<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>mutiarasuamiku</title>
	<atom:link href="http://mutiarasuamiku.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 Sep 2009 05:44:36 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='mutiarasuamiku.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/dd9a650321eae4625aa3d92107fd69df?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>mutiarasuamiku</title>
		<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Bila Penat Mengguncang Semangat untuk Taat</title>
		<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2009/09/16/bila-penat-mengguncang-semangat/</link>
		<comments>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2009/09/16/bila-penat-mengguncang-semangat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 05:29:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umi sumayyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarasuamiku.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[
Siang menjelang sore itu aku terduduk kelelahan di ruang makan. Bersandar ke dinding sambil menghela nafas panjang. Suamiku datang melihatku terkulai lemah. Ia pun bertanya, “Kenapa, Ti?” katanya sambil mengambil kursi dan duduk di depanku. Mataku menerawang jauh, teringat hadits2 tentang istri sholehah -yang menyenangkan bila dipandang-, sungguh ketika itu aku jauh dari itu.
Aku tersenyum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=111&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 		A:link { so-language: zxx } --></p>
<p style="margin-right:-.03cm;text-indent:-.03cm;" lang="id-ID" align="LEFT"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Siang menjelang sore itu aku terduduk kelelahan di ruang makan. Bersandar ke dinding sambil menghela nafas panjang. Suamiku datang melihatku terkulai lemah. Ia pun bertanya, “Kenapa, Ti?” katanya sambil mengambil kursi dan duduk di depanku. Mataku menerawang jauh, teringat hadits2 tentang istri sholehah -yang menyenangkan bila dipandang-, sungguh ketika itu aku jauh dari itu.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:-.03cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="LEFT"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Aku tersenyum dan berkata pelan, “Bang, apa ya hikmahnya&#8230; istri tu kan dah capeeek gitu seharian kerja. Bangun tidur siapin sarapan, nyuci piring, nyuci baju, anaknya bangun, mandiin, bikinin makan, nemenin main, pas anaknya tidur baru bisa nyapu dan ngepel, bikin makan siang, angkat jemuran, nggaaak berhenti2 rasanya kerjaan tuh. Tapi kenapa ya bang istri itu masih harus tetap nuruuut gitu sama suami, sampai2 nggak boleh menolak untuk melayani suaminya walaupun capeknyaaa dah minta ampun? Kalau nolak bisa2 dilaknat malaikat [1]&#8230; Apa ya bang hikmahnya?”</span></span></span></p>
<p style="text-indent:-.03cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="LEFT"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Suamiku terdiam, ada kesan yang tidak mengenakkan memang dari pertanyaanku, tapi bukan maksudku untuk membuatnya merasa tidak nyaman, hanya tiba2 saja teringat tentang ciri2 istri sholehah “yang menyenangkan jika dipandang” itu tadi, yang nurut sama suami walaupun capeknyaaa dah minta ampun, bahkan kalau diminta mengambilkan air putih sekalipun&#8230;.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:-.03cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="LEFT"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Jadi ingat kisah seorang istri, yang lagi baringan saking capeknya&#8230; Si istri pun berkisah, “Heran deh ma suami tuh, udah tahu kita dah seharian kerja ngurusin rumah, masih juga disuruh ngambilin air putih, padahal gelasnya tuh lebih deket ke dia. Kalo dibilang, “ya elah say, gelasnya kan deket banget tuh, tinggal ngambil.” Eee, dia nyahutnya, “pahala yang, pahala&#8230;””</span></span></span></p>
<p style="text-indent:-.03cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="LEFT"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Hehehe&#8230; ngambil air putih kan cuma hal yang kecil, tapi malesnya dah minta ampun, gimana hal yang besar ya&#8230; ngambil air setermos, misalnya (:P)</span></span></span></p>
<p style="text-indent:-.03cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="LEFT"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Suamiku menjawab, “Barokah insya Allah&#8230; kata Nabi kan begitu&#8230;”</span></span></span></p>
<p style="text-indent:-.03cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="LEFT"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Jawaban yang terlalu sederhana dan terlalu umum, pikirku. Aku menganggapnya angin lalu, karena kupikir suamiku hanya ingin membesarkan hatiku.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:-.03cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="LEFT"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Tapi suamiku pun melanjutkan, “Ummu Sulaim -radhiyallahuánha- waktu anaknya meninggal dunia, dia masih tetap melayani suaminya, persis di malam waktu anaknya meninggal dunia&#8230; Coba bayangin, pas anaknya meninggal nih, malemnya dia layani suaminya. Karena suaminya baru pulang, nggak pingin dia menyusahkan suaminya, masa&#8217; udah capek dikasih kabar buruk. Padahal sedihnya kayak apa coba anaknya meninggal&#8230; Trus apa kata Nabi, barokah!”. </span></span></span></p>
<p style="text-indent:-.03cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="LEFT"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Aku pun teringat kisahnya&#8230;</span></span></span></p>
<p style="text-indent:-.03cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="LEFT"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:small;">***</span></span></span></p>
<p style="text-indent:-.03cm;margin-bottom:0;" align="LEFT"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa seorang anak dari Abu Thalhah sakit. Ketika Abu Thalhah keluar, anak itu meninggal. Ketika Abu Thalhah kembali, dia bertanya, “Bagaimana anakku?” Ummu Sulaim menjawab, “Ia dalam kondisi sangat tenang,” seraya menghidangkan makan malam kepadanya, dan dia pun makan. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Ummu Sulaim berkata, “Jangan beritahukan kepada Abu Thalhah tentang kematian anaknya.” Kemudian ia melakukan tugasnya sebagai isteri kepada suaminya, lalu suaminya berhubungan intim dengannya. Ketika akhir malam, ia berkata kepada suaminya, “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu bila keluarga si fulan meminjam suatu pinjaman, lalu memanfaatkannya, kemudian ketika pinjaman itu diminta, mereka tidak suka?” Ia menjawab, “Mereka tidak adil.” Ummu Sulaim berkata, “Sesungguhnya anakmu, fulan, adalah pinjaman dari Allah dan Dia telah mengambilnya.” Abu Thalhah beristirja’ (mengucapkan: Innaa lillaahi wa innaaa ilaih raaji’uun) dan memuji Allah seraya mengatakan, “Demi Allah, aku tidak membiarkanmu mengalahkanku dalam kesabaran.” Pada pagi harinya, dia datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala beliau melihatnya, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahi kalian berdua di malam hari kalian.” [2]</span></span></span></p>
<p style="text-indent:-.03cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="LEFT"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:small;">***</span></span></span></p>
<p style="text-indent:-.03cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="LEFT"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Subhanallah, indah sekali kisah ini. Merontokkan segala kelelahanku&#8230; </span></span></span></p>
<p style="text-indent:-.03cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="LEFT"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Sambil mengangguk2, kukatakan pada suamiku, “Makasih ya bang&#8230;”</span></span></span></p>
<p style="text-indent:-.03cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="LEFT"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Semoga aku selalu ingat, bila penat mengguncang semangat untuk taat&#8230;</span></span></span></p>
<p style="text-indent:-.03cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="LEFT"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:small;">-mutiara-</span></span></span></p>
<p style="text-indent:-.03cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="LEFT"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:small;">yang menyadari, curhat terbaik memang kepada suami&#8230;</span></span></span></p>
<p style="text-indent:-.03cm;margin-bottom:0;" align="LEFT">
<p style="text-indent:-.03cm;margin-bottom:0;" align="LEFT"><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Footnote:</span></span></p>
<p style="text-indent:-.03cm;margin-bottom:0;" align="LEFT"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:small;">[1] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 3237, 5193, 5194), Muslim (no. 1436), Ahmad (II/255, 348, 386, 439, 468, 480, 519, 538), Abu Dawud (no. 2141) an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa&#8217; (no. 84), ad-Darimi (II/149-150) dan al-Baihaqi (VII/292), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, “Artinya : Apabila seorang suami mengajak isterinya ke tempat tidur (untuk jima’/bersetubuh) dan si isteri menolaknya [sehingga (membuat) suaminya murka], maka si isteri akan dilaknat oleh Malaikat hingga (waktu) Shubuh.”<br />
Dalam riwayat lain (Muslim) disebutkan: “sehingga ia kembali”. Dan dalam riwayat lain (Ahmad dan Muslim) disebutkan: “sehingga suaminya ridha kepadanya”. Yang dimaksud “hingga kembali” yaitu hingga ia bertaubat dari perbuatan itu. [Fat-hul Baari (IX/294-295)] Lihat artikel tentang <a href="http://www.almanhaj.or.id/?keyword=hak+suami">hak suami atas istri</a>, dan juga <a href="http://www.almanhaj.or.id/?keyword=hak+isteri">hak istri atas suami</a> </span></span></span></p>
<p style="text-indent:-.03cm;margin-bottom:0;" align="LEFT"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="font-size:small;">[2] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5470) kitab al-‘Aqiiqah, Muslim (no. 2144), kitab Fadhaa-ilush Shahaabah, Ahmad (no. 11617). Lihat <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/2374/slash/0">kisah teladan Ummu Sulaim</a></span></span></span></p>
<p style="margin-right:-.03cm;text-indent:-.03cm;" align="LEFT">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarasuamiku.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarasuamiku.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarasuamiku.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarasuamiku.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=111&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2009/09/16/bila-penat-mengguncang-semangat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">umi sumayyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kesenanganku: Bisa Makan Bersama Suamiku</title>
		<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2009/09/04/kesenanganku-bisa-makan-bersama-suamiku/</link>
		<comments>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2009/09/04/kesenanganku-bisa-makan-bersama-suamiku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 15:29:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umi sumayyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Romantika dalam Rumah Tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarasuamiku.wordpress.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[Bila waktu makan tiba&#8230;
Aku senang kalau aku bisa makan bersama-sama suamiku ketika itu.
Kalau suamiku sedang ada urusan, aku senang bila ia mengabarkan bahwa ia akan terlambat pulang dan aku disuruhnya makan duluan.
Tapi&#8230; kalau aku sih tidak akan makan sampai suamiku pulang, kecuali dia memaksa dan aku juga sudah kelaperan.
Kalau suamiku sudah makan di luar, aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=112&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bila waktu makan tiba&#8230;<br />
Aku senang kalau aku bisa makan bersama-sama suamiku ketika itu.<br />
Kalau suamiku sedang ada urusan, aku senang bila ia mengabarkan bahwa ia akan terlambat pulang dan aku disuruhnya makan duluan.<br />
Tapi&#8230; kalau aku sih tidak akan makan sampai suamiku pulang, kecuali dia memaksa dan aku juga sudah kelaperan.</p>
<p>Kalau suamiku sudah makan di luar, aku senang bila ia membawakanku makanan seperti yang ia makan tadi.<br />
Kalau suamiku tidak membawakannya, aku juga senang karena yang penting dia sudah kenyang.<br />
Kalau suamiku ternyata belum makan, sebenarnya aku akan merasa kesal karena mengkhawatirkan kesehatannya,<br />
Tapi aku senang&#8230; karena aku jadi bisa makan bersama-sama suamiku di rumah.</p>
<p>Kalau hari itu aku sedang tidak memasak, aku senang bila suamiku menawarkan untuk membeli makanan di luar.<br />
Kalau suamiku tidak menawarkannya, aku senang bila ia setuju untuk memakan makanan apa saja yang ada di rumah.</p>
<p>Kalau makanan yang terhidang itu adalah makanan kesukaannya, aku senang memberi suamiku bagian yang lebih banyak.<br />
Kalau dia menyisakannya untukku, aku senang karena dia masih mengingatku ketika sedang makan enak.<br />
Kalau pun tidak, aku senang karena aku tahu dia pasti senang bisa menikmati makanan kesukaannya sampai habis.</p>
<p>Kalau makanan itu adalah masakanku, aku senang bila harus tersipu karena pujiannya.<br />
Kalau saat itu hanya cukup untuk satu porsi, aku senang bisa mengatakan, “untuk abang saja, muti udah makan tadi.” walaupun sebenarnya aku belum makan.<br />
Kalau saat itu aku memang tidak lapar, aku akan duduk di seberang suamiku dan menunggunya sampai selesai makan,<br />
Tapi seringnya suamiku tidak tinggal diam, dan aku senang kalau suamiku mengajakku duduk di dekatnya dan kami makan bersama-sama.</p>
<p>***</p>
<p>Suatu hari suamiku mengatakan: “Nabi –shallallahu’alayhi wasallam- bersabda: barangsiapa yang punya makanan hari ini, maka ia seperti memiliki dunia dan seisinya&#8230;” [1]</p>
<p>Subhanallah, pantas saja aku senang bisa makan bersama suamiku&#8230; bahkan memiliki makanan untuk suatu hari seperti memiliki dunia dan seisinya, apalagi bila ketika makan itu adalah bersama suami tercinta&#8230;</p>
<p>-mutiara-</p>
<p>selepas makan pizza, makanan kesukaan suamiku, di tahun ke-4 pernikahan kami (bukan dirayain lho, kebetulan pas lagi ada :P)&#8230;</p>
<p>Footnote:<br />
[1] Hadits hasan, riwayat Imam At Tirmidzi (no 2346), Ibnu Majah (no 4141) dan Al Bukhari dalam Adabul Mufrad (no 300), artinya: &#8220;Siapa saja di antara kalian yang merasa aman di tempat tinggalnya, diberikan kesehatan pada badannya, dan ia memiliki makanan untuk harinya itu, maka seolah-olah ia telah memiliki dunia seluruhnya.&#8221;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarasuamiku.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarasuamiku.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarasuamiku.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarasuamiku.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/112/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=112&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2009/09/04/kesenanganku-bisa-makan-bersama-suamiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">umi sumayyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasi Kebuli Ayam Pakai Rice Cooker</title>
		<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2009/02/09/nasi-kebuli-ayam-pakai-rice-cooker/</link>
		<comments>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2009/02/09/nasi-kebuli-ayam-pakai-rice-cooker/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 02:10:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umi sumayyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resep-resep]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarasuamiku.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Hampir setiap Ahad rumahku kedatangan tamu. Soalnya setiap Ahad itu ada pengajian di masjid dekat rumahku. Kadang-kadang kedua abangku dan istri mereka yang ikut pengajian itu suka mampir. Dan kadang-kadang juga suamiku suka mengundang teman2nya setelah pengajian itu. Dan bukan suamiku namanya kalau pas ada tamu di rumah hari itu nggak ngajak makan siang.
