah sekali saja didunia …InsyaAllah
@fitri…
wah, betul insya Allah… jazakillah kher… ini dalil yang ana cari2…
Assalamu’alaikum….
Mbaaa…..whuuaaaa apa kabar? ana kangeeenn. Masih inget gak mba sama ana? Yang di Raudhah dulu tuh, sekamar sama mba ngomongin roti maryam:D. Mba, kapan yah bisa ketemu lagi?
@fafa
wa’alaykumussalaam… wah, fafa sih ana inget banget… tapi emang pernah ngomongin roti maryam ya? he he he… lupa ana bagian itu.
alhamdulillah bikheeeer, fafa gimana… masih di jogja? dah jadi ummu ahmad nih?
main lah ke bogor, ada dauroh akhwat lho… boleh kok nginep di tempat ana, gratis!
Lho.. kok mb fafa? maryam? RI jogja? apa ummu sumayyah jg RI dlu? ga nyangka dunia begitu sempit ya… ana zainab-kebidanan- -sebut ahwat2 RI du- ummu ahmad, msh inget mesti yach.. qt kan sering ada ‘bisnis’… ^_^ kangeen dech. ditunggu email ya ke ummuroihan@yahoo.com
Btw, ana dah praktekkan ni nanya “klo Aa’ mati duluan, ntar cari ummi baru ndak buat Raihan? kan haditsnya gini ni… bla..bla..bla…” he..he… tp kok blm maksimal ya interviewnya.. cuma dipandangin -krn lg sibuk sm laptopnya- trus bilang “waah blm kepikir nih…” ntar dech ana coba lg lain waktu insya Alloh ^_^ iseng banget sich
@umi roihan alias ArZa
wah, ini yang ana harapkan… lucu lho kalo dibahas serius… tapi pernah ana dan suami ngebahas lagi, jadinya malah sedih… soalnya suami bilang, “tapi kalo muti mati duluan, untuk sekarang ini, kayaknya abang belum sanggup deh…” hiks hiks…
btw, ana bukan anak RI ukh, cuma pernah numpang nginep aja… kapan2 ana share deh kisah itu. insya Allah.
eh, lagi online bukan? ym yuk… dah ana add.
afwan ya ukh, kmaren ndak liat balesan comentnya jd ndak YM dech… juga trus dapet tugas dr zauj bkin artikel valentine buat buletin yayasan… ntar ana email -insya Alloh- ya biar bisa ta’aruf lanjutan.. n janjian YM seneng punya tmen di dunia maya ni.. rumah jd krasa rame ya… ^_^
:)
pernah jg ngomongin hal seperti itu ma zaujiy ^__^
lho…fafa mampir juga kesini iy..Hayo…tulisannya mana ni…
mba muti, sudah ada yang menghubungi mba muti belum? Namanya ima layya. Beliau sepertinya sangat butuh teman dan butuh dukungan. Kalau udah dapet cerita langsung dari beliau alhamdulillah. Kalau belum ana kasih imelnya insya Allah. Kayanya online terus.
Btw, kalo mba muti masih inget sama ana gak ya? Soalnya kan ketemunya cuma seklias :P
Oya…kalo masalah yang abang mati duluan…ana pernah ngomongin pas dulu awal-awal nikah…Ceritanya karena lagi hamil dan sangat kepayahan, jadinya kepikiran kasian deh suami kalo ana mati duluan. Terus ana bilangin,
“Bang, kalau aku mati, abang mau gak nikah sama fulanah…”
:P
Hehehe…tapi dulu suami nanggepinnya gak terlalu serius.
Eh, kemarin itu pas baca bareng2 tulisan mba muti di atas, suami penasaran, “Dek, kalo adek gimana?” Sambil ketawa-ketawa. (Baru dapet inspirasi ceritanya)
“Ih…aku dah duluan ngebahas. Kalau aku kan kepikirannya dah dari dulu-dulu. :P”
Tapi gak berlanjut dey…yah…mudah-mudahan tetap bisa bersama ya sampai hari tua.
Allahumma athil hayatana ‘ala thoo’atika wa ahsin ‘amalana
wah, mba, baru sadar, ternyata webnya yang kepasang sala tu. Bukan yang rumahkami. Itu gak pernah ana isi.
Soalnya wordpressnya gak ana logoutin.
