Bila waktu makan tiba…
Aku senang kalau aku bisa makan bersama-sama suamiku ketika itu.
Kalau suamiku sedang ada urusan, aku senang bila ia mengabarkan bahwa ia akan terlambat pulang dan aku disuruhnya makan duluan.
Tapi… kalau aku sih tidak akan makan sampai suamiku pulang, kecuali dia memaksa dan aku juga sudah kelaperan.
Kalau suamiku sudah makan di luar, aku senang bila ia membawakanku makanan seperti yang ia makan tadi.
Kalau suamiku tidak membawakannya, aku juga senang karena yang penting dia sudah kenyang.
Kalau suamiku ternyata belum makan, sebenarnya aku akan merasa kesal karena mengkhawatirkan kesehatannya,
Tapi aku senang… karena aku jadi bisa makan bersama-sama suamiku di rumah.
Kalau hari itu aku sedang tidak memasak, aku senang bila suamiku menawarkan untuk membeli makanan di luar.
Kalau suamiku tidak menawarkannya, aku senang bila ia setuju untuk memakan makanan apa saja yang ada di rumah.
Kalau makanan yang terhidang itu adalah makanan kesukaannya, aku senang memberi suamiku bagian yang lebih banyak.
Kalau dia menyisakannya untukku, aku senang karena dia masih mengingatku ketika sedang makan enak.
Kalau pun tidak, aku senang karena aku tahu dia pasti senang bisa menikmati makanan kesukaannya sampai habis.
Kalau makanan itu adalah masakanku, aku senang bila harus tersipu karena pujiannya.
Kalau saat itu hanya cukup untuk satu porsi, aku senang bisa mengatakan, “untuk abang saja, muti udah makan tadi.” walaupun sebenarnya aku belum makan.
Kalau saat itu aku memang tidak lapar, aku akan duduk di seberang suamiku dan menunggunya sampai selesai makan,
Tapi seringnya suamiku tidak tinggal diam, dan aku senang kalau suamiku mengajakku duduk di dekatnya dan kami makan bersama-sama.
***
Suatu hari suamiku mengatakan: “Nabi –shallallahu’alayhi wasallam- bersabda: barangsiapa yang punya makanan hari ini, maka ia seperti memiliki dunia dan seisinya…” [1]
Subhanallah, pantas saja aku senang bisa makan bersama suamiku… bahkan memiliki makanan untuk suatu hari seperti memiliki dunia dan seisinya, apalagi bila ketika makan itu adalah bersama suami tercinta…
-mutiara-
selepas makan pizza, makanan kesukaan suamiku, di tahun ke-4 pernikahan kami (bukan dirayain lho, kebetulan pas lagi ada :P)…
Footnote:
[1] Hadits hasan, riwayat Imam At Tirmidzi (no 2346), Ibnu Majah (no 4141) dan Al Bukhari dalam Adabul Mufrad (no 300), artinya: “Siapa saja di antara kalian yang merasa aman di tempat tinggalnya, diberikan kesehatan pada badannya, dan ia memiliki makanan untuk harinya itu, maka seolah-olah ia telah memiliki dunia seluruhnya.”
Masya Allah, Ukhty Mutiara sesungguhnya anti hidup dalam qana’ah…….
Ketika seseorang telah diberi oleh Allah qana’ah dalam hidupnya berarti ia telah mendapatkan kebahagiaan yang banyak……..
Qana’ah adalah berbahagia dengan piring kita sendiri tanpa terpengaruh dengan penuh atau tidaknya piring orang lain. Hidup di alam qana’ah bererti hidup di alam sendiri dengan menghadirkan segala limpahan rahmat ilahi.
Afwan resep pizza kegemaran zauji anti boleh dikongsi…. :)
Jazakillahu khairan atas tulisan baru yang menceriakan pagi :)
@ummu irfan
afwan umm, pizzanya buatan orang alias beli (“dibelikan” tepatnya) … hihi, makanya ana tulis “pas lagi ada”… barakallahu fiik…
jazakillah khair balasan e-mailnya umm..
Alhamdulillah anti udah aktif ngeblog lagi
hmm pizza…jadi pengen nich ^^
Alhamdulillah, akhirnya nulis lagi ukh. tulisan yg indah.. natur banget. ikut berbunga bunga bacanya… Alloh yubaarik fiyk..
oia, kef kabar sumayah? sdh pinter apa?
wa fiyk barakallah… sumayyah bikher alhamdulillah… sumayyah dah pinter bilang es sama el amah zainab… btw, mau dong majalah ababilnya amah :D
mau di kirimi PDFnya?
ntar amah kirim imel stlh slesai layout kru jogja. tp sumayah ndak bisa corat coret ya… kan yg asik corat coretnya itu..
wah, boleh boleh…
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga).”
[HR Muslim]