Awalnya aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=85&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNoSpacing">Hampir setiap Ahad rumahku kedatangan tamu. Soalnya setiap Ahad itu ada pengajian di masjid dekat rumahku. Kadang-kadang kedua abangku dan istri mereka yang ikut pengajian itu suka mampir. Dan kadang-kadang juga suamiku suka mengundang teman2nya setelah pengajian itu. Dan bukan suamiku namanya kalau pas ada tamu di rumah hari itu nggak ngajak makan siang.</p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Awalnya aku sering bingung mau masak apa. Apalagi memikirkan berapa banyak tamu yang akan datang, berapa menu yang akan dihidangkan, berapa lama masaknya, belum lagi pada saat yang sama Sumayyah juga butuh perhatian. Tapi sekarang sih aku udah nggak bingung lagi, soalnya aku udah punya menu andalan, nasi kebuli ayam. Bikinnya gampang banget, cepat dan praktis soalnya pake rice cooker. Tinggal pastikan semua bahan ada di dapur, dan nasi kebuli ayam siap dibikin. Kalau masalah rasa&#8230; kata suamiku sih&#8230; istimewa.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing">***</p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Siapkan rempah2 berikut di mangkuk kecil:</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>-Serai 2, memarkan</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>-Cengkeh 4</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>-Kapulaga 4, </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>-Kayu manis 4 cm, </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>-Pala ¼ butir (kalau pakai pala bubuk cukup 1/2 sdt aja, diikutsertakan di bumbu halus),</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Kemudian haluskan bahan2 berikut:<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>-Bawang merah 8 </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>-Bawang putih 6 </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>-Jahe seibu jari </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>-Merica butir 1 sdt, </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>-Jintan 1 sdt, </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>-Ketumbar butir 2 sdt, </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>-Garam 2 sdt. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Jangan lupa bahan utamanya, yaitu:</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>-Beras 5 cangkir</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>-Ayam ½ ekor, potong seperti mau bikin sop.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Dan yang nggak kalah penting: </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>-Margarin secukupnya untuk menumis.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>-Air mendidih untuk memasak beras yaitu sebanyak untuk memasak 6 cangkir beras (kenapa bukan 5? Karena memang segitu yang dibutuhkan) </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Cara membuatnya:<br />
1. Panaskan margarin, tumis bumbu halus dengan api kecil hingga wangi.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>2. Masukkan rempah2, tumis sebentar, lalu masukkan ayam, aduk hingga merata dan masak hingga berubah warna dengan api sedang (10 menit)</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>3. Matikan api, dan tutup wajan agar bumbu meresap.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>4. Sementara itu siapkan beras yang sudah dicuci dan air mendidih.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>5. Masukkan beras ke dalam wadah rice cooker, lalu masukkan ayam bumbu dan air mendidih, aduk rata.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>6. Nyalakan rice cooker, tunggu sampai matang.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>7. Setelah matang, buka rice cooker, dan aduk nasi (hati2 panas, baiknya pakai sarung tangan).</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>8. Tunggu 10 menit, agar bumbu nerata dan nasi menjadi agak kering.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>9. Nasi kebuli siap dihidangkan bersama bawang goreng dan kerupuk (maklum, orang indonesia), serta minuman teh manis hangat.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Untuk 8 orang</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>-mutiara-</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarasuamiku.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarasuamiku.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarasuamiku.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarasuamiku.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=85&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2009/02/09/nasi-kebuli-ayam-pakai-rice-cooker/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">umi sumayyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Umi Ikut Kajian: Karena Umi ingin dimengerti</title>
		<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2009/01/20/ketika-umi-ikut-kajian-karena-umi-ingin-dimengerti/</link>
		<comments>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2009/01/20/ketika-umi-ikut-kajian-karena-umi-ingin-dimengerti/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 00:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umi sumayyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sederhana nan Bermakna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarasuamiku.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Subhanallah, dah lama banget rasanya aku nggak ikut kajian. Harus aku akui, sejak punya Sumayyah semuanya nggak sama lagi. Penasaran deh, gimana sih ummahat tuh bisa menuntut ilmu sambil gendong bayi?! Kalau aku, udah jelas banget deh, jangankan mencatat isi kajian, pulpennya aja nggak kepegang. Kalau aku megang pulpen, Sumayyah sama siapa coba?! Abinya? Wah,mimpi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=77&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNoSpacing">Subhanallah, dah lama banget rasanya aku nggak ikut kajian. Harus aku akui, sejak punya Sumayyah semuanya nggak sama lagi. Penasaran deh, gimana sih ummahat tuh bisa menuntut ilmu sambil gendong bayi?! Kalau aku, udah jelas banget deh, jangankan mencatat isi kajian, pulpennya aja nggak kepegang. Kalau aku megang pulpen, Sumayyah sama siapa coba?! Abinya? Wah,mimpi rasanya kalau Abi Sumayyah sampai rela meninggalkan tempat duduknya untuk menjaga Sumayyah sepanjang kajian&#8230;</p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>***</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><a href="http://radiorodja.googlepages.com/" target="_blank">Rodja 756 AM </a> pagi itu mengumumkan bahwa akan diadakan kajian islam ilmiyah khusus akhwat di Bekasi. Seperti biasa setiap kali ada informasi kajian aku cuma bisa bergumam, “Hhh, jadi kangen&#8230;” Iya, kangen aku duduk di antara para akhwat, tak ada yang didengar dan ditulis selain penjelasan sang ustadz.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Tiba2 suamiku bilang, “Ikut gih Ti! Nanti biar Sumayyah sama Abang aja.” Waktu itu Sumayyah masih 7 bulan.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Jeng jeng! Aku terkejut, “Yang bener, bang?”</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Iya, ikut aja&#8230; dah lama kan Muti nggak ikut kajian. Khusus akhwat lagi.”</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Aku tercengang, suamiku nyuruh aku ikut kajian? Dan lebih dari itu, mau jagain Sumayyah? Secara dia nggak pernah2 “megang” Sumayyah gitu lho?!</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Yang bener bang?” tanyaku sekali lagi, memastikan. “Iya, kemaren Abah Ajan ngajakin.” Abah Ajan adalah abang kandungku yang pertama, suaminya <a href="http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/benar-juga-kata-kak-endah/" target="_blank">Kak Endah</a>. “Katanya, Muti ikut aja kajian akhwat yang di bekasi, nemenin Kak Endah. Ntar kita anter, abis itu kita pulang, pas zhuhur kita jemput. Atau bisa juga kita nunggu di mobil sambil dengerin kajian.”kata suamiku.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Tapi tiba2 saja aku jadi ragu, “Kayaknya kalau Sumayyah sama Abang mah jangan pulang dulu. Ntar kalau Sumayyah mau nenen gimana?”</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Yah, pokoknya Muti sama Kak Endah ikut kajian aja deh. Ntar Sumayyah biar Abang yang ngurus.” </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Emang Abang bisa?” tanyaku menguji kesanggupan suamiku. “Yah,bisa aja Insya Allah.” kata suamiku, berusaha meyakinkan aku untuk ikut kajian dan tidak terlalu khawatir dengan Sumayyah. Aku sih emang pingin banget ikut kajian, lagian biar suamiku tuh juga tahu gimana aku sehari2 sama Sumayyah, he he he, betapa menghebohkannya ngurusin anak tuh. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Oke deh!” kataku mantap. Dengan senyum ceria aku terima tawaran suamiku. Bahagia rasanya, karena “hari umi” akhirnya datang juga&#8230; </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>***</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Bubur saring telah kusiapkan, begitu juga biskuit bayi dan ASIP <a href="http://asipasti.blogspot.com/2008/12/memerah-asi-dengan-tangan.html" target="_blank">(ASI Perah)</a> dalam botol dotnya, dan tak lupa air putih di botol dot yang satu lagi. Sebelum turun dari mobilnya Abah Ajan kupastikan semua telah kusampaikan. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Abang, ini bubur, makannya setengah jam lagi. Abis itu minum air putih ya&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Iya&#8230;” kata suamiku. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Sambil main2 nanti kasih biskuit ya.”</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Iya&#8230;” kata suamiku lagi. Aku pun turun dari mobil dan menyerahkan Sumayyah ke tangan abinya dan iapun langsung menggendongnya. “Nanti kalau rewel ajak jalan2 ya bang, ajak ngobrol&#8230; ” kataku lagi.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Iya&#8230;” kata suamiku.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Kalau dah mulai ngantuk, kasih ASIP yang di botol satu lagi ya&#8230;”<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Iya, iya, udah sana ikut kajian.” Kata suamiku sambil menjauhkan Sumayyah dariku.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Kalo nggak bisa nge-handle ke Muti-in aja ya&#8230;” kataku mengakhiri semua pesan yang ingin kusampaikan. Sambil mencium tangan mungil Sumayyah, kukatakan padanya, “Umi ngaji dulu ya Sumayyah&#8230; Assalaamu’alaykum.” Aku pun melangkah pergi.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Ada perasaan sedikit cemas ketika aku meninggalkannya, tapi aku berusaha untuk tetap tenang. Dengan niat menuntut ilmu aku berjalan bersama Kak Endah menuju masjid. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Kalo ada apa-apa, sms Muti ya&#8230;” kataku sambil menoleh ada suamiku. Teteeeeeep&#8230;</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>***</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Dan akhirnya&#8230; duduklah aku di antara akhwat itu. Dengan buku kecil di hadapanku dan pulpen di tangan kananku. Mendengarkan isi kajian dan berusaha mencatatnya. Sesekali pikiranku melayang, Sumayyah lagi ngapain ya sama abinya&#8230;</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Sedikit kekhawatiran menghinggapi hatiku beberapa kali. Mudah2an Sumayyah nggak ngerepotin abinya&#8230;</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>***</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Di sela2 kajian, Kak Endah kembali ke mobil untuk makan karena belum sarapan. Cukup lama hingga ia akhirnya sampai kembali. Dan nggak ada “ikut kajian” yang sempurna, Selalu ada obrolan di antaranya.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Kata Kak Endah, “Mut, lucu deh, ternyata&#8230; banyak juga yang nitipin anaknya sama abinya. Hi hi hi.” Aku tertawa kecil. Kata Kak Endah situasinya jadi serba kebalik gitu. Katanya para ayah jadi saling kenalan kayak ibu2 biasa kenalan, ‘berapa bulan anaknya’, ‘namanya siapa’. He he he he&#8230; lucu! Aku jadi senyum2 sendiri ngedengernya&#8230; Tapi kagum. Jarang2 kan bapak2 tuh bisa dititipin anak, apalagi anak2 juga biasanya dekat sama ibunya, jadi yah&#8230; hebatlah kalo anak bisa anteng sama bapaknya. Emang perlu juga anak tuh sesekali sama bapaknya, nggak sama<span>  </span>ibunya terus. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Sumayyah juga kayaknya asyik2 aja tuh sama abinya.” Kata Kak Endah setelah itu, “Tapi ya gitu, dibiarin ngerangkak di lantai yang kotor, tapi trus dipelin kok sama penjaga mesjidnya kayaknya, cuman baju Sumayyah dah terlanjur kotor.” </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>He he he. Alhamdulillah kalo Sumayyah anteng, mudah2an sampai akhir kajian, harapku. Akupun kembali mendengarkan kajian itu.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>***</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Tak terasa kajian pun selesai jauh sebelum waktu zhuhur tiba. Mungkin supaya masjidnya bisa dipersiapkan untuk sholat berjamaah bagi warga setempat, dan para akhwat pun bisa mengambil tempat yang seharusnya setelah sebelumnya hampir memenuhi masjid. Aku dan Kak Endah pun bergegas menuju mobil sambil menunggu waktu zhuhur. Tak sabar rasanya aku ingin bertemu Sumayyah, karena aku tahu sudah waktunya dia tidur. Aku khawatir bila ia rewel dan merepotkan abinya.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Namun apa yang kulihat&#8230; di bawah pepohonan itu, Abi Sumayyah sedang menggendong Sumayyah sambil mengayun-ayunnya. Ia membelakangiku sehingga aku tidak tahu apakah Sumayyah lagi dialihkan perhatiannya atau sedang apa. Dan ketika aku menepuk pundak suamiku, “Ssst&#8230;” katanya. Subhanallah, ternyata Sumayyah udah tidur&#8230;</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Sambil berbisik, “Abang&#8230; Sumayyah tidur??? Subhanallah&#8230; Kok bisa sih?” Suamiku tersenyum malu tapi bangga. “Ya ampun, Abang&#8230; Muti terharu deh&#8230;. Hebat Abang!” kataku memuji, masih dengan berbisik.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>***</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Akhirnya kami memutuskan untuk pulang dan sholat di perjalanan mengingat waktu Zhuhur masih lama. Di mobil, aku masih terkagum2 sama suamiku. Sementara Abah Ajan bercerita seperti yang Kak Endah ceritakan padaku sebelumnya. “Wah, Mut.” Katanya “Lucu dah bapak2 tadi pada megang anaknya. Jadi pada kayak ibu2, kenalan ‘namanya siapa?’ ‘umur berapa?’ Ada malah bapak2 gendong anaknya. Anaknya pake empeng dikalungin gitu. Trus kata bapaknya, ‘ini fulan, fulan masih belum bisa lepas dari empengnya nih,&#8230;’ </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Ha ha ha&#8230; aku jadi ketawa. Untung ibunya nggak lupa ngalungin empengnya, pikirku.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Trus ada lagi Mut.” Kata Abah Ajan, “Di jalanan Abah liat ada gerobak bolak-balik, bolak-balik. Abah bingung, kenapa ini gerobak mondar mandir aja. Eee&#8230; pas Abah liat, taunya ada bapak2 lagi dorong anak2nya naik gerobak itu.” </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Ha ha ha&#8230;. Kata Kak endah, “Anything deh biar anaknya nggak rewel&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Kalo Abi Sumayyah ngapain aja nih&#8230;” tanyaku. “Yah, diajak main aja terus&#8230;” Kata Suamiku. “Makanannya abis nggak Bang?” tanyaku. “Tuh, liat aja tempatnya&#8230; hampir abis kan? Biskuit abis satu. Minumnya juga lumayan. ASIP tadi Abang kasih sambil dia mo tidur”</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>He he he, “Pinter Abang, makasih ya Bang&#8230;” Kataku, “Nggak nyangka Abang sampe bisa nidurin Sumayyah juga. Hebat Abang!” pujiku sekali lagi.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Alhamdulillah.” Sahut suamiku. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>***</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Di rumah, aku masih terkagum2 sama suamiku. Dan sekali lagi aku berkata, “Abang hebat deh. Terharu nih Muti Abang bisa ngemong Sumayyah.” Suamiku pun masih saja dengan malu2 tersenyum tapi bangga.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Apa, Bang, hikmahnya?” tanyaku, berharap suamiku menyadari begitulah aku sehari2,</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>ngurusin Sumayyah, belum lagi ngurusin abinya. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Tapi tiba2 suamiku berkata, “Ternyata ngurus bayi tuh gampang&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Heee?! Aku terkejut. “Apa kau bilang?” kataku bercanda tapi serius nanyanya. Secara aku memuji suatu pekerjaan yang tentu memiliki suatu tingkat kesulitan tertentu bagi suamiku sehingga aku memujinya, tapi dia bilang pekerjaan itu gampang?!</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Iya&#8230;” sambung suamiku, “Heran Abang, kok ibu2 suka mengeluh ngurus anak tuh repot, capek, heboh&#8230; padahal ternyata gampang.”</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Gampang gimana, maksud abang?” tanyaku penasaran, apakah dia tahu apa yang sedang dia bicarakan. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Iya, kalo laper kasih makan, kalo haus kasih minum, kalo rewel ajak main, kalo ngantuk ya tidurin deh&#8230; Abang juga bisa!”</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Ha ha ha&#8230; aku jadi ketawa. Polos banget suamiku. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Ya kan?!” katanya, mulai nggak malu2 dia tersenyum tapi masih teteeep bangga. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Abang, abang&#8230;” kataku geleng2 kepala. Suamiku tertawa kecil sambil mempersiapkan diri karena dia tahu kalo istrinya akan segera melontarkan kata2 perlawanan bak peluru tajam yang akan menusuk hatinya.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Hey, Bang&#8230; betul memang kalo laper tuh kasih makan, kalo haus kasih minum. Tapi siapa yang nyiapin makanannya? Yang bangun pagi2 buat masak tuh siapa? Yang nyiapin minumannya, masukin ke botolnya, yang nyuci botolnya sebelum dimasukin tuh siapa?”</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Ha ha ha, suamiku tertawa&#8230; </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Abang kan tinggal terima beres aja!” kataku sewot, tapi bercanda.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Sekarang coba&#8230;” kataku, “Sumayyah ngompol nggak? Pup nggak? Nggak kan?! Itu mah belum seberapa. Dan Abang bilang itu gampang?!” </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Suamiku pun tertawa lagi&#8230; kayaknya bukannya dia nggak tahu apa yang dia bicarain tapi kayaknya dia lagi godain aku deh. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Abang sambil masak juga nggak?! Sambil nyuci baju juga nggak?! Tau nggak Abang nyuci baju Sumayyah sama baju kita tuh nggak bisa sekaligus? Harus dipisah, baaang&#8230; itu artinya dua kali kerja. Abang tau nggak itu? Dan Abang bilang itu gampang?!”</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Ha ha ha&#8230; suamiku tertawa lagi. “Iya iya, Ti.” kata suamiku berusaha menghentikanku yang nyerocos terus. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Mau disebutin semua nih?! Hilang deh pahalanya&#8230;” kataku berlagak marah2. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>He he he, “Abang cuma bercanda kok&#8230;” katanya.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Yakin nih cuma bercanda? Dah keburu melayang nih pahala muti.” kataku, masih berlagak marah2. He he he, suamiku nyengir aja&#8230;</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Tapi Muti juga cuma bercanda kok, Bang&#8230;He he he&#8230;” Kataku melembut, sambil akhirnya tersenyum dengan tulus. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>***</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Karena bagaimanapun juga, dua jam menjaga Sumayyah adalah suatu hal yang hebat bagiku yang suamiku lakukan untukku.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>-mutiara-</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>yang menanti <a href="http://aimi-asi.org/2009/01/jadwal-kelas-edukasi-jan-mar-2009/">kelas edukASI AIMI</a>, saatnya Abi beraksi lagi.</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarasuamiku.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarasuamiku.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarasuamiku.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarasuamiku.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=77&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2009/01/20/ketika-umi-ikut-kajian-karena-umi-ingin-dimengerti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">umi sumayyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kalau Abang Mati Duluan</title>
		<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2009/01/13/kalau-abang-mati-duluan/</link>
		<comments>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2009/01/13/kalau-abang-mati-duluan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 00:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umi sumayyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Romantika dalam Rumah Tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarasuamiku.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[“Jangankan nanya, ngebayangainnya aja nggak sanggup!” Kata seseorang waktu kuminta dia bertanya kepada suaminya bahwa bila suaminya meninggal duluan, boleh nggak dia nikah lagi sama laki2 lain. 
He he, iseng banget ya permintaanku?! 