Tolong dieditin ya mba blognya yang terakhir ini yg bener. Jazakillahu khoiroo…
@siska
Hey! kefal hal? iya dah “ketemu” sama layya. ana juga bingung waktu dia bilang tau ana dari ummu ziyad. siapa ummu ziyad, pikir ana… trus cari di google ketemu deh “catatan”nya… ternyata siska…. alhamdulillah, bisa ketemu lagi di sini. jelas dong masih inget sama “penyelamat”ku, alias yang nyariin tempat nginep waktu pulang dari surabaya, hi hi hi. iya ya, sebentar banget kita ketemu. mudah2an kapan2 bisa ketemu lagi.
btw, syukron dah ngasih komen di tulisan yang ini. lucu ya kalo dibahas sama suami… barakallahu fikum. salam buat abinya ziyad dari abinya sumayyah.
pingin tau juga nih jawaban pasangan lain, hi hi hi…
mba,bolehkan aku ikut2an nimbrung!!!!
aku pernah ngebahas sama suamiku tentang ini pertanyaanya,gimana klo diantara kita meninggal apa kakak akan nikah lagi?
eh suamiku malah jawab “yank jangan ngomong gitu ah,kakak gak mau kehilangan km”
trus aku jawab ajah…..”kak,mending kakak duluan deh yang meninggal,klo ade yang duluan tar ade di kuburan gak tenang mikirin suami gada yang ngurusin terus tar anak2 terlantar dan akhirnya kakak nikah lagi,tar anak kita punya mak tiri mending sayang klo engga kan kasian…..klo kakak duluan kan ade gak bakal nikah lagi,ade bakal jagain anak2 dan nyari nafkah buat anak2!hehehhh
baguskan ideku????
dukung aku ya teman2 yang ada disini semoga aku bisa jadi istri yang solehah….Amin!!!
@mara
hahaha… makasih ya dah share komennya, mara…
AYO SEMANGAT!
seep mba muti…..makasih jg atas dukungannya!!!
assalaamu’alaikum…
salam kenal ya mbak…
duh…
liat komentar2 yang dah pada nikah, jadi pengen cepet2 nikah neh…
hwehehehe…
do’ain ya mbak semoga saya dapet suami yang soleh…
amiiiiinn…
Suami ana pernah berkata, bhw klo ana meninggal duluan, maka ia tdk akan menikah lagi. Ana hanya menjawab bahwa Allah Maha Mendengar perkataan hamba2Nya dan manusia mempunyai hati yang bisa berubah2. Yang penting yang terbaik bagi kamu dan bagi anak kita. Sementara pas suami ana menanyakan hal yang sama, ana tidak menjawab, hanya tersenyum dan berdoa semoga Allah Ta’ala memberikan umur panjang bagi kami.
Jazakillah khayr mbak atas artikel2nya yg inspiring.
@ ummu haura
masya ALlah… ana jadi ikutan senyum mbak. barakallahu fik.
Assalämu’alaikum,ih3 maap ibu2..bru brkunjung lg he2.walah2 lg reuni via blog yha?@mb mutia>iy mb,dlu pernah ngomongin itu
@mb siska>iy mb,nongol di sini
@mb za>haduwh,afwn bru lht..udh an smpan si.
Mb mutia..mau no hpny dunk yah?ksh lwt YM offline an ajah yha?jazäkillähu khoir
pelangi dan adriana :)
yang ini crita-nya lucu mba ^^
tapi banyak pesan yang tersirat, hehe
saya suka crita yang ini ^^v
oiya…saya sempat survei ke teman saya…
kalo nanti istrimu meninggal gimana?
jawabnya, “ditanya istrinya..boleh ga menikah lagi”
lalu saya jawab lagi, “kalo misalnya istrinya ga bolehin nikah…apa nanti ga nikah beneran? trus nanti sapa yang ngurusin?”
teman saya menjawab, “oiya deng…brarti kalo istrinya sampe ga bolehin nikah lagi..istrinya tega”
wakakakaka :lol:
assalamulikum……
hueee…smp terpingkall-pingkal ana baca tulisan ini .wlo ana blum menikah tapi kyakny perlu dicoba nich pertanyaan tuk calon suami kelak kira-kira jwbny pa ya…?hee….he.tapi um ana takut jd sedih nnt klo jwbny;y abang menikah lg lah Kasihan donk klo sendirian trus….truss piye jal um?
@ ummu ad-nan..
ga usah takut um… istri pertama tak mudah dilupakan kok :D kaliii :P