 Trus aku bilang aja, “Ya nggak usah dibayangin lah, iseng aja tanya. Atau nanyanya gini&#8230; “kalo aku yang mati duluan, kamu bakalan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=47&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNoSpacing"><span>“Jangankan nanya, ngebayangainnya aja nggak sanggup!” Kata seseorang waktu kuminta dia bertanya kepada suaminya bahwa bila suaminya meninggal duluan, boleh nggak dia nikah lagi sama laki2 lain. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>He he, iseng banget ya permintaanku?! </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> Trus aku bilang aja, “Ya nggak usah dibayangin lah, iseng aja tanya. Atau nanyanya gini&#8230; “kalo aku yang mati duluan, kamu bakalan nikah lagi nggak?”&#8230;gitu&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Hi hi hi, penasaran aku, apa jawaban para suami. Kalau jawaban suamiku sih aku tahu. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>***</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Waktu itu aku baru saja mengetahui bahwa tetanggaku yang telah menjanda lebih dari dua tahun itu udah nikah lagi. Kabar itu pun aku sampaikan kepada suamiku. Kukatakan padanya, “Bang, ternyata ibu itu dah nikah lagi.” </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Nggak penting banget ya ngasih tahu suamiku?! Tapi berhubung tetangga dekat, kayaknya suamiku perlu tahu juga deh, supaya nggak kaget gitu lho, soalnya kan pas dia nikah kita nggak tahu. Ntar kalo ada orang yang ngomong macam2, suamiku jadi bisa ngebelain.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Trus suamiku tiba2 bilang, “Wah, kasian dong suaminya yang pertama.”</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Kok kasian?” tanyaku tiba2 juga. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Iya&#8230;” jawab suamiku singkat. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Aku pun teringat hadits tentang shahabiyah yang tidak menikah lagi setelah suaminya meninggal dunia.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>***</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Dari Maimun bin Mihran, ia mengatakan: “Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘anhu meminang Ummud Darda’, tetapi ia menolak menikah dengannya seraya mengatakan, ‘Aku mendengar Abud Darda’ mengatakan: ‘Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, artinya : “Wanita itu bersama suaminya yang terakhir,’ atau beliau mengatakan, ‘untuk suaminya yang terakhir&#8221;[1]</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Dari ‘Ikrimah bahwa Asma’ binti Abi Bakar menjadi isteri az-Zubair bin al-‘Awwam, dan dia keras terhadapnya. Lalu Asma’ datang kepada ayahnya untuk mengadukan hal itu kepadanya, maka dia mengatakan, “Wahai puteriku, bersabarlah! Sebab, jika wanita memiliki suami yang shalih, kemudian dia mati meninggalkannya, lalu ia tidak menikah sepeninggalnya, maka keduanya dikumpulkan di dalam Surga” [2]</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>***</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Trus iseng2 aku tanya sama suamiku, “Emangnya kalo abang mati duluan, muti nggak boleh nikah lagi?” </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Kata suamiku, “Ya enggak dooong&#8230;” </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Ha ha ha&#8230; aku jadi ketawa. Walaupun sebenarnya kata2 itu kedengaran indah banget bagiku.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Tapi kalo muti yang mati duluan, abang bakalan nikah lagi nggak?” tanyaku lagi, penasaran. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Dengan cepat suamiku menjawab, “Plis deh, Ti&#8230; ntar siapa yang ngurusin abang?”</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Ha ha ha&#8230; aku jadi tambah ketawa. Maksudnya “ntar siapa yang ngurusin abang, jadi mudah2an aku jangan mati duluan.”? Atau “Ntar siapa yang ngurusin abang, jadi abang bakalan nikah lagi.”? He he he&#8230; Wallahua’lam.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Tapi bang,” lanjutku, “kalo abang mo nikah lagi, toh muti juga udah mati, jadi kan nggak akan cemburu lagi ya?!” </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Iya, jadi nggak apa2 khaaan?!” goda suamiku.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Huuu, dasar!” Kataku sedikit sewot, bercanda. “Tapi nggak apa2 deh, bang. Daripada ntar abang kesepian di surga.” kataku, “Kayak bidadarinya pada mau aja sama abang.” [3]</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Ha ha ha&#8230; ! Aku dan suamiku tertawa lepas. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Pede banget ya kita, kayak bakalan masuk surga aja&#8230;” kataku tersadar&#8230; (Aamiin&#8230;)</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Tapi di surga mah nggak ada cemburu2an ya bang, sama bidadari?” kataku. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Ya enggak lah, makanya jadi istri sholehah. Ntar suaminya diambil bidadari duluan lho [4].” Kata suamiku.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>“Ya udah, bang, kalo gitu bilang aja sama bidadarinya kalo abang udah punya istri.” [5]</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Ha ha ha ha ha! </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Aku dan suamiku pun tertawa lagi&#8230; He he he!</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>***</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Subhanallah, percakapan yang tak terlupakan&#8230; mencerahkan hari, membuat berfikir.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>-mutiara-</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><span>[1]. As-Silsilah ash-Shahiihah, Syaikh al-Albani (no. 1281), shahih.</span></span><span><br />
</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><span>[2]. As-Silsilah ash-Shahiihah, Syaikh al-Albani (III/276), shahih. </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><span>[3] (a) Ad Dukhan: 51-54, artinya: “<span class="gen">Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman</span><span class="MsoHyperlink"><span> </span></span><span class="gen">(yaitu) di dalam taman-taman dan mata-air-mata-air;</span><span class="MsoHyperlink"><span> </span></span><span class="gen">mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari.” (b) </span>At Thuur: 17- 20, artinya: “<span class="gen">Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan,</span><span class="MsoHyperlink"><span> </span></span><span class="gen">mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka. (Dikatakan kepada mereka): &#8220;Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan&#8221;, mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.”</span></span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> [4]. HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, artinya: “Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia melainkan istrinya dari kalangan bidadari (di surga) akan mengatakan: ‘Jangan kamu sakiti dia, semoga Allah melaknatmu. Sesungguhnya dia di sisimu hanyalah sebagai tamu dan dalam waktu yang dekat dia akan berpisah denganmu untuk bergabung bersama kami.’” </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>[5]. Mengutip kata2 kakak ipar.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><em><strong>Catatan:</strong> Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi wanita manapun yang menikah lagi setelah ditinggal oleh suaminya. Karena sesungguhnya di antara shahabiyah –radhiyallahu ‘anhunna- ada pula yang menikah lagi sepeninggal suaminya. Dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin –rahimahullah- pernah ditanya: “</em><span><span><em>Apabila seorang wanita memiliki dua suami di dunia (setelah pisah dengan suami pertama, menikah lagi dengan suami kedua), lalu siapa di antara keduanya yang akan menjadi suaminya di surga kelak?” Beliau menjawab: “Apabila seorang wanita ketika di dunia memiliki dua suami maka kelak di surga ia dipersilakan untuk memilih siapa di antara dua suaminya yang ia inginkan untuk menjadi pendampingnya di surga. Bila seorang wanita tidak sempat menikah ketika di dunia maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menikahkannya dengan lelaki yang menyenangkan hatinya di surga. Karena memang kenikmatan di surga tidak hanya diberikan kepada para lelaki namun juga untuk para wanita, sementara termasuk kenikmatan surga adalah memiliki pasangan hidup.”</em></span></span><span><span><em> </em></span></span><span><span><em>(Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 2/53, sebagaimana dalam Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah, 1/88)</em><em></em></span></span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><span><em> Wallahua’lam bis showab.</em></span></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarasuamiku.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarasuamiku.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarasuamiku.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarasuamiku.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=47&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2009/01/13/kalau-abang-mati-duluan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">umi sumayyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;tuk calon suamiku&#8230;&#8221;</title>
		<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2009/01/11/tuk-calon-suamiku/</link>
		<comments>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2009/01/11/tuk-calon-suamiku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 00:00:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umi sumayyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarasuamiku.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Begitu judul file txt di laptop suamiku, tulisanku dulu sebelum nikah… untuk (mantan) calon suamiku, suamiku sekarang.
 
***
 
WAHAI CALON SUAMIKU
 
ketahuilah&#8230;
sesungguhnya tidaklah aku ingin menikah melainkan karena aku tidak ingin mati dalam keadaan agamaku ini hanya setengah. [1]
dan tidaklah aku ingin menjadi orang yang menikah melainkan karena aku meyakini janji Alloh bagi orang yang menikah itu benar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=45&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNoSpacing"><span>Begitu judul file txt di laptop suamiku, tulisanku dulu sebelum nikah… untuk (mantan) calon suamiku, suamiku sekarang.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>***</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>WAHAI CALON SUAMIKU</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>ketahuilah&#8230;</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>sesungguhnya tidaklah aku ingin menikah melainkan karena aku tidak ingin mati dalam keadaan agamaku ini hanya setengah. [1]</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>dan tidaklah aku ingin menjadi orang yang menikah melainkan karena aku meyakini janji Alloh bagi orang yang menikah itu benar adanya.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>tahukah kau bahwa setiap hubungan suami isteri yang halal itu adalah sedekah yang dapat mendatangkan pahala?! [2]</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>tahukah kau bahwa hanya dengan merengkuh tangan isteri maka berguguranlah dari jari jemari dosa-dosa?! [3]</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>dan tahukah kau bahwa bila seorang isteri meninggal dunia sementara suaminya dalam keadaan ridha padanya maka ia akan masuk surga?! [4]</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>dan bila semasa hidup dia taat kepada Alloh dan taat pula kepada suaminya maka ia boleh memasukinya dari pintu mana pun yang ia suka?! [5]</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>duhai, calon suamiku… </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>tidak lah aku ingin menjadi seorang isteri melainkan karena janji Alloh yang satu ini.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>karena sesungguhnya aku takut mengetahui bahwa penghuni neraka itu kebanyakan wanita. [6]</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>dan hanya kepada Alloh aku berharap perlindunganNya dan petunjukNya di manapun aku berada.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>wahai calon suamiku…</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>telah ditakdirkan Alloh bahwa akhirnya engkau memilihku.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>semoga inilah perlindungan dan petunjuk yang Dia berikan agar aku bisa mendapatkan kebenaran janji Alloh itu…</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>namun, wahai calon suamiku,</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>aku ingin kau menyadari bahwa aku bukanlah makhluk yang sempurna seperti juga dirimu.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>maka mengertilah bahwa setelah kita menikah nanti akan banyak hal baru yang akan sama-sama kita ketahui</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>insya Alloh, akan kujaga apa yang harus kujaga darimu,</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>dan kuharap kau pun menjaga apa yang harus kau jaga dariku. [7]</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>bila kau menemukan ketidaksukaanmu padaku karena kekuranganku</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>maka bersabarlah, calon suamiku…</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>karena kadang-kadang pada sesuatu yang tidak kau sukai, Alloh menjadikan kebaikan padanya. [8]</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>temukanlah kelebihan yang kau sukai dari diriku,</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>bukankah kau memiliki alasan mengapa kau ingin menikahiku?! [9]</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>tetapi, wahai calon suamiku…</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>bila ketidaksukaan yang kau temukan itu adalah karena kesalahanku,</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>maka nasehatilah aku, pisahkanlah tempat tidurku dan pukullah aku bila akhirnya aku meninggalkan kewajibanku. [10]</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>namun janganlah kau bermaksud menyakitiku hingga membahayakan hidupku karena aku adalah bagian dari dirimu. [11]</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>janganlah kau luruskan kebengkokanku, karena aku bisa patah [12] </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>tetapi berhati-hatilah terhadapku, karena aku bagaikan gelas kaca [13].</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>ingatlah bahwa manusia yang baik adalah yang baik pada keluarganya,</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>dan lelaki yang baik adalah yang baik pada isterinya. [14]</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>dan cukuplah engkau menjadikan aku seseorang yang patuh kepadamu dengan menjadi seseorang yang pantas aku patuhi.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>sehingga aku mempunyai alasan mengapa aku harus berhias setiap hari,</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>dan mengapa aku harus menjaga diriku, kehormatan dan juga hartamu saat kau tidak ada di sisi… [15]</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>jadikanlah aku sebaik-baik perhiasan duniamu [16], hartamu yang paling berharga [17]…</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>-Mutiara-</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>*Footnote</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><span>1.<span>     </span></span></span><span>Hadits Riwayat Al-Hakim, artinya: Barangsiapa menikah, maka dia telah menguasai separuh agamanya, karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><span>2.<span>     </span></span></span><span>Hadits Riwayat Muslim, artinya: dan kalian jima’ dengan isteri pun sedekah. Bukankah bila syahwat disalurkan pada tempat yang haram maka akan mendapatkan dosa? Maka demikian pula bila disalurkan pada tempat yang halal, maka akan mendapatkan pahala.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><span>3.<span>     </span></span></span><span>Riwayat Maisarah, artinya: Sungguh, ketika suami isteri saling memperhatikan, maka Allah memperhatikan keduanya dengan penuh rahmat. Manakala suami merengkuh telapak tangan isteri (meremas-remasnya), berguguranlah dosa-dosa keduanya dari sela-sela jari-jemari.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><span>4.<span>     </span></span></span><span>Hadits Riwayat Ibnu Majah, artinya: Siapapun wanita yang meninggal dunia sedang suaminya meridhainya maka dia akan masuk surga. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><span>5.<span>     </span></span></span><span>Hadits Riwayat Ath Thabrani, artinya: jika seorang wanita mengerjakan shalat<span>  </span>5 waktu, berpuasa satu bulan penuh (Ramadhan), dan mentaati suaminya, maka hendaklah ia memasuki dari pintu surga manapun yang dia kehendaki.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><span>6.<span>     </span></span></span><span>Hadits Riwayat Bukhari, artinya: Telah diperlihatkan api naar kepadaku, kulihat mayoritas penghuninya adalah kaum wanita.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><span>7.<span>     </span></span></span><span>(a) Hadits Ibnu Abi Syaibah, artinya: Di antara manusia yang paling rendah derajatnya di sisi Allah padahari kiamat adalah seorang suami yang jima’ dengan isterinya lalu menyebarkan rahasianya. (b) Hadits At Tirmidzi, artinya: dan hak kalian (suami) atas mereka (isteri) adalah mereka tidak mengajak orang yang kalian benci untuk mendatangi tempat tidur kalian serta tidak mengizinkan orang yang kalian benci memasuki rumah kalian</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><span>8.<span>     </span></span></span><span>An Nisa’: 19, artinya: Dan bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><span>9.<span>     </span></span></span><span>Hadits Riwayat Bukhari, artinya: Seorang wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunanannya,, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama niscaya kamu akan beruntung.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><span>10.<span>  </span></span></span><span>An Nisa’: 34, artinya: Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya (meninggalkan kewajiban sebagi isteri), maka nasehatilah, pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta’atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><span>11.<span>  </span></span></span><span>(a) Al-Hujurat: 10, artinya : Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara&#8221; (b) Hadits Riwayat: artinya : Perumpamaan kaum muslimin dalam cinta kasih, dan lemah lembut serta saling menyayangi antara mereka seperti satu jasad (tubuh) apabila satu anggotanya merasa sakit, maka seluruh jasadnya ikut merasa sakit. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><span>12.<span>  </span></span></span><span>Hadits Riwayat Bukhari, artinya: Bersikap baiklah terhadap wanita. Karena mereka itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atas. Kalau kamu berusaha meluruskannya, maka ia akan patah. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><span>13.<span>  </span></span></span><span>Hadits Riwayat Bukhari, artinya: Wahai Anjasyah, perlahanlah, sebab bawaanmu adalah gelas-gelas kaca.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><span>14.<span>  </span></span></span><span>(a) Hadits Riwayat At Tirmidzi dan Ibnu Majah, artinya: sebaik2 kalian adalah yang baik kepada keluarganya. (b) Hadits Riwayat Imam Hakim: artinya: sebaik-baik kalian adalah yang baik kepada isterinya</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><span>15.<span>  </span></span></span><span>Hadits Riwayat Ahmad, artinya: Apakah kalian mau saya beritahu tentang simpanan seseorang yang paling berharga? Yaitu wanita sholihah yang suaminya menjadi bahagia bila memandangnya, bila diperintah segera dipenuhi, dan bila suaminya tidak ada dia menjaga kehormatannya.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><span>16.<span>  </span></span></span><span>Hadits Riwayat Muslim, artinya: Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><span>17.<span>  </span></span></span><span>Lihat No. 15</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarasuamiku.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarasuamiku.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarasuamiku.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarasuamiku.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=45&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2009/01/11/tuk-calon-suamiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">umi sumayyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kata-kata Mutiara</title>
		<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2009/01/09/kata-kata-mutiara/</link>
		<comments>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2009/01/09/kata-kata-mutiara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2009 00:00:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umi sumayyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarasuamiku.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Kadang kita lihat orang punya apa yang nggak kita punya.
Mereka menjadi yang kita nggak atau belum menjadi sepertinya.
Kita mengira betapa beruntungnya mereka,
Dan bertanya-tanya kapan ya nanti kita mengalaminya…
 
Jangan sedih bila kita nggak atau belum mendapatkan apa yang kita inginkan.
Karena memang tidak setiap keinginan langsung kita dapatkan.
Kadang Allah mengabulkan doa kita persis seperti yang kita harapkan,
Tapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=39&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNoSpacing">Kadang kita lihat orang punya apa yang nggak kita punya.</p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span>Mereka menjadi yang kita nggak atau belum menjadi sepertiny</span><span lang="EN-US">a.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US">Kita mengira betapa beruntungnya mereka,</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US">Dan bertanya-tanya kapan ya nanti kita mengalaminya…</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US">Jangan sedih bila kita nggak atau belum mendapatkan apa yang kita inginkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US">Karena memang tidak setiap keinginan langsung kita dapatkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US">Kadang Allah mengabulkan doa kita persis seperti yang kita harapkan,</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US">Tapi kadang menggantikannya dengan yang serupa bahkan lebih baik darinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US">Percayalah Allah itu Maha Mengabulkan Doa,</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US">Walaupun terkabulnya bisa ditunda sampai nanti di akhirat sana.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US">Di sisi lain…</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US">Ketika akhirnya kita telah menjadi yang mereka tidak atau belum menjadi sepertinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US">Kitapun melihat mereka nggak punya apa yang kita punya</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US">Kita mengira betapa beruntungnya kita,</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US">Dan lupa kalau dulu kita pun pernah seperti mereka…</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US">Jangan bangga bila kita telah mendapatkan apa yang kita inginkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US">Karena yang terjadi pada kita sama seperti mereka yang tidak atau belum mendapatkan apa-apa.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US">Bagi mereka itu ujian mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US">Dan sesungguhnya bagi kita inilah juga ujian kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US">***</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US">… Wa nabluukum bisy-syarri wa khairi fitnatan</span><span>, wa ilayna turja’uun</span><span lang="EN-US">… Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya)</span><span>, dan kepada Kamilah kamu dikembalikan.</span><span lang="EN-US"> [Al Anbiyaa’: 35]</span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span lang="EN-US">-Mutiara-</span><span lang="EN-US"> </span><span lang="AR-SA"></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarasuamiku.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarasuamiku.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarasuamiku.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarasuamiku.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=39&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2009/01/09/kata-kata-mutiara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">umi sumayyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Buah Hatiku &amp; Suamiku</title>
		<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2007/10/22/buah-hatiku-suamiku/</link>
		<comments>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2007/10/22/buah-hatiku-suamiku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Oct 2007 01:13:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umi sumayyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sederhana nan Bermakna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2007/10/22/buah-hatiku-suamiku/</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, telah lahir buah hati kami pada tanggal 29 ramadhan 1428 H atau 11 Oktober 2007 M, perempuan dengan berat 3.1 kg dan tinggi 47 cm.
Semoga Allah memberinya hidayah, taufik, ketaqwaan, dan kecukupan, menjadikannya anak yang sholehah, cerdas, hafidzoh al-quran dan memberi kami rizqi berupa baktinya kepada kami kelak&#8230;
Nama putri kami : S U M [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=16&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Alhamdulillah, telah lahir buah hati kami pada tanggal 29 ramadhan 1428 H atau 11 Oktober 2007 M, perempuan dengan berat 3.1 kg dan tinggi 47 cm.</p>
<p>Semoga Allah memberinya hidayah, taufik, ketaqwaan, dan kecukupan, menjadikannya anak yang sholehah, cerdas, hafidzoh al-quran dan memberi kami rizqi berupa baktinya kepada kami kelak&#8230;</p>
<p>Nama putri kami : S U M A Y Y AH (سمية) seperti nama salah satu shohabiyah Nabi shalalallahu &#8216;alaihi wasallam.</p>
<p>SUMAYYAH binti KHAYYAT -radhiyallahu &#8216;anhaa wa ardhohaa-<br />(سمية بنت خياطّ)</p>
<p>Beliau adalah salah satu shohabiyah Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam, seorang hamba sahaya, budak Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah, ibunda Ammar bin Yasir. Beliau adalah orang ketujuh yang masuk Islam.</p>
<p>Beliau dinikahkan oleh Abu Hudzaifah kepada Yasir bin Amir, salah satu hamba sahaya Abu Hudzaifah juga. Setelah menikah Sumayyah dan Yasir bin Amir dikaruniai putra bernama Ammar, dan kemudian Abu Hudzaifah memerdekakan mereka.</p>
<p>Keluarga Yasir termasuk orang-orang yang pertama kali memeluk Islam.</p>
<p>Mujahid berkata: &#8220;Yang pertama-tama memeluk Islam di Mekah ada 7 orang: Rasulullah, Abu Bakar, Bilal, Khatab, Suhaib, Ammar, Sumayyah.</p>
<p>Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam dan Abu Bakar mendapat perlindungan dari kabilahnya. Namun selain keduanya, orang-orang musyrik menangkap dan menyakiti mereka, memakaikan kepada mereka baju besi dan memanggang mereka di tengah padang pasir di terik panas matahari.</p>
<p>Ibnu Ishaq menyatakan dalam Maghazi bahwa keluarga Ammar bin Yasir menceritakan bahwa Sumayyah dihukum oleh Bani Al-Mughira karena memeluk Islam. Namun ia menolak untuk meninggalkan Islam.</p>
<p>Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam melihat Ammar, ibunya Sumayyah dan ayahnya Yasir ketika mereka tengah disiksa di Al-Abtah pada bulan Ramadhan di Mekah, kemudian beliau shalallahu &#8216;alaihi wasallam berkata: &#8220;Bersabarlah wahai keluarga Ammar, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga&#8221;</p>
<p>Abu Jahal kemudian mendatangi Sumayyah dan menusukkan sangkurnya ke tubuh Sumayyah, yang mengakibatkan kematiannya.</p>
<p>Sumayyah merupakan wanita pertama yang mati syahid mempertahankan aqidahnya.</p>
<p>Ibnu Sa&#8217;ad meriwayatkan bahwa yang pertama kali syahid dalam Islam adalah Sumayyah, ibunda Ammar bin Yasir. Ia adalah seorang wanita tua yang kecil. Ketika Abu Jahal terbunuh di perang Badar, Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam berkata kepada Ammar: &#8220;Allah telah membunuh orang yang membunuh ibumu.&#8221;</p>
<p>sumber: Al-Isabah Ibnu Hajar Al-Asqolani dan Thobaqot Al-Kubra Ibnu Sa&#8217;ad
<div></div>
<div>-Abu Sumayyah Alfi Khair-</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mutiarasuamiku.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mutiarasuamiku.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarasuamiku.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarasuamiku.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarasuamiku.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarasuamiku.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=16&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2007/10/22/buah-hatiku-suamiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">umi sumayyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasehat Memilih Istri</title>
		<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/nasehat-memilih-istri/</link>
		<comments>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/nasehat-memilih-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 00:56:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umi sumayyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/nasehat-memilih-istri/</guid>
		<description><![CDATA[Sedih aku. Kenapa ada ikhwan yang menolak akhwat hanya gara-gara fisik?! Padahal akhwat itu baik, cerdas, faham agama pula. Pokoknya insya Allah ia sholihah, tapi kenapa ada ikhwan yang menolaknya hanya gara-gara dia tidak cantik?!
Mereka, para ikhwan yang mementingkan kecantikan itu, mungkin beralasan dengan berkata bahwa cantik kan termasuk di dalam syarat-syarat wanita untuk dinikahi?! [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=15&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sedih aku. Kenapa ada ikhwan yang menolak akhwat hanya gara-gara fisik?! Padahal akhwat itu baik, cerdas, faham agama pula. Pokoknya insya Allah ia sholihah, tapi kenapa ada ikhwan yang menolaknya hanya gara-gara dia tidak cantik?!</p>
<p>Mereka, para ikhwan yang mementingkan kecantikan itu, mungkin beralasan dengan berkata bahwa cantik kan termasuk di dalam syarat-syarat wanita untuk dinikahi?! Mereka pun mungkin akan bilang bahwa haditsnya shahih lho! Tapi sayang, mungkin mereka nggak baca sampai akhir kalimat bahwa memilih wanita yang baik agamanya itu lebih selamat!</p>
<p>Mereka mungkin terus bilang, kalau mencari istri yang baik agamanya yang kebetulan cantik boleh khaaan?! Ya memang boleh, tapi pas kebetulan nggak cantik langsung di tolak khaaan?!</p>
<p>***</p>
<p>Ah, andai saja mereka tahu bahwa di zaman sekarang ini orang yang kaya itu akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. Dan istri yang hebat di zaman ini adalah yang sanggup hidup miskin. Dan istri yang bijak di zaman ini adalah yang sanggup hidup kaya. Semua kan bisa bilang ‘saya siap hidup susah’ tapi dia nggak akan sanggup kalau nggak hebat. Semua juga siap hidup enak tapi dia akan bangkrut kalau nggak bijak.</p>
<p>Andai saja mereka tahu bahwa istri yang hebat dan bijak itu hanya ada pada istri yang sholihah. Dia lah yang qanaah, yang sanggup hidup dalam keadaan apapun yang diberikan suaminya kepadanya. Dia akan merasa cukup atas apa yang ada. Dan akan bersyukur atas kehidupan yang menyenangkan seperti dia akan bersabar atas kehidupan yang menyusahkan.</p>
<p>***</p>
<p>Mungkin para ikhwan itu hanya memaknai wanita yang baik agamanya itu sebagai wanita yang pakai jilbab panjang dan manis kalau tersenyum. Yang mungkin dari jilbab wanita tersebut mereka bisa menilai bahwa ia faham agama, dan dari senyumannya mungkin mereka bisa menilai bawa ia baik akhlaknya. Tapi mereka tidak tahu bahwa panjangnya jilbab dan manisnya senyuman hanyalah apa yang tampak di luar, sedangkan yang tidak tampak akan mereka ketahui setelah menikah.</p>
<p>Mereka akan tahu istri mereka sebenarnya ketika mereka sudah serumah dengannya, bukan di rumah orang tua ataupun di rumah mertua. Karena di rumah sendiri akan tampaklah seorang istri itu sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai anak orangtuanya yang manja dan selalu diturutkan keinginannya, ataupun sebagai menantu yang rajin dan akan selalu menampakkan kebaikan kepada mertuanya.</p>
<p>Mungkin sebaiknyalah orang-orang yang sudah menikah itu tinggal di rumahnya sendiri, walaupun harus kontrak atau kredit. Karena di rumah itu akan tampaklah sifat asli istri dalam menyikapi hidup yang diberikan suaminya kepadanya. Mereka akan tahu apakah jilbab isteri mereka membuktikan kefahamannya dalam agama, dan apakah manis senyuman mereka membuktikan kebaikan akhlaknya. Tetap dia pakaikah jilbab yang panjang itu ketika terik matahari panas menghujam?! Tetap adakah senyuman manis itu ketika lebat turunnya hujan?!</p>
<p>***</p>
<p>Isteri yang sholihah, dialah yang qanaah.<br />Yang tahu hari tak selalu cerah tapi dia tak berubah.</p>
<p>Istri yang sholihah itu tidak harus kaya, kalau pun kaya Alhamdulillah.<br />Dia juga tidak harus cantik, kalau pun cantik itu hadiah.</p>
<p>Isteri yang sholihah itu adalah yang qana’ah, senangnya berada di rumah.<br />Keluar rumah hanya dengan suaminya atau setidaknya dengan izinnya.<br />Dia tahu barang-barang telah mengalami kenaikan harga,<br />dan tidak menyusahkan suaminya dengan segala tuntutannya.</p>
<p>Ada juga memang wanita yang bekerja di luar rumah,<br />tapi yang sholihah, dia mau berhenti kerja kalau suaminya memerintahkannya,<br />dan tetap bekerja kalau suaminya meridhoinya.</p>
<p>***</p>
<p>Kau mungkin bingung bagaimana mungkin mendapatkan wanita shalihah<br />sementara sedari tadi aku terus berkata yang shalihah adalah yang qanaah,<br />sedangkan qanaah itu tidak tampak di mata.</p>
<p>Yang jelas, nggak usah muluk-muluk cari yang cantik,<br />karena yang cantik seperti bintang di langit.<br />Mungkin dia mudah ditemukan, bahkan di gelap malam,<br />tetapi sadarilah dia tak mudah dijangkau tangan.<br />Ketika itu pun kau mungkin melihatnya berkilauan,<br />tetapi sadarilah ketika siang dia menghilang.</p>
<p>Isteri yang sholihah itu seperti mutiara di dasar laut,<br />tak selalu putih terkadang terbungkus lumut.<br />Di dalam cangkangnya dia senang berada,<br />menjaga diri dan tak mudah digoda.</p>
<p>Kau mungkin harus menyelam untuk menemukannya.<br />Tapi kau akan tahu seberharga apa dia ketika kau mendapatkannya.</p>
<p>***</p>
<p>&#8220;Tiada kekayaan yg diambil seorang mukmin setelah takwa kepada Allah yang lebih baik dari istri sholihah.” [Hadits Riwayat Ibn Majah]</p>
<p>-Mutiara-<br />yang berusaha menjadi seberharga namanya…</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mutiarasuamiku.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mutiarasuamiku.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarasuamiku.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarasuamiku.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarasuamiku.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarasuamiku.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=15&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/nasehat-memilih-istri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>58</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">umi sumayyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lontong Balap Surabaya</title>
		<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/lontong-balap-surabaya/</link>
		<comments>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/lontong-balap-surabaya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 07:55:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umi sumayyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resep-resep]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/lontong-balap-surabaya/</guid>
		<description><![CDATA[Waktu pertama kali aku pulang ke Jakarta, setelah dua bulan lebih di Surabaya, tidak banyak yang bisa kuceritakan kepada keluarga dan teman-temanku tentang makanan apa saja yang telah aku cicipi di sana. Daerah mana yang telah kukunjungi saja aku tidak bisa menjawabnya. Karena tempat-tempat yang pernah aku datangi di Surabaya hanyalah Bandara Juanda ketika pertama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=14&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Waktu pertama kali aku pulang ke Jakarta, setelah dua bulan lebih di Surabaya, tidak banyak yang bisa kuceritakan kepada keluarga dan teman-temanku tentang makanan apa saja yang telah aku cicipi di sana. Daerah mana yang telah kukunjungi saja aku tidak bisa menjawabnya. Karena tempat-tempat yang pernah aku datangi di Surabaya hanyalah Bandara Juanda ketika pertama kali aku sampai dari Jakarta, Pasar Turi ketika aku membeli peralatan rumah tangga yang belum ada keesokan harinya, Masjid Baiturrahman di Jalan Juwingan ketika ada pengajian di sana, dan Indomaret ketika aku ingin sekali-sekali belanja di tempat yang ada AC-nya. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.</p>
<p>Sebenarnya sih untuk jalan-jalan dan mencicipi makanan Surabaya bisa kapan saja. Karena suamiku libur tiap hari Sabtu dan Minggu. Dan sehari-hari pun suamiku pulang cepat, jam setengah dua siang. Tapi yang jadi masalah sebenarnya itu kendarannya. Waktu naik angkot ke Pasar Turi saja perasaan kok yo mewuter-mewuter angkote, ngono lho?! Waktu ke Jalan Juwingan juga agak-agak nyasar sampai-sampai kami meneruskan perjalanan naik becak, jadi serasa turis gitu di tengah kota naik becak! Waktu ke Indomaret juga kami harus naik sepeda, soalnya kalau naik angkot harus mewuter-mewuter lagi, padahal nggak terlalu jauh Indomaret-nya. Kalau naik becak, jalurnya juga sama kayak naik angkot, wah, entah berapa itu ongkosnya! Kalau naik sepeda kan lebih romantis… Walaupun pulangnya ada yang minta dipijetin!</p>
<p>Intinya… aku nggak punya banyak cerita tentang Surabaya, apalagi tentang makanannya. Kalaupun ada warung-warung makanan dekat rumah kontrakan kami, di Jakarta juga banyak yang jual makanan itu, nggak ada yang spesial. Soto ayam, sate ayam, mie goreng, nasi goreng… aku juga bisa bikin sendiri! Lagian aku juga nggak begitu penasaran kok untuk mencicipi makanan khas Surabaya, sampai suatu hari temanku mengirim email. </p>
<p>Waktu itu aku membacanya ketika aku di Jakarta. Dia kaget mengetahui aku tinggal di Surabaya sekarang dan bertanya, “Udah nyobain lontong balap belum?!” </p>
<p>Mungkin dia sedikit basa-basi ketika menanyakan hal itu, tapi dalam hatiku… Lontong balap? Kayaknya aku pernah denger deh “lontong balap” tapi aku nggak tau kalo itu makanan khas Surabaya. Pasti terkenal sekali makanan itu sampe aku ditanyain udah nyobain atau belum! Dan gengsi juga nih kalo bilang belum pernah makan, udah dua bulan gitu lho di Surabaya! </p>
<p>Akhirnya email itu nggak aku balas. Tapi sejak itu aku mulai membayangkan seperti apa rupa lontong balap itu. Aku pun berkata pada suamiku, “Abang, nanti kalau kita udah di Surabaya lagi, cobain lontong balap yuk!” Suamiku pun setuju dan ikut antusias.</p>
<p>Sekembalinya aku ke Surabaya, semuanya kembali seperti semula. Aku sibuk di rumah dan suamiku sibuk dengan kuliahnya. Tanpa aku sadari aku telah lupa pada keinginanku untuk mencicipi lontong balap. Satu bulan sampai dua bulan berlalu, aku sama sekali tidak mengingatnya, suamiku pun mungkin sudah lupa juga sampai kami tidak saling mengingatkan. Dan warung-warung pinggir jalan yang aku lalui pun kayaknya nggak pernah ada tulisan “lontong balap” deh! Kalau ada kan pasti aku langsung ingat. Mungkin dia tidak setenar itu kali ya?! Bahkan sampai aku pulang ke Jakarta lagi lebaran kemarin, aku benar-benar telah lupa padanya. Padahal waktu itu aku sampai tiga bulan di Surabaya. Lontong balap pun mungkin sudah putus harapan sama aku…</p>
<p>***</p>
<p>Pagi itu Surabaya mendung. Sebulan sejak kedatangan kami lagi ke kota ini memang sudah terasa musim hujan akan segera tiba. </p>
<p>Waktu itu aku ingin membeli sesuatu di warung. Setelah aku mendapatkannya, aku melihat tetanggaku sedang menyapu dan anaknya sedang bermain-main. Aku pun menghampiri mereka karena memang sudah cukup lama dia tidak main ke rumahku. </p>
<p>Namanya Ummu Unaisah. Setelah menjawab salamku dia langsung berkata dengan logat Surabaya-nya, “Laghi bhersih-bhersih, Ukh, udhah lama dhitingghal.” Aku pun bertanya, “Emang anti kemana aja?” Dia pun menjawab bahwa dia menginap di rumah kakaknya selama beberapa hari. </p>
<p>Sambil menyapu, Ummu Unaisah sesekali mendatangi kompornya. Kompor itu berada di teras depan rumahnya, di dalam lemari yang terbuat dari triplek dan pintunya menghadap ke atas agar ia dapat langsung memasak tanpa harus mengeluarkan kompor itu. Dia menjadikannya seperti itu agar tidak berbahaya kalau anaknya bermain-main dekat kompor dan juga agar tidak dicuri orang. Dia memang memasak di teras karena tidak ada ruang untuk dapur di dalam rumah kontrakannya itu… </p>
<p>Rupanya Ummu Unaisah lagi menumis bumbu dan aku tahu yang dia tumis itu bawang merah dan bawang putih dari wanginya. Aku pun mendekat memperhatikan kompor minyak yang saling berdampingan itu dan berkata, “Ooo, anti punya dua kompor ya…”  Dan aku melihat pada kompor yang satu lagi ada tauge yang sedang direbus. Sedikit basa-basi aku bertanya, “Masak apa, Ukh?” Dia pun menjawab, “Lontong bhalap.”</p>
<p>Jeng jeng! Tiba-tiba saja aku merasakan kerinduan menyeruak di hati dan pikiranku… Lontong balap?! Apakah benar yang aku dengar ini?! Oh lontong balap, kaukah itu? Yang tanpa kusadari telah kulupakan namun sesungguhnya aku selalu menginginkanmu selama ini, wahai lontong balap…</p>
<p>Aku mencoba menenangkan diri walaupun dengan begitu menggebu-gebu aku berkata, “Gimana bikinnya, Ukh?” Dia pun menjawab, “Ghampang…” </p>
<p>***<br />Bahan:<br />1&gt; lontong, beli jadi, potong-potong <br />(beli 1000 dapat dua bungkus untuk berdua sekali makan)<br />2&gt;tahu, potong dadu 2 x 2 cm, goreng <br />(beli 500 dapat 2 potong masing-masing bagi 12)  <br />3&gt; bawang merah 5, bawang putih 5, cabe rawit 1, garam 1 sdt, haluskan <br />4&gt; bawang prei 1 batang, seledri 1 batang, potong kasar<br />5&gt; air 750 ml<br />6&gt; tauge, siangi <br />(beli 200 juga udah banyak, kalau kebanyakan capek nyianginnya!)<br />7&gt; kecap manis 5 sdm</p>
<p>Cara membuat:<br />1&gt; tumis bumbu halus dan potongan bawang prei-seledri sampai wangi, sisihkan.<br />2&gt; rebus air sampai mendidih, masukkan tauge dan tumisan bumbu, aduk rata.<br />3&gt; tambahkan kecap manis, aduk rata.<br />4&gt; cicipi rasanya, tambahkan rasa yang perlu ditambahkan sampai enak.<br />5&gt; sediakan lontong dan tahu goreng di dalam piring, <br />6&gt; siramkan kuah bersama taugenya, dan siap disajikan bersama saus sambal dan kecap.<br />Tips Ummu Unaisah: Kalau ditambah mie namanya lontong mie.<br />Kata Ummu Faruq: Tambahkan petis untuk lontong balap yang lebih enak.</p>
<p>***</p>
<p>Hari Ahad siang, suamiku yang kelaparan aku larang untuk mengintip apa yang sedang kumasak waktu itu karena sejak kemarin aku sudah bilang padanya bahwa aku mau membuat makanan yang istimewa untuknya hari itu. Dan ketika aku menyajikannya, seperti biasa dia memuji masakanku dan langsung memakannya dengan lahap tanpa bertanya masakan apa yang kubikin kali itu.</p>
<p>Aku pun langsung protes, “Kok nggak nanya sih ini apaan?” Mungkin saking laparnya sampai dia nggak peduli makanan apa yang dia makan waktu itu. </p>
<p>Dia pun nyengir dan berkata, “Oh iya ya… ini apa ya, Ti? Kok enak.” sambil terus memakannya tanpa aku tahu sebenarnya… dia niat nggak sih nanya?! Tapi nggak apa-apa deh yang penting udah dibilang enak. </p>
<p>Aku pun nyengir dan berkata dengan bangga, “Lontong balap!” </p>
<p>Suamiku kaget dan tersenyum lebar. “Ooo, ini tho lontong balap…” katanya, “Zeeeiiin…” [1]</p>
<p>Kami pun memakannya sampai habis. </p>
<p>-Mutiara-</p>
<p>Footnote:<br />1. Zeeeiiin dari kata “zayn”: bagus, baik, oke, pokoknya sip deh! (bahasa Arab)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mutiarasuamiku.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mutiarasuamiku.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarasuamiku.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarasuamiku.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarasuamiku.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarasuamiku.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=14&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/lontong-balap-surabaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">umi sumayyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al Kautsar</title>
		<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/al-kautsar/</link>
		<comments>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/al-kautsar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 00:54:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umi sumayyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sederhana nan Bermakna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/al-kautsar/</guid>
		<description><![CDATA[Waktu itu sudah dua bulan aku positif hamil. Tapi tiba-tiba saja mengalir darah yang membuatku berfikir bahwa aku tidak mungkin haid sementara aku sedang hamil. Aku pun teringat ketika aku keguguran dulu. Tetapi bidan yang menanganiku mengatakan bahwa kehamilanku masih positif sehingga dia memberiku obat penguat agar kehamilanku bisa bertahan.
Namun dalam tiga hari tidak ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=13&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Waktu itu sudah dua bulan aku positif hamil. Tapi tiba-tiba saja mengalir darah yang membuatku berfikir bahwa aku tidak mungkin haid sementara aku sedang hamil. Aku pun teringat ketika aku keguguran dulu. Tetapi bidan yang menanganiku mengatakan bahwa kehamilanku masih positif sehingga dia memberiku obat penguat agar kehamilanku bisa bertahan.</p>
<p>Namun dalam tiga hari tidak ada tanda-tanda darah itu akan berhenti, bahkan semakin deras. Dan aku tidak bisa membohongi diriku sendiri memikirkan bagaimana ini akan berakhir. Subhanallah. Suamiku pun berkata, “Muti, sabar itu adalah pada hentakan pertama.” [1] Maka tidaklah ada yang aku harapkan pada hari-hari itu selain keputusan dari Allah.</p>
<p>Dan qadarallahu wa masya-a fa’al. Aku harus keguguran lagi. Tapi kali ini semua berjalan dengan lancar. Abortus komplit istilahnya, sehingga aku tidak perlu dikuret lagi seperti dulu. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.</p>
<p>***</p>
<p>Ketika aku sudah merasakan pegal-pegal dan mulas-mulas yang merupakan tanda-tanda keguguran akan segera menjelang, suamiku ikut berbaring di sampingku. Pagi itu dia agak mengantuk tapi aku membangunkannya karena airmataku sudah tak terbendung lagi. Dan tiba-tiba suamiku berkata, “Muti, inget nggak sebab turunnya surat Al Kautsar…”</p>
<p>Aku berhenti menangis dan mencoba mengingat bagaimana bunyi surat itu dulu sebelum mengingat sebab surat itu turun ketika suamiku langsung menyebutkannya dan mengartikannya,</p>
<p>“Inna a’thoynak al kautsar,” kata suamiku, “sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu al kautsar. Al kautsar itu nama sungai di Surga, Ti, nikmat yang sangat banyak (dalam terjemahan-pen).”</p>
<p>Dalam hati, aku ingat hadits tentang Al Kautsar ini. Alhamdulillah, beberapa minggu yang lalu ada kajian Ushulus Sunnah karya Imam Ahmad bin Hambal –rahimahullah- yang membahas hal ini di ma’had. Dan disebutkan bahwa setiap muslim wajib beriman kepada telaga Nabi -shalallahu &#8216;alayhi wasallam- yang setiap umat akan mendatanginya pada hari kiamat. Al Kautsar itu adalah sungai yang mengairi telaga Nabi -shalallahu &#8216;alayhi wasallam- yang barangsiapa meminum airnya maka ia tidak akan haus selamanya. Lebarnya seperti panjangnya yaitu seperti perjalanan satu bulan. Bejananya sebanyak bintang di langit. Airnya lebih putih dari susu, lebih wangi dari misk, dan rasanya lebih manis dari madu. Subhanallah…</p>
<p>“Fasholli li Rabbbika wanhar,” suamiku melanjutkan,”maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Inna syaani-aka huw al abtar, sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.”</p>
<p>Aku terdiam beberapa saat, mencoba mencari jawaban dari pertanyaan suamiku tentang sebab turunnya surat itu dan apa hubungannya dengan apa yang sedang aku alami ini ketika suamiku langsung berkata, “Waktu itu, Ibrahim anaknya Rasulullah -shalallahu &#8216;alayhi wasallam- meninggal dunia. Waktu itu dia masih kecil…”</p>
<p>Aku pun teringat kisahnya.</p>
<p>***</p>
<p>Dari Anas –radhiyallahu’anhu-, sesungguhnya Rasulullah -shalallahu &#8216;alayhi wasallam- masuk kepada anaknya Ibrahim -radhiyallahu’anhu- yang dalam keadaan menghembuskan nafasnya, maka kedua mata Rasulullah -shalallahu &#8216;alayhi wasallam- meneteskan air mata. Lalu Abdurrahman bin Auf bertanya: “Dan anda wahai Rasulullah (menangis)?!” Maka beliau bersabda: “Wahai bin Auf, sesungguhnya (air mata) ini adalah (tanda) kasih sayang.” Beliau mengulanginya sekali lagi dan bersabda: “Sesungguhnya mata akan menangis, hati akan sedih, akan tetapi kita tidak mengatakan melainkan apa yang menjadikan Rabb kita ridho, dan sesungguhnya kami dengan perpisahanmu wahai Ibrahim, merasa sedih. [Hadits Riwayat Bukhari, Muslim]</p>
<p>***</p>
<p>Suamiku berkata, “Kebayang kan, Ti, sedihnya Rasulullah -shalallahu &#8216;alayhi wasallam-?! Udah lahir gitu lho… Jadi apa yang kita alami ini belum seberapa.”</p>
<p>Dalam hati, iya ya, tentu Rasulullah -shalallahu &#8216;alayhi wasallam- sedih sekali melihat anaknya yang masih kecil itu dalam keadan sekarat, sampai-sampai para sahabat bingung melihat beliau menangis. Yah, namanya juga anak, meninggalnya di depan mata pula. Apalagi beliau kan nggak punya anak laki-laki yang sempat dewasa. Semuanya meninggal dunia di waktu kecil.</p>
<p>“Bagi orang Arab…,” sambung suamiku. ”punya anak laki-laki itu penting untuk melanjutkan nasab atau keturunan. Dan waktu Ibrahim meninggal, orang-orang yang membenci Rasulullah -shalallahu &#8216;alayhi wasallam- merasa senang, mereka pun meneriakkan `Muhammad terputus, Muhammad terputus!’ Maksudnya nasab Muhammad telah terputus. Trus Allah Tahu betapa sedihnya RasulNya -shalallahu &#8216;alayhi wasallam- itu, baik karena kehilangan Ibrahim maupun perkataan mereka yang menyakitkan itu, maka turunlah surat Al Kautsar ini, bahwa orang-orang yang membenci beliaulah yang terputus, maksudnya dari rahmat Allah. Dan atas kepergian Ibrahim, Allah telah menggantikannya dengan Al Kautsar, yaitu nikmat yang sangat banyak…”</p>
<p>Subhanallah. Walaupun aku pernah mendengar kisah itu sebelumnya, tapi aku sungguh terharu waktu mendengarnya sekali lagi. Rasulullah -shalallahu &#8216;alayhi wasallam- mungkin terharu juga kali ya?! Karena telah digantikan kehilangan yang besar itu dengan suatu kenikamatan yang besar juga oleh Allah.</p>
<p>“Jadi…” sambung suamiku, “nggak apa-apa kalau kita belum dikasih anak sekarang. Semoga Allah menggantikannya dengan yang lebih baik. Mungkin keguguran justru yang terbaik buat kita. Seperti mungkin meninggalnya Ibrahim juga yang terbaik buat Rasulullah -shalallahu &#8216;alayhi wasallam- dan umat ini.”</p>
<p>Dalam hati, iya ya… pasti ada hikmah yang besar di balik keguguranku ini. Dan salah satunya adalah bahwa suamiku hebat, pinter bikin aku semangat. Alhamdulillah. Jazakallahu khayr ya zawjiy.</p>
<p>Semoga Allah menggantikan kehilangan ini dengan yang lebih baik…</p>
<p>-Mutiara-</p>
<p>Footnote:<br />1. Hadits Riwayat Muslim</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mutiarasuamiku.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mutiarasuamiku.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarasuamiku.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarasuamiku.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarasuamiku.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarasuamiku.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=13&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/al-kautsar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">umi sumayyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Shofiyyah, Zawjah Al Janary</title>
		<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/shofiyyah-zawjah-al-janary/</link>
		<comments>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/shofiyyah-zawjah-al-janary/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 00:54:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umi sumayyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sederhana nan Bermakna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/shofiyyah-zawjah-al-janary/</guid>
		<description><![CDATA[Shofiyyah adalah tetanggaku yang tinggal persis di sebelah rumahku. Suaminya dulu sama-sama pernah di Jepang dengan suamiku, tetapi mereka tidak pernah bertemu di sana, karena ketika suaminya sampai di Jepang, suamiku sudah kembali ke Indonesia. Dulu mereka sama-sama belum menikah. Dan ketika mengetahui bahwa suamiku belajar Bahasa Arab di Surabaya dan sudah menikah, suami Shofiyyah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=12&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Shofiyyah adalah tetanggaku yang tinggal persis di sebelah rumahku. Suaminya dulu sama-sama pernah di Jepang dengan suamiku, tetapi mereka tidak pernah bertemu di sana, karena ketika suaminya sampai di Jepang, suamiku sudah kembali ke Indonesia. Dulu mereka sama-sama belum menikah. Dan ketika mengetahui bahwa suamiku belajar Bahasa Arab di Surabaya dan sudah menikah, suami Shofiyyah pun tertarik untuk mengikuti jejaknya. Oleh karena itu suamiku mencarikan rumah kontrakan untuknya, yaitu tepat di sebelah rumah kami yang memang masih kosong untuk ditempati. Sebenarnya banyak juga peminat rumah itu, tetapi karena telah ada perjanjian antara suamiku dan pemilik kontrakan itu sejak awal dan suamiku pun bersikukuh agar Al Janary, yaitu suami Shofiyyah, yang mengisinya, maka pemilik kontrakan itu pun menolak setiap orang yang ingin mengontrak rumah itu. </p>
<p>Dan aku bersyukur, Alhamdulillah, aku senang mendapatkan tetangga yang baik dan lucu seperti isteri Al Janary, Shofiyyah. </p>
<p>***</p>
<p>Suatu malam, ketika suamiku telah agak lama berangkat shalat Isya ke masjid, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu belakang rumahku. Aku tahu kalau dia Shofiyyah dari suaranya, dan sepertinya dia sedang tergesa-gesa. Aku pun mempersilakannya masuk dan kami langsung duduk di dapur. Waktu itu suaminya juga sedang shalat Isya di masjid.</p>
<p>Dia berkata padaku, “Ukh, ana minta resep bikin rendang dong… Tapi jangan bilang-bilang suami ana ya kalau ana minta resep!”</p>
<p>Aku bingung, kok malam-malam begini minta resep bikin rendang?! Apa mau langsung bikin malam-malam?! Suamiku pun sebentar lagi mau pulang, yang berarti suaminya juga sebentar lagi pulang, padahal dia bilang jangan bilang-bilang sama suaminya, nanti ketahuan dong, kupikir.</p>
<p>Lalu karena dia sedikit mendesakku, aku pun memberitahunya resep rendang itu seadanya. Dan tak berapa lama suaminya pun benar pulang. Kami mendengar jelas ucapan salamnya karena dia masuk dari pintu belakang rumahnya yang persis berdampingan dengan pintu belakang rumahku. </p>
<p>Aku katakan pada Shofiyyah, “Tuh, suami anti udah dateng.” Tapi dia tetap masih ingin tahu resep rendang itu dengan lengkap. Dia pun berkata, “Biarin aja ah.” Aku pun berkata lagi, “Iya, tapi sebentar lagi, suami ana yang dateng.” Sambil nyengir dia pun berkata polos, “O iya ya!” Dia pun langsung mengenakan cadarnya dan segera pulang tanpa sempat menulis resep rendang di kertas yang telah dia siapkan. </p>
<p>Aku pun berniat memberikan resep rendang yang dia inginkan itu keesokan harinya. Tetapi Allah berkehendak lain, sehingga aku baru bisa menemuinya beberapa hari kemudian. </p>
<p>***</p>
<p>Suatu hari, ketika aku berkunjung ke rumah Shofiyyah, seperti biasa kami berbincang-bincang tentang urusan dapur dan kutanyakan padanya apakah ia sudah masak untuk suaminya makan siang hari itu. Tapi tiba-tiba dia berkata, “Eh Ukh, ana kan kemarin masak nasi kayak anti, sekali lima cangkir untuk dua hari. Tapi kok lama-lama jadi keras ya?” </p>
<p>Aku pun menjawab bahwa mungkin dia memasaknya kurang air dan kemudian dia berkata lagi, ”Iya mungkin ya… tapi waktu pingin ana tambahin air, nggak boleh sama suami…” katanya sambil cemberut manja. </p>
<p>Waktu itu, kata Shofiyyah, suaminya bilang bahwa rasa nasi itu akan jadi tidak enak kalau ditambah air (baca: anyep) karena nasinya sudah matang, bahkan sebagian sudah dimakan. Suaminya pun mencoba untuk menenangkan Shofiyyah dengan mengatakan bahwa nggak masalah kalau nasinya keras, yang penting bisa dimakan. Tapi Shofiyyah merasa tidak puas, karena dia ingin menyenangkan suaminya. </p>
<p>Maka ketika suaminya tidur siang diam-diam dia menambahkan air pada nasi itu dan berharap nasinya bisa jadi enak dimakan, nggak keras. Tetapi ternyata yang terjadi justru sebaliknya, rasanya menjadi seperti yang diperkirakan suaminya. Shofiyyah pun menyesal karena sudah tidak patuh kepada suaminya dan nasinya jadi anyep pula. Maka malam harinya dia jadi nggak selera makan sementara suaminya tetap makan seperti biasa tanpa tahu apa yang telah dilakukan isterinya itu. </p>
<p>Shofiyyah bercerita padaku, “Iya, ana bilang aja lagi capek, pingin cepet tidur.” Lalu Shofiyyah pun berniat untuk belanja lebih pagi esok harinya. “Pokoknya ana mau bikin yang enak-enak seharian biar nasinya cepat habis.” ceritanya padaku. </p>
<p>Dan waktu makan, kata Shofiyyah, suaminya tampak lahap sekali. Shofiyyah pun merasa senang. “Jelas aja lahap makannya, lauknya enak-enak…” katanya kepadaku dengan rasa puas tanpa menyebutkan lauk apa saja yang ia masak hari itu. </p>
<p>Tapi sore harinya suami Shofiyyah tiba-tiba bilang, “Kemaren nasinya ditambah air ya?” Shofiyyah kaget, “Tapi ana sih senyum aja.” ceritanya padaku. </p>
<p>Lalu suaminya bilang, “Tapi enak kok, dek, bener deh!” Dalam hati Shofiyyah, “Ya jelas aja enak, wong lauknya enak!” katanya padaku sekali lagi dengan bangga.</p>
<p>Aku tertawa mendengar ceritanya yang dia ceritakan dengan lugu itu. Dan aku jadi teringat, “Ooo, yang waktu malam-malam itu anti minta resep rendang ya?!” Dia pun mengiyakan sambil nyengir. Aku pun semakin tertawa. </p>
<p>Tapi aku tetap tidak tahu apakah yang dia masak itu rendang atau yang lain, yang jelas enak-enak dan suaminya makan dengan lahap. He he he… Alhamdulillah.</p>
<p>Yah, begitulah isteri, kupikir, selalu saja yang dilakukan itu untuk mendapatkan ridha suami.</p>
<p>-Mutiara-</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mutiarasuamiku.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mutiarasuamiku.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarasuamiku.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarasuamiku.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarasuamiku.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarasuamiku.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=12&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/shofiyyah-zawjah-al-janary/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">umi sumayyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Benar juga kata Kak Endah!</title>
		<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/benar-juga-kata-kak-endah/</link>
		<comments>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/benar-juga-kata-kak-endah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 00:53:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umi sumayyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sederhana nan Bermakna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/benar-juga-kata-kak-endah/</guid>
		<description><![CDATA[Suamiku itu, setiap mau berangkat kuliah, aku selalu disuruhnya untuk menyetrika baju gamisnya walaupun hanya kusut sedikit. Aku heran deh dengan kebiasaannya itu, agak sok “tampil rapi” gitu!
Dulu, waktu aku belum ke Surabaya, waktu suamiku tinggal di sakan (asrama), rutinitas menyetrika baju gamis itu dia kerjakan sendiri. Dalam hati, apa anak-anak asrama lainnya kayak gitu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=11&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Suamiku itu, setiap mau berangkat kuliah, aku selalu disuruhnya untuk menyetrika baju gamisnya walaupun hanya kusut sedikit. Aku heran deh dengan kebiasaannya itu, agak sok “tampil rapi” gitu!</p>
<p>Dulu, waktu aku belum ke Surabaya, waktu suamiku tinggal di sakan (asrama), rutinitas menyetrika baju gamis itu dia kerjakan sendiri. Dalam hati, apa anak-anak asrama lainnya kayak gitu juga ya?! Atau suamiku aja nih yang lain sendiri?! Kayaknya ayahku dan dua abangku aja nggak gitu-gitu amat deh. Maksudku, kalau bajunya nggak terlalu kusut kan nggak perlu disetrika-setrika amat gitu lho?!</p>
<p>Tapi emang sih kalau aku perhatikan, waktu aku menginap di rumah mertuaku, mertuaku yang berprofesi sebagai dosen dan kakaknya yang mengajar di sebuah lembaga bahasa itu pun selalu menyetrika dulu baju yang akan mereka pakai sebelum berangkat bekerja. Mungkin mereka kali ya yang dia contoh?!</p>
<p>Atau mungkin… karena ayahku udah pensiun aja kali ya dan abang-abangku juga kalau mau pergi kerja kan selalu waktu aku belum bangun, jadinya aku aja kali ya yang nggak pernah tahu kalau ternyata mereka juga suka disetrika dulu bajunya sebelum berangkat kerja?! Jadi sebenarnya itu kebiasaan semua orang yak?! He he he…</p>
<p>Wah, subhanallah. Awalnya aku merasa sulit beradaptasi dengan kebiasaan itu. Apalagi ini pertama kalinya kami (baca: aku) hidup mandiri. Kan banyak juga aktivitas di pagi hari yang harus kulakukan. Mulai dari belanja, bikin sarapan, semua itu kan butuh waktu?! Ini ditambah harus menyetrika dulu lagi. Dan jam setengah tujuh pagi harus udah berangkat pula! Rasanya pingin bilang deh sama suamiku, “Nggak usah disetrika lah, Bang, ntar juga kusut lagi!”</p>
<p>Kadang aku suka ingat kata Kak Endah… Kak Endah itu kakak iparku. Istri dari abangku yang pertama. Dia pernah bilang bahwa dia suka nggak puas kalau ada orang lain yang menyetrika baju suaminya, karena lipatannya suka jadi banyak alias nggak rapi. Jadi walaupun dia punya pembantu, tetap saja urusan setrika-menyetrika baju suaminya itu dia sendiri yang melakukannya. Katanya, “Iya, Mut. Kalo nggak rapi kan ntar orang yang lihat pada bilang ‘ih, bajunya kok nggak rapi gini sih?!’, ‘udah punya istri belum sih?’, ‘siapa sih istrinya?!’, ‘bisa nyetrika nggak sih?!’, ‘oh, istrinya yang Endah itu ya?!’ Kan malu Mut.”</p>
<p>Waktu itu kupikir… ya ampun, Kak Endah serius amat deh! Siapa juga yang merhatiin?! Dan kadang sambil nyetrika baju suamiku, kupikir… ya ampun, Suamiku, siapa juga yang merhatiin?!</p>
<p>***</p>
<p>Suatu pagi, seperti biasa aku menyetrika baju suamiku. Tapi kali ini aku agak kurang bersemangat. Soalnya… yah, emang setiap hari juga aku kurang bersemangat sih untuk kegiatan yang satu ini. He he he…</p>
<p>Tapi tiba-tiba suamiku yang sudah siap mau berangkat, berkata, “Eh Ti, Abang belum cerita ya?! Temen-temen asrama Abang kemaren pada bilang lho ‘wah, fi , gamis ente sekarang jadi rapi terus euy!’”</p>
<p>Jeng Jeng! Tiba-tiba saja aku merasakan energi yang sangat dahsyat untuk menyetrika gamis itu sampai betul-betul rapi serapi-rapinya.</p>
<p>Tapi yang bener nih?! Maksudnya emang setrikaanku yang rapi atau biar aku rajin nyetrika ya?! Aku jadi senyum deh, “Alhamdulillah…” kataku sambil terus menyetrika. Sambil mikir… bener juga ya kata Kak Endah! Kalau suami rapi, mesti karena istrinya. Kalau suami nggak rapi, ya mesti karena isterinya juga. Hebat Kak Endah!</p>
<p>-Mutiara-</p>
<p>*Note: Kata ibuku, menyetrika itu bukan hanya supaya baju terlihat rapi, tapi juga untuk membunuh kuman-kuman yang mungkin saja masih menempel di baju.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mutiarasuamiku.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mutiarasuamiku.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarasuamiku.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarasuamiku.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarasuamiku.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarasuamiku.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=11&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/benar-juga-kata-kak-endah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">umi sumayyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tepung Beras</title>
		<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/tepung-beras/</link>
		<comments>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/tepung-beras/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 07:52:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umi sumayyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resep-resep]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/tepung-beras/</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari aku mengadakan inspeksi di dapur. Aku bersihkan bekas-bekas minyak yang menempel di sekitar kompor, menyusun kembali bumbu-bumbu dapur yang agak berantakan, sambil memeriksa bahan makanan apa saja yang sudah habis atau bahkan masih banyak supaya nggak terbeli lagi bila tiba waktunya belanja. 
Ternyata aku mempunyai tepung beras yang sudah cukup lama tersimpan. Alhamdulillah, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=10&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Suatu hari aku mengadakan inspeksi di dapur. Aku bersihkan bekas-bekas minyak yang menempel di sekitar kompor, menyusun kembali bumbu-bumbu dapur yang agak berantakan, sambil memeriksa bahan makanan apa saja yang sudah habis atau bahkan masih banyak supaya nggak terbeli lagi bila tiba waktunya belanja. </p>
<p>Ternyata aku mempunyai tepung beras yang sudah cukup lama tersimpan. Alhamdulillah, belum kadaluarsa. Tapi aku bingung mau dibikin apa. Dulu aku beli untuk bikin bakwan yang ternyata kalau nggak pakai tepung beras juga nggak apa-apa. Dan setahuku tepung beras itu untuk bikin kue yang mesti dikukus. Tapi aku nggak punya kukusan. Jadi enaknya dibikin apa ya?!</p>
<p>Aku pun bertekad untuk menanyakan tentang apa saja yang bisa dibikin dengan tepung beras kepada para tetanggaku yang baru, yang satu lantai denganku. Mereka adalah Shofiyyah, Ummu Al Faruq dan Fitri. Dan di antara mereka, Ummu Al Faruq adalah yang terkenal pandai memasak. Tapi ketika aku ingin berkunjung ke rumahnya, dari luar aku mendengar ada suara suaminya di dalam. Aku pun membatalkan niatku dan terhenti di dapur Ummu Al Faruq dan Fitri yang berada di luar. Di sana ada Fitri. Dia menegurku, “Mau kemana, Mbak?” Aku pun menjawab, “Mau ke rumah Mbak Yanti, tapi lagi ada suaminya ya?! Malu&#8230;” Fitri pun tersenyum.</p>
<p>Aku memperhatikannya sedang menggoreng sesuatu, di sampingnya ada adonan seperti adonan bakwan tapi sedikit encer dan berwarna kekuning-kuningan yang bertaburan potongan daun bawang kecil-kecil dan kacang tanah. Aku pun bertanya, “Bikin apa, Ukh?” Dia menjawab, “Peyek.” </p>
<p>Dalam hati, jarang-jarang ada yang bikin peyek. Biasanya orang-orang kan beli jadi aja. Tapi jadi pingin tahu juga gimana bikinnya. Lumayan buat nambah-nambah resep cemilan. Kan lucu (baca; luchiu) kalo nanti udah punya anak, trus bikin bareng-bareng. Hi hi.. Aamiin… </p>
<p>Aku pun bertanya, “Pakai apa tuh?” Dia pun menjawab, “Tepung beras.”</p>
<p>Jeng jeng! Tepung beras?! Subhanallah. Kebetulan banget&#8230; Aku pun langsung menanyakan bagaimana cara membuatnya. Fitri pun menjelaskan. Katanya, bumbu halusnya itu bawang putih, kemiri, kunyit, ketumbar dan garam. Selain pakai kacang tanah boleh juga kalau mau pakai ikan teri.</p>
<p>Aku bertanya, “Kacang tanahnya digoreng dulu nggak?” Dia menjawab, “Enggak perlu. Ana juga diajarin Mbak Yanti kok.” Dan sebelum aku beranjak pergi, Fitri menambahkan, “Jangan lupa pakai tepung kanji, Mbak.”</p>
<p>Dalam hati, Subhanallah, tepung kanji adalah yang sudah tersimpan lama juga di dapurku. Ini malah lebih bikin aku bingung lagi mau dibikin apa tadinya. Waktu itu aku beli untuk bikin udang goreng tepung bumbu asam manis. Mau bikin lagi tapi udang mahal, sedikit pula dapatnya, Mau dibikin bakso, daging giling lebih mahal lagi. Tapi yah, Alhamdulillah, nggak ada udang apalagi daging, peyek pun jadi… Tapi seberapa banyak ya tepung kanjinya?</p>
<p>Esok harinya aku belanja ke warung sayur terdekat untuk membeli bahan yang belum ada untuk bikin peyek, yaitu kemiri dan kunyit. Kebetulan ketemu Ummu Al Faruq! Subhanallah. Aku pun bertanya lebih detail lagi tentang bikin peyek. </p>
<p>***</p>
<p>Bahan:<br />1&gt; Air atau santan 200 ml<br />2&gt; Tepung beras 100 gr<br />3&gt; Tepung kanji 50 gr<br />4&gt; Bawang putih 2, kemiri 6, garam ½ sdt, ketumbar 1 sdt, kunyit 2 cm, haluskan<br />5&gt; Kacang tanah sesuai selera, belah. <br />6&gt; Bawang prei 1 batang, potong kasar kecil-kecil</p>
<p>Cara Membuat:<br />1&gt; Campur semua bahan, aduk rata. <br />2&gt; Ambil sebagian lalu goreng dengan cara disebar supaya hasilnya agak tipis dan renyah.<br />Tips Ummu Al Faruq: banyakkan kemiri untuk peyek yang lebih enak.</p>
<p>***</p>
<p>-Mutiara-</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mutiarasuamiku.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mutiarasuamiku.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarasuamiku.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarasuamiku.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarasuamiku.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarasuamiku.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=10&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/tepung-beras/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">umi sumayyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah di Balik Korden Kamar Pasien</title>
		<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/kisah-di-balik-korden-kamar-pasien/</link>
		<comments>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/kisah-di-balik-korden-kamar-pasien/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 00:51:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umi sumayyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sederhana nan Bermakna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/kisah-di-balik-korden-kamar-pasien/</guid>
		<description><![CDATA[Waktu aku harus operasi kuretase setelah keguguran, aku menginap di rumah sakit karena operasi akan dilangsungkan pagi hari. Kamar kelas tiga tempat aku menginap yang terdiri dari tiga tempat tidur itu masing-masingnya tertutup kordin di sekelilingnya dan semuanya telah terisi. Butuh waktu lama bagiku yang ditempatkan di tempat tidur yang tengah itu untuk menyadari bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=9&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Waktu aku harus operasi kuretase setelah keguguran, aku menginap di rumah sakit karena operasi akan dilangsungkan pagi hari. Kamar kelas tiga tempat aku menginap yang terdiri dari tiga tempat tidur itu masing-masingnya tertutup kordin di sekelilingnya dan semuanya telah terisi. Butuh waktu lama bagiku yang ditempatkan di tempat tidur yang tengah itu untuk menyadari bahwa ternyata kamar kelas tiga itu adalah kamar bersalin yang berarti kedua wanita di sebelahku akan segera melahirkan! </p>
<p>Iya, malam itu sangat mencekam karena teriakan-teriakan yang aku tahu pasti sumbernya dari mana itu terdengar tepat di telinga kanan dan kiriku. Sementara aku baru saja keguguran, aku nyengir sendiri dan berusaha meyakinkan hatiku, iyaaa aku pingin tetap punya anak! Kabulkanlah ya Allah… Aamiin.</p>
<p>***</p>
<p>Walaupun sang suami menemani dan juga para suster berada di dekatnya, ibu di tempat tidur sebelah kiriku itu tidak juga bisa tenang. Sesekali dia bilang, “Aduuuuh… Aduuuh”. Sesekali agak berteriak, “Aaaagh…. Aaaagh”. Suster sering sekali melarang dia agar tidak mengeluarkan suara keras karena akan menguras tenaganya untuk melahirkan nanti. Tapi dia tidak bisa diam juga. Suster yang lain pun menganjurkannya untuk berjalan-jalan supaya tidak terlalu terasa sakitnya. Tapi dia bilang malah tambah sakit. Sang suami pun sering mengajaknya bicara supaya sakitnya bisa teralihkan. </p>
<p>Malam pun sudah makin larut ketika aku hanya bisa mendengar semua kejadian itu dari balik korden saja. Yaitu ketika sakit yang dirasakan ibu itu hampir tidak tertahankan lagi, akhirnya dia menyerah, “Dokter, udah deh… operasi aja!” katanya sambil terengah-engah. Dokter pun menginstruksikan para suster untuk menyiapkan ruang operasi dan suster-suster itu pun segera mengambil tindakan. </p>
<p>Ketika dokter dan para suster meninggalkan sang ibu dan suaminya itu untuk menuju kamar operasi lebih dulu, aku sungguh tak percaya apa yang kudengar ketika sang suami berkata kepada istrinya yang sedang hamil anak ketiganya itu, “Yaaah… cemen!”</p>
<p>Subhanallah. Tak ada yang bisa kukatakan dalam hati selain… YaNg bENeR AJe?! Istrinya udah susah payah nahan sakit sampe nggak tahan gitu malah dia bilang “cemen”! Apa dia nggak tau sakitnya kayak gimana?! Emang nggak tau sih, dia kan laki-laki, nggak akan pernah mungkin melahirkan. Tapi kan istrinya hamil gara-gara dia!</p>
<p>Emang sih aku akui waktu aku mendengarnya aku juga sempat ketawa, abisnya aku takjub gitu lho sama ucapan suaminya itu! Lagian lumayan buat refreshing, kan malam itu aku tegang mau dioperasi dan juga tegang mendengar teriakan-teriakan ibu-ibu yang akan melahirkan itu. Tapi aku mengecam keras ucapannya itu! Suamiku aja kaget mendengar ceritaku walau ikut ketawa juga. “Awas ya kalau Muti harus ceasar nanti ngomong gitu!” ancamku. Diapun menyahut sambil nyengir, “Ya enggak lah. Tapi nanti Abang tunggu di luar aja ya?!” He he he…</p>
<p>***</p>
<p>Lain di kiri, lain di kanan. Ibu yang di sebelah kananku itu lebih tenang dan lebih patuh sama suster. Ketika dia mengerang kesakitan, “Aduuuh… susteeer… sakiiit.”, susternya berkata, “Ibu jangan teriak-teriak, nanti tenaganya habis.” Maka diamlah ibu itu. Beberapa lama kemudian sang ibu teriak lagi, “Aduuuh… susteeer… sakiiit.” dan susternya berkata lagi, “Ibu jangan teriak-teriak, nanti tenaganya habis.” Maka diamlah ibu itu lagi. Tapi sekali lagi “Aduuuh… susteeer… sakiiit.” dan susternya berkata sekali lagi , “Ibu jangan teriak-teriak, nanti tenaganya habis.” Maka diamlah ibu itu sekali lagi. Dan itu terus berlangsung sampai akhirnya dia melahirkan dengan normal di pagi hari. Alhamdulillah.</p>
<p>Dari balik korden itulah pertama kali aku mendengar suara bayi yang baru lahir. Ternyata suaranya “Oek… oek…” kayak di film-film, tapi ini asli kudengar dengan telingaku sendiri. Subhanallah. Yah, Insya Allah nanti aku juga punya sendiri yang suaranya kayak gitu. Aamiin.</p>
<p>Dan pertanyaan pun bergulir… Yakin nih pingin lahir normal?! He he he… </p>
<p>Yah, emang sih sakitnya melahirkan itu kayaknya teramat sangat luar biasa sekali, tapi kalau bayinya udah lahir jadi kebayar kali ya?! Asal jangan dibilang “Cemen!” aja! Sakit yang itu sih kayaknya nggak akan hilang deh. </p>
<p>***</p>
<p>… Hamalathu ummuhu wahnan ‘ala wahnin… ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). [Al Ahqaaf: 15]</p>
<p>- Mutiara-</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mutiarasuamiku.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mutiarasuamiku.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarasuamiku.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarasuamiku.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarasuamiku.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarasuamiku.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=9&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/kisah-di-balik-korden-kamar-pasien/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">umi sumayyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Janinku sayang…</title>
		<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/janinku-sayang%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/janinku-sayang%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 00:50:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umi sumayyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sederhana nan Bermakna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/janinku-sayang%e2%80%a6/</guid>
		<description><![CDATA[Sedih, tapi lega. Sedih karena nggak jadi hamil, lega karena kalau dibiarkan bisa jadi penyakit. Yah, qadarallahu wa masya-a fa’al… telah ditakdirkan Allah dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.
***
Rasanya memang belum puas menangis ketika aku berada di ruang operasi itu. Tapi insya Allah, itu semua untuk kebaikanku. Flek-flek darah itu tidak berhenti sejak seminggu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=8&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sedih, tapi lega. Sedih karena nggak jadi hamil, lega karena kalau dibiarkan bisa jadi penyakit. Yah, qadarallahu wa masya-a fa’al… telah ditakdirkan Allah dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.</p>
<p>***</p>
<p>Rasanya memang belum puas menangis ketika aku berada di ruang operasi itu. Tapi insya Allah, itu semua untuk kebaikanku. Flek-flek darah itu tidak berhenti sejak seminggu sebelumnya. Kata dokter pun, kalau ditunggu sampai keluar semua, rahimku belum tentu bisa bersih banget dan aku bisa terancam kanker. Sementara aku kan juga pingin cepat hamil lagi.</p>
<p>Kalau dipikir-pikir… Alhamdulillah, Allah memudahkan semua urusanku lho ketika itu. Dia tidak mengizinkan janinku lahir dengan tidak sempurna, makanya Dia gugurkan. Dia tidak menginginkan aku menjalani semua ini sendiri, makanya Dia jadikan suamiku datang dari Surabaya. Padahal waktu itu aku belum divonis keguguran. Pas dua hari cutinya, pas satu hari untuk menemaniku check up dan keesokannya aku langsung operasi. Biaya operasi pun ada orangtuaku yang membantu. Ibu mertuaku walaupun lagi studi di Jepang tapi tetap bisa berkomunikasi denganku lewat telefon untuk memberiku semangat. Dan semua ini tidak mungkin terjadi melainkan atas kehendak Allah kan?! Alhamdulillah ‘ala kulli hal.</p>
<p>Aku jadi ingat ketika flek-flek itu baru keluar. Kata artikel di internet, 3 dari 10 wanita hamil mengeluarkan flek-flek darah pada 4 bulan pertama dan tetap bisa melahirkan dengan normal. Tapi artikel lain bilang itu ancaman keguguran. Tapi yang lebih mengkhawatirkanku adalah bayangan bila akhirnya janinku itu bisa selamat tapi dalam keadaan nggak sempurna, nggak normal, cacat, atau lainnya seperti yang kulihat di televisi. Na’udzubillah min dzalik… kita berlindung kepada Allah dari hal yang demikian.</p>
<p>Betapa kacau balaunya pikiranku waktu itu. Tapi kemudian di tengah-tengah kekhwatiranku itu, suamiku berkata, “Muti, bukan musik klasik yang bikin anak itu cerdas, malah bisa jadi dosa, kan <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/1429/slash/0" target="_blank">musik itu haram</a> [1]. Bukan pula murottal Qur’an yang diperdengarkan ke perut ibu yang bikin anak itu shalih, malah bisa jadi <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/650/slash/0">bid`ah</a> [2], dan segala bid’ah itu sesat… Makanan sehat, obat, suplemen pun nggak selalu bikin anak itu lahir sehat dan normal! Yang bikin anak itu pinter, sehat, sempurna, shalih, itu semua karena doa ibunya. Makanya Muti banyak doa, banyak sedekah, shalat sunnah, baca Qur’an, ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Kan amal baik dan benar memudahkan terkabulnya doa. Insya Allah, anak itu akan menjadi seperti yang didoakan ibunya. Walaupun baru hamil 2 bulan, Muti kan udah jadi ibu juga [3].”</p>
<p>Subhanallah… menyejukkan sekali kata-kata suamiku itu. Sejak itu aku pun melakukan apa yang dikatakan oleh suamiku termasuk juga makan vitamin, minum kalsium, minum madu, dan lainnya sambil berharap yang utama adalah mendapatkan pahala dari ibadah yang kulakukan lalu mendapatkan manfaat dari minuman dan makanan itu, aku pun berharap kemudian mendapatkan keberkahan dari Allah atas taatku kepada suamiku, insya Allah. Maka aku selalu berdoa siang dan malam. Insya Allah, aku bertekad untuk tidak akan berputus asa walaupun flek-flek itu tidak berhenti juga.</p>
<p>Hingga suatu hari ketika banyak sekali doa yang kupanjatkan, akhirnya aku hanya bisa menghela nafas panjang. “Ya Allah, sebenarnya untuk saat ini Muti cuma pingin kandungan Muti sehat aja ya Allah, cuma itu&#8230;” Dan air mataku pun tak tertampung lagi…</p>
<p>Yah, mungkin Allah sayang banget sama aku dan nggak pingin aku berlarut-larut dalam kekhawatiran dan kesedihan. Maka dijadikanlah oleh Allah keinginan dalam hatiku untuk segera memeriksakan kandunganku ke dokter sampai akhirnya aku harus menghadapi kenyataan bahwa aku harus melepaskan kepergian janinku sayang.</p>
<p>Yah, walaupun yang terjadi sebaliknya, bagiku ini adalah jawaban dari doaku juga. Hanya saja ia terkabul dalam bentuk yang berbeda. Itu berkah juga kan?! Insya Allah…</p>
<p>Alhamdulillah ‘ala Kulli hal.</p>
<p>-Mutiara-</p>
<p>*Footnote:<br />
1. Rasulullah –shallallahu’alayhi wa sallam- bersabda: &#8220;Artinya : Sungguh akan ada hari bagi kalangan umat kaum yang menghalal kan perzinaan, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik.” [HR. Bukhari] Hadits tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya musik, seperti juga perzinahan dan minuman keras, adalah haram yang suatu hari akan ada kaum yang menghalalkannya, padahal Allah telah menetapkan bahwa perzinahan dan minuman keras itu haram sampai kapanpun, maka begitu pula musik. <br />
2. Bid’ah: suatu amalan yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah –shallallahu’alayhi wa sallam- tetapi orang menyangka bahwa amalan itu salah satu jenis ibadah dalam agama Islam. Rasulullah –shallallahu’alayhi wa sallam- bersabda: sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan (dalam agama), dan segala yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, dan segala bid’ah adalah sesat, dan segala kesesatan adalah di neraka. [HR. Muslim] <br />
3. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: artinya: &#8220;Artinya : Tiga orang yang doanya pasti terkabulkan ; doa orang yang teraniyaya, doa seorang musafir dan doa orang tua terhadap anaknya&#8221;. [Hadits Riwayat Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad]</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mutiarasuamiku.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mutiarasuamiku.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarasuamiku.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarasuamiku.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarasuamiku.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarasuamiku.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=8&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/janinku-sayang%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">umi sumayyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Karena ingat pesan ibuku: prinsip layang-layang</title>
		<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/karena-ingat-pesan-ibuku-prinsip-layang-layang/</link>
		<comments>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/karena-ingat-pesan-ibuku-prinsip-layang-layang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 00:48:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umi sumayyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/karena-ingat-pesan-ibuku-prinsip-layang-layang/</guid>
		<description><![CDATA[Semester awal perkuliahan, suamiku selalu pulang menjelang tengah malam untuk beberapa hari setiap minggunya. Kadang-kadang ia harus pulang semalam itu karena membantu penyutingan kajian islam ilmiah di masjid ma’had setiap ba’da maghrib, dan kadang-kadang hanya untuk belajar bersama teman-temannya di sakan (asrama). Padahal waktu itu kami baru saja hidup berumah tangga, belajar mandiri, jauh dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=7&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Semester awal perkuliahan, suamiku selalu pulang menjelang tengah malam untuk beberapa hari setiap minggunya. Kadang-kadang ia harus pulang semalam itu karena membantu penyutingan kajian islam ilmiah di masjid ma’had setiap ba’da maghrib, dan kadang-kadang hanya untuk belajar bersama teman-temannya di sakan (asrama). Padahal waktu itu kami baru saja hidup berumah tangga, belajar mandiri, jauh dari orangtua. Otomatis setiap dia nggak ada, aku jadi sendirian di rumah..</p>
<p>Dulu, waktu masih tinggal di rumah orangtuaku, suamiku juga suka pulang malam. Apalagi waktu itu kami baru saja menikah! Iya, suamiku itu memang yang paling setia sama teman-temannya. Setiap kali teman-temannya itu ngajak pergi ke suatu tempat untuk suatu urusan, suamiku nggak pernah menolak walaupun harus berhadapan dengan wajah cemberutku ketika pulang. Aku sering kesal dibuatnya! Tapi lama kelamaan aku capek sendiri, dan membiarkan ia melakukan apa saja yang ia mau dengan teman-temannya. Toh aku istrinya, pasti pulangnya ke aku juga. Toh dia salafiy [1], teman-temannya itu juga salafiy, paling ngapain sih?! </p>
<p>Dan alhamdulillah… berbekal pemikiran seperti itu, sekarang walaupun ditinggal suamiku sampai larut malam untuk urusan apapun, aku jadi nggak terlalu pusing memikirkannya, padahal sekarang aku sendirian, kalau dulu kan aku masih tinggal bersama keluargaku, apalagi karena aku ingat pesan ibuku…</p>
<p>***</p>
<p>Waktu itu dunia selebritis lagi heboh. Banyak terjadi perceraian padahal usia pernikahan mereka baru seumur jagung bahkan ada yang sudah cukup lama usia pernikahannya. Padahal kan yang sudah lama menikah seharusnya lebih bijaksana. Herannya, rata-rata yang menuntut cerai itu para istri, dengan alasan (atau tuduhan) sang suami punya wanita idaman lain! Wallahua’lam.</p>
<p>Kata ibuku, biasanya kalau rumah tangga nggak langgeng itu pasti karena istrinya. Kalau istrinya nggak pinter-pinter merawat suami ya kayak selebritis-selebritis itu jadinya, menuntut cerai untuk menutupi kesalahan yang sebenarnya ada sama dia. Coba kalau istrinya dandan yang rapi, rumah juga rapi, masak yang enak, suami pasti betah di rumah, nggak keluyuran cari kesenangan di tempat lain.</p>
<p>Serius amat deh ibuku waktu itu ngomongnya!</p>
<p>“Iya…” lanjut ibuku,”… kalaupun suami itu ada perlunya ke luar, ke mana, mau satu hari kek, dua hari, biarkan aja dia pergi! Kayak main layangan, biarkan aja dia terbang tinggi, terserah mau ke mana, tapi benangnya tetap kita pegang…” kata ibuku sambil memeragakan menarik benang layang-layang yang terbang tinggi.</p>
<p>***</p>
<p>Benang yang dimaksud ibuku adalah cara kita melayani suami. Dandan yang rapi supaya nggak melirik ke yang dandan rapi juga lainnya. Masak yang enak supaya nggak makan di yang masak enak juga lainnya. Rumah diatur yang rapi supaya nggak betah di tempat yang rapi juga lainnya. Dengan begitu, insya Allah, suami akan selalu kangen untuk pulang. Setidaknya ia akan merasa malu karena istrinya sudah susah payah melakukan semuanya untuk dia, tapi apa yang dia lakukan untuk istrinya?!</p>
<p>Jadi kupeganglah benang itu. Karena layang-layang nggak akan terbang selamanya, kecuali kalau dilepas benangnya atau ada “benang” lain yang lebih kuat memutuskannya…</p>
<p>-Mutiara-</p>
<p>*Footnote<br />1. Salafiy: penisbatan kepada as-salafush-shalih (orang-orang terdahulu yang shalih), atau orang yang bermanhaj salaf yaitu orang yang berusaha menjalankan agama dengan metode atau cara berislamnya as-salafush-shalih, yang terdiri dari para sahabat –radhiyallahu’anhum-, dan generasi setelahnya, dan generasi setelahnya yang dipuji Rasulullah –shallallahu’alayhi wa sallam- sebagai generasi terbaik Islam.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mutiarasuamiku.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mutiarasuamiku.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarasuamiku.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarasuamiku.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarasuamiku.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarasuamiku.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=7&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/karena-ingat-pesan-ibuku-prinsip-layang-layang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">umi sumayyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengintip Rumah Tetangga</title>
		<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/mengintip-rumah-tetangga/</link>
		<comments>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/mengintip-rumah-tetangga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 00:48:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umi sumayyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sederhana nan Bermakna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/mengintip-rumah-tetangga/</guid>
		<description><![CDATA[Waktu itu aku diberitahu bahwa aku punya tetangga baru, sepasang suami istri juga. Dan seperti waktu aku baru datang ke gedung itu, ibu-ibu tetangga di lantai bawah mampir berkenalan ke rumahku, jadi aku pikir mungkin aku pun harus mampir berkenalan ke rumahnya berhubung dia lah tetangga terdekatku satu-satunya di lantai itu karena ruangan lain masih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=6&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Waktu itu aku diberitahu bahwa aku punya tetangga baru, sepasang suami istri juga. Dan seperti waktu aku baru datang ke gedung itu, ibu-ibu tetangga di lantai bawah mampir berkenalan ke rumahku, jadi aku pikir mungkin aku pun harus mampir berkenalan ke rumahnya berhubung dia lah tetangga terdekatku satu-satunya di lantai itu karena ruangan lain masih belum ada yang mengisi bahkan masih dibangun.</p>
<p>Tetangga baruku itu tidak menyewa ruangan seperti yang aku sewa. Tempat tinggalku, alhamdulillah, walaupun hanya sebesar kamarku di rumah orangtuaku dulu tetapi terdiri dari ruang tamu, kamar tidur, dapur dan kamar mandi. Sementara tetanggaku itu memilih tempat tinggal yang lebih kecil yang kalau boleh kusebut hanyalah sebuah kamar, bukan rumah. Kamar mandinya pun terpisah di luar. Dan di dekat kamar mandi itu ada sepetak tempat yang di situ lah ia bisa memasak.</p>
<p>Jadi… waktu suaminya nggak ada di rumah, kuketuklah pintunya sambil membayangkan betapa asyiknya aku akan bersahabat dengan tetangga baruku itu. Aku akan sering ngerumpi dengannya di sela-sela waktu kami di rumahnya atau di rumahku sambil menunggu suami kami pulang dari beraktivitas, pikirku. Wah bakalan seru deh kayaknya! Tetapi ketika dia membuka pintu itu, aku merasa dia berat hati sekali mengajakku masuk ke rumahnya. Sesekali dia melihat ke dalam dan sesekali dia melihatku. </p>
<p>“Lagi ngapain, ukhtiy [1]? Ganggu nggak nih?!” kataku membuka pembicaran di depan pintunya sambil sedikit celingak-celinguk. Siapa tahu saja dia sedang melakukan sesuatu yang kedatanganku membuatnya terganggu. Dan kalau memang begitu aku nggak masalah kok kalau harus pulang lagi, wong cuma sepuluh langkah.</p>
<p>“Ah, ndak apa-apa… Tapi afwan [2], lagi berantakan…” katanya sambil memiringkan badannya mempersilahkan aku untuk masuk. </p>
<p>Dan ketika aku masuk… Subhanallah, aku baru menyadari betapa konyolnya aku ini.</p>
<p>Ruangan itu hanya 4 x 4 dan aku berkunjung ke sana?! Di mana kau harapkan dia akan menyambutmu, tanyaku pada diri sendiri. Di ruang tamu dengan sofa dan meja bervas bunga?! Di ruang makan dengan kitchen set dan bar kecil menghadap ruang tamunya?! Di taman belakang rumah dengan pemandangan koleksi anggrek ungu di atas kolam ikan hiasnya?!</p>
<p>Subhanallah… kamar itu hanyalah kamar, yang berusaha dia dan suaminya jadikan sebuah ruang tidur dan sebuah lagi untuk ruangan lain, entah ruang apa yang cocok untuk namanya. Pembatasnya pun hanyalah sebuah kain batik yang tergantung dari ujung ke ujung yang walaupun cukup panjang dan lebar untuk menutupi kasur mereka tetapi sesekali kain itu tersibak angin dan nampaklah kasur kapuk tak bersprei itu. Sementara ruangan yang entah ruang apa namanya ini -tempat dia menerimaku sebagai tamu- penuh dengan alat-alat dapur dan barang-barang lainnya yang entah mau diletakkan di mana lagi. Bisa dibayangkan, kamar itu hanya 4 x 4 meter saja. Itu terlalu kecil untuk sebuah rumah tangga, apalagi sebuah keluarga karena sebulan lagi buah hati mereka akan lahir. Subhanallah…</p>
<p>Percakapan pun akhirnya aku persingkat karena khawatir dia merasa tidak nyaman dengan kehadiranku, dan kebetulan juga suaminya sudah pulang.</p>
<p>Dalam hati… subhanallah, betapa hidup ini adalah perjuangan. Semoga Allah memudahkan segala urusanku dan urusan mereka… Aamiin.</p>
<p>***</p>
<p>Siangnya suamiku pulang. Dan sambil menikmati makan siang aku menceritakan betapa salutnya aku terhadap tetangga baru kami itu kepada suamiku. Betapa sang istri adalah seorang yang qana’ah dalam menjalani hidup seperti yang kulihat di rumahnya dan betapa sang suami berbekal niat suci menikahinya karena Allah itu (insya Allah) sampai harus cuti dari kuliahnya dan berusaha kecil-kecilan untuk menghidupi keluarganya. Aku sungguh tidak menyangka ternyata ada juga orang yang hidup seperti itu (ini pujian, insya Allah).</p>
<p>Suamiku pun berdecak kagum dan sesekali menggeleng-geleng kepala membayangkan keadaan mereka. </p>
<p>Aku pun mengatakan kepada suamiku bahwa aku telah mengajak sang isteri untuk main ke rumah kami kalau saja dia merasa suntuk atau bosan sendirian, mungkin untuk memasak sama-sama di dapurku yang walaupun sederhana tetapi bertempat di dalam ruangan tertutup, aman dari laki-laki yang bukan mahromnya. Atau mungkin dia mau main ke rumah kami ini hanya sekedar untuk cari udara segar saja karena dia tidak memiliki kipas angin, sementara iki Suroboyo, rek! Dan ketika aku harus pulang karena suaminya datang, kukatakan pada suaminya itu untuk mengizinkan istrinya datang kerumah kami kapan saja bila dia membutuhkan sesuatu. </p>
<p>Alhamdulillah, suamiku ridha. Tapi di akhir ceritaku tentang tetangga baru kami itu, tiba-tiba suamiku berkata, “Kalau kita hidup kayak gitu, muti sanggup nggak ya?!”. Matanya menerawang jauh walaupun tertuju padaku. </p>
<p>Aku terdiam beberapa saat. Tak terlintas sedikit pun di pikiranku akan ada pertanyaan seperti itu. Aku pun berusaha membayangkannya, tapi tidak bisa. Lalu kukatakan pada suamiku, “Yah… mungkin memang seseorang itu dibebankan dengan sesuatu yang sesuai dengan kemampuannya. Mungkin segitu yang dikasih Allah buat dia ya karena Allah Tahu dia mampu. Dan segini yang dikasih Allah buat Muti ya karena mungkin seginilah mampunya Muti. Kalau Abang tanya ‘sanggup nggak Muti hidup kayak gitu?’ Ya kalau memang Muti dikasih Allah-nya kayak gitu ya berarti Muti sanggup, tapi kalau enggak ya mungkin enggak atau belum aja. Wallahua’lam.” </p>
<p>Suamiku pun mengangguk-ngangguk… </p>
<p>“Allah kan emang udah yang Maha Adil… Alhamdulillah ‘ala kulli hal.” sambungku. </p>
<p>“Alhamdulillah&#8230;” sahut suamiku sambil melanjutkan makan siangnya. </p>
<p>Aku pun melanjutkan makanku juga, dan berkata lagi, “Iya, alhamdulillah… gitu-gitu tidurnya di kasur lho dia!”</p>
<p>Suamiku melirikku. “Maksudnya?!” tanyanya sambil nyengir. Rupanya suamiku kesindir, soalnya tempat tidur kami yang dibelinya di Pasar Turi itu (hanya) kasur tipis yang brunjul-brunjul itu lho, entah apa istilahnya. </p>
<p>Sambil nyengir aku pun menjawab, “He he… maksud muti, belum tentu dia sanggup kalo nggak punya kasur. Tapi kalau muti sih Alhamdulillah.”</p>
<p>“Ooo….” Kata suamiku menahan senyum sambil mengangguk-ngangguk. </p>
<p>***</p>
<p>Laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa… Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya [Al Qur’an, Surat Al Baqarah ayat 286]</p>
<p>-Mutiara-</p>
<p>*Footnote<br />1. Ukhtiy: saudariku (bahasa Arab)<br />2. Afwan: maafkanlah saya (bahasa Arab)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mutiarasuamiku.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mutiarasuamiku.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarasuamiku.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarasuamiku.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarasuamiku.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarasuamiku.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=6&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/mengintip-rumah-tetangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">umi sumayyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jazakallahu khayr ya zawjiy…</title>
		<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/jazakallahu-khayr-ya-zawjiy%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/jazakallahu-khayr-ya-zawjiy%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 00:47:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umi sumayyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sederhana nan Bermakna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/jazakallahu-khayr-ya-zawjiy%e2%80%a6/</guid>
		<description><![CDATA[Rumah kontrakan ini walau tidak besar tapi juga tidak kecil. Tidak lebih baik dari rumah di sekitarnya tapi juga tidak buruk sama sekali. Aku dan suamiku datang ke kota ini tidaklah dengan membawa harta yang berlebih sedikit pun, namun demikian hidup kami tidaklah berkekurangan. Alhamdulillah `ala kulli hal… segala puji bagi Allah atas setiap keadaan.
Suamiku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=5&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Rumah kontrakan ini walau tidak besar tapi juga tidak kecil. Tidak lebih baik dari rumah di sekitarnya tapi juga tidak buruk sama sekali. Aku dan suamiku datang ke kota ini tidaklah dengan membawa harta yang berlebih sedikit pun, namun demikian hidup kami tidaklah berkekurangan. Alhamdulillah `ala kulli hal… segala puji bagi Allah atas setiap keadaan.</p>
<p>Suamiku setiap hari berangkat menuntut ilmu di sebuah ma`had (lembaga) yang cukup dikenal di kota ini untuk belajar Bahasa Arab. Jaraknya tidak dekat tapi juga tidak terlalu jauh, sekitar setengah jam kalau naik sepeda. “Yah, hitung-hitung olahraga…”, kata suamiku ketika akhirnya memilih rumah ini untuk kami sewa daripada sepetak kamar kos yang lebih kecil walaupun lebih dekat dari ma`had tersebut. Bagi suamiku, yang penting rumah itu nyaman untukku karena akulah yang akan selalu berada di sana. Kata suamiku, sebaik-baik tempat wanita adalah di rumahnya [1], maka yang paling baik adalah menempatkannya di tempat yang baik pula baginya. Jadi… di sinilah aku ditempatkan suamiku, di sebaik-baik tempat yang baik bagiku, insya Allah. Alhamdulillah, suamiku tidaklah menyia-nyiakanku, insya Allah.</p>
<p>Sebenarnya aku tidak menuntut apa-apa dari suamiku. Aku hanya ingin berada di dekatnya karena sebelumnya kami tinggal di kota yang berbeda. Aku hanya ingin memainkan peranku sebagai seorang istri. Aku hanya ingin punya alasan untuk bangun lebih cepat dan membuatkannya sarapan pagi, bikin teh atau kopi, menyiapkan pakaiannya sebelum ia berangkat kuliah ataupun segala keperluannya yang lain setiap hari. Karena Rasulullah –shallallahu `alayhi wa sallam– bersabda bahw siapapun wanita yang meninggal dunia sedang suaminya meridhainya maka dia akan masuk surga [2].</p>
<p>Subhanallah, tidaklah aku ingin punya suami dan melakukan apa pun yang seorang istri harus lakukan untuk mendapatkan ridha suaminya melainkan karena mengharapkan imbalan seperti yang disebutkan hadits tersebut, insya Allah. Menikah itu kan bukan hanya tentang berbakti kepada Allah -hanya karena bila kita menikah maka kita telah menyempuranakan setengah agama [3]- tetapi menikah itu juga tentang berbakti kepada suami karena ketika Allah memberikan syarat bagi wanita mana saja yang taat kepadaNya DAN taat pula kepada suaminya, maka Allah mengizinkannya memasuki surga dari pintu manapun yang ia suka [4]. Subhanallah! </p>
<p>Dan sampai saat ini, ayat-ayat Al Quran dan hadits-hadits Nabi -shalallahu &#8216;alayhi wasallam- yang pernah kubaca selalu mendefinisikan ‘wanita sholihah’ itu sebagai wanita yang taat kepada suami, yang selalu menyenangkan suami, dan segala hal yang berhubungan suami. Yang berarti wanita sholihah itu adalah wanita yang sudah menikah alias seorang isteri! Merekalah yang kemudian dijanjikan surga oleh Allah. Wallahua’lam. </p>
<p>Jadi bagaimana mungkin aku tidak ingin selalu bersama suamiku?! Sementara ia adalah yang dapat membuatku menjadi salah seorang di antara para wanita sholihah itu. Suamikulah kunciku menuju surga, insya Allah. Maka di sisinyalah aku ingin berada. Insya Allah, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. </p>
<p>Jazakallahu khayr ya zawjiy [5]. </p>
<p>Aku tahu… butuh kesiapan mental, spiritual dan juga finansial bagimu untuk bisa mengajakku hidup mandiri di sini. Tapi kalau dinda sih… ehm, asalkan ada Abang…</p>
<p>***</p>
<p>Mutiara, Zawjah Alfi Khair<br />Surabaya, Indonesia</p>
<p>*Footnote:<br />1. Al Qur`an Surat Al Ahzab Ayat 33<br />2. Hadits Riwayat Ibnu Majah<br />3. Hadits Riwayat Al Hakim<br />4. Hadits Ath-Thabrani<br />5. Jazakallahu khayr ya zawjiy: semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, wahai suamiku (bahasa Arab)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mutiarasuamiku.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mutiarasuamiku.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarasuamiku.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarasuamiku.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarasuamiku.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarasuamiku.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=5&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/jazakallahu-khayr-ya-zawjiy%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">umi sumayyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mutiara Nasehat</title>
		<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/mutiara-nasehat/</link>
		<comments>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/mutiara-nasehat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 00:46:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umi sumayyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/mutiara-nasehat/</guid>
		<description><![CDATA[Dikutip dari www.mutiaraku.cjb.net ketika suamiku menikahiku:
MUTIARA NASEHAT‘tuk calon Istriku dan semua wanita yang ingin menjadi istri sholihah…
Nabi -shalallahu &#8216;alayhi wasallam- bersabda:
&#8220;Dunia itu seluruhnya perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri sholihah&#8221; (Hadits Riwayat Muslim)
&#8220;Tiada kekayaan yg diambil seorang mukmin setelah takwa kepada Allah yang lebih baik dari istri sholihah; jika dia menyuruhnya iapun taat, jika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=4&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dikutip dari www.mutiaraku.cjb.net ketika suamiku menikahiku:</p>
<p>MUTIARA NASEHAT<br />‘tuk calon Istriku dan semua wanita yang ingin menjadi istri sholihah…</p>
<p>Nabi -shalallahu &#8216;alayhi wasallam- bersabda:</p>
<p>&#8220;Dunia itu seluruhnya perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri sholihah&#8221; (Hadits Riwayat Muslim)</p>
<p>&#8220;Tiada kekayaan yg diambil seorang mukmin setelah takwa kepada Allah yang lebih baik dari istri sholihah; jika dia menyuruhnya iapun taat, jika dilihat menyenangkan dan jika diberi mau berterima kasih, dan jika suaminya pergi maka dia menjaga dirinya dan harta suaminya.&#8221; (Hadits Riwayat Ibn Majah) </p>
<p>&#8220;Sungguh wanita yang terbaik di antara wanita kamu ialah yang subur, besar cintanya, teguh memegang rahasia, tabah menderita dalam mengurus keluarganya, patuh terhadap suaminya, membentengi diri dari laki-laki lain, mau mendengar ucapan suami dan menaati perintahnya, dan bila bersendirian dengan suaminya, ia pasrahkan dirinya pada kehendak suaminya, serta tidak berlaku dingin kepada suaminya, seperti sikap dinginnya laki-laki&#8221; (Hadits Riwayat Thusy) </p>
<p>Nasihat Umamah binti Harits kepada putrinya Ummu Iyyas bin ‘Auf ketika dipinang oleh Amr bin Hijr, Raja Kindah: </p>
<p>&#8220;Wahai putriku, sekiranya memberi nasihat boleh ditinggalkan, maka aku tinggalkan untukmu. Nasihat itu merupakan peringatan bagi yang lain dan pertolongan bagi yang berakal sekalipun seorang perempuan tidak memerlukan harta suaminya karena orangtuanya sudah kaya. Dan aku adalah orang yang paling tidak memerlukan itu semua, tetapi perempuan itu diciptakan untuk laki-laki dan sebaliknya. </p>
<p>Wahai putriku, engkau keluar menghadapi suasana baru dan tempat baru yang belum pernah engkau kenal liku-likunya. Engkau juga menghadapi sahabat baru yang liku-likunya tidak engkau kenal sebelumnya. Akan tetapi, suamimu dengan kekuasaannya akan dapat menguasai dan mengawasi dirimu. Oleh karena itu, jadilah kamu laksana seorang budak, dia pun tentu akan menjadi budak bagi dirimu dan teman kesayanganmu. </p>
<p>Jagalah dengan baik 10 sifat, niscaya engkau menjadi penyuluh. </p>
<p>Pertama dan kedua, hendaklah kamu bersifat tenang dan menerima apa adanya serta mau mendengar dan taat. </p>
<p>Ketiga dan keempat, hendaklah kamu menjaga dengan baik mata dan hidungnya, agar dia tidak sampai melihat hal tidak baik pada dirimu; seperti jorok, dan jangan sampai mencium bau tidak enak dari dirimu. Oleh karena itu, engkau harus selalu wangi. </p>
<p>Kelima dan keenam, jagalah baik-baik waktu tidurnya dan waktu makannya. Bila perutnya benar-benar sudah merasa lapar, ia mudah tersinggung. Dan bila tidurnya terganggu, ia akan mudah marah. </p>
<p>Ketujuh dan kedelapan, hendaklah engkau jaga hartanya, perhatikan pelayan dan keluarganya. Seseorang dikatakan tidak menjaga hartanya dengan baik bila tidak pandai mengatur pembelanjaannya, dinamakan tidak memperhatikan pelayan dan keluarganya bila tidak pandai mengurusnya. </p>
<p>Kesembilan dan kesepuluh, janganlah engkau durhaka kepada perintahnya dan membuka rahasianya. Kalau engkau menyalahi perintahnya, hatinya akan menjadi panas. Dan kalau engkau buka rahasianya, engkau membuatnya tidak percaya kepadamu dan tidak merasa aman darimu. Janganlah kamu sekali-kali bergembira ria di kala dia sedang murung, dan jangan kamu murung di kala dia sedang bergembira ria..&#8221; (Fiqh Sunnah 2:200) </p>
<p>Dan apakah ganjaran bagi istri sholihah? Rasulullah -shalallhu &#8216;alayhi wa sallam- bersabda: </p>
<p>&#8220;Bila seorang wanita sholat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka ia akan memasuki surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.&#8221; (Hadits Riwayat Thabrani)</p>
<p>Selamat berjuang tuk jadi istri yg sholihah!</p>
<p>Sungguh hidup itu penuh dengan perjuangan…</p>
<p>-Alfi Khair-</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mutiarasuamiku.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mutiarasuamiku.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarasuamiku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarasuamiku.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarasuamiku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarasuamiku.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=4&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/mutiara-nasehat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">umi sumayyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Assalaamu&#8217;alaykum</title>
		<link>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/assalaamualaykum/</link>
		<comments>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/assalaamualaykum/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 00:44:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>umi sumayyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Awal Mula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/assalaamualaykum/</guid>
		<description><![CDATA[InnalhamdaliLlah, nahmaduHu wa nastaghfiruHu, wa na’udzubiLlahi min syururi anfusina, wa min sayyi-ati a’malina. Man yahdihiLlahu fala mudhiLlalahu, wa man yudhlil fa la hadiyalahu. Asyhadu allaa ilaaha illaLlahu wahdaHu laa syarikalaHu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduHu wa rasuluHu –shallallahu ‘alayhi wa sallam-.
(Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah, kita memujiNya dan memohon ampunanNya, dan kita berlindung dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=3&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>InnalhamdaliLlah, nahmaduHu wa nastaghfiruHu, wa na’udzubiLlahi min syururi anfusina, wa min sayyi-ati a’malina. Man yahdihiLlahu fala mudhiLlalahu, wa man yudhlil fa la hadiyalahu. Asyhadu allaa ilaaha illaLlahu wahdaHu laa syarikalaHu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduHu wa rasuluHu –shallallahu ‘alayhi wa sallam-.</p>
<p>(Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah, kita memujiNya dan memohon ampunanNya, dan kita berlindung dari kejahatan diri kita sendiri dan keburukan amal kita. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk padanya maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkanNya maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah yang tidak ada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad (adalah) hambaNya dan RasulNya –shalawat atas beliau dan salam-.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mutiarasuamiku.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mutiarasuamiku.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarasuamiku.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarasuamiku.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarasuamiku.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarasuamiku.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarasuamiku.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarasuamiku.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarasuamiku.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarasuamiku.wordpress.com&blog=5978974&post=3&subd=mutiarasuamiku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarasuamiku.wordpress.com/2006/12/26/assalaamualaykum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">umi sumayyